
Sakti menjatuhkan pantatnya di bangku kemudi. Melihat kekasihnya diam seribu bahasa, perlahan Sakti mencondongkan tubuhnya ke arah kekasihnya.
Cinta terpaku saat melihat wajah Sakti tepat di hadapannya wajahnya. Bahkan Cinta dapat merasakan hembusan napas pria di hadapannya tersebut.
"M-mas, ka-kamu mau apa?" tanya Cinta gugup.
Sakti tersenyum lalu mendekatkan wajahnya lagi sampai hidungnya bersentuhan dengan hidung Cinta.
Deg.
Jantung Cinta seperti berhenti berdetak. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi keningnya.
Otaknya mulai traveling membayangkan beberapa film drakor percintaan yang pernah dia tonton.
'Apa Mas Sakti mau menciiumku, seperti di drakor? Ya, Tuhan, baru saja kemarin aku resmi berpacaran dengan Mas Sakti, dan sekarang ... dia mau menciiumku. Jantungku, ada apa dengan jantungku? Aku kira, jantungku berhenti berdetak, tapi kenapa justru berdetak kencang sekali? Aku takut Mas Sakti mendengar detak jantungku. Aku harus bagaimana?' batin Cinta memalingkan pandangannya.
"Wajahmu merah merona." ucap Sakti yang lagi dan lagi membuat Cinta tersipu malu.
Melihat wajah kekasihnya semakin memerah, akhirnya Sakti menyudahi dramanya. Perlahan tangan Sakti melingkar dan memasangkan seatbelt untuk Cinta.
"Seatbelt nya." ucap Sakti, "Sudah!" sambungnya lagi.
Cinta tersenyum sembari membuang wajahnya ke arah pepohonan di pinggir jalan. Jantungnya terus berdegup kencang.
'Ya, Tuhan, jangan sampai Mas Sakti mendengar suara jantungku yang mau copot ini. Huuuu ... aku senang sekali! Aku bisa mendapatkan pria seperti Mas Sakti yang sangat dan sangat perhatian. Ingin rasanya aku berguling-guling di kasur dan berteriak kepada langit-langit kamar, kalau aku sangat beruntung mempunyai kekasih seperti Mas sakti.' batin Cinta.
Sakti mengendarai mobilnya dengan pelan. Sesekali ekor matanya menatap ke arah kekasihnya yang terus memalingkan wajahnya.
"Sayang?" tanya Sakti membuat Cinta terkejut.
"Iy-iya, Mas?" jawab Cinta yang tak sengaja menatap wajah kekasihnya.
"Kenapa, hem?" tanya Sakti lagi sembari menggenggam jemari Cinta erat. "Aku lihat, wajahmu merah merona."
"Sudah deh, Mas. Jangan menggodaku lagi. Wajahku tidak merah. Kamu ngarang cerita terus!"
__ADS_1
"Siapa yang mengarang cerita, Hem? Aku mengatakan yang sejujurnya. Biar aku bukakan cermin dulu!" titah Sakti melepas genggaman tangannya.
"Jangan," cegah Cinta menarik tangan kekasihnya dan menggenggam nya erat. "Tidak perlu. Aku malu, Mas!"
"Malu? Malu kenapa, hem? Apa aku membuat kesalahan?"
"Tidak. Tapi kamu selalu membuat jantungku berdetak kencang-- ups!" ucap Cinta yang tak sengaja. 'Aduh, kenapa mulut ini tidak bisa di kondisikan, sih!' batinnya.
Sakti tertawa saat mendengar jawaban yang tak masuk akal di otaknya.
"Jadi, aku membuat jantungmu terus berdegup kencang?" goda Sakti melepas genggaman tangannya.
"Kenapa di lepas, Mas? Pasti kamu ilfil ya, saat mendengar jawabanku yang tidak masuk akal? Semua ini karena mulutku yang tidak bisa di kontrol. Maafkan aku, Mas. Lain kali, aku tidak--"
"Hust, aku tidak ilfil. Di depan sana, ada lampu merah. Aku harus gunakan ke dua tanganku ini. Aku tidak mau membuat kekasihku celaka, sayang!" jawab Sakti.
Lagi dan lagi Cinta tersipu malu. 'Ya, Tuhan. Aku terlalu agresif. Aku sampai lupa, kalau di depan sana ada lampu merah. Pasti mukaku sekarang seperti kepiting rebus. Huuu ... aku benci moment-moment ini. Besok, aku harus berjemur. Lebih baik kulitku menghitam dan Mas Sakti tidak akan melihat rona merah di wajahku, tapi kalau wajahku jelek, bagaimana? Bukankah, pria jaman sekarang selalu mencari wanita yang cantik dan berkulit putih? Tidak ada cara lain. Aku harus stok masker.' batin Cinta sembari menganggukkan kepalanya.
Sakti menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berwarna merah. Dia melihat kekasihnya sedang menganggukkan kepalanya.
"Tidak, memangnya kenapa, Mas?" tanyanya.
"Aku melihat kepalamu yang terus mengangguk. Aku takut terjadi sesuatu padamu, sayang."
'Ah, hari ini hari tersialku! Bagaimana bisa, kepalaku bergerak sendiri! Aku bisa gila jika berlama-lama bersama Mas sakti.' batin Cinta yang terus menampilkan senyum manisnya.
"Cinta, kamu baik-baik saja, kan?"
"A-aku baik-baik saja, Mas. Tadi kepalaku hanya--" ucapan Cinta terjeda, dia memikirkan alasan yang menurutnya masuk akal. 'Alasan apalagi yang harus aku ucapkan.' batinnya frustrasi.
"Bersikaplah seperti biasa saja, Cin. Aku menyukaimu yang apa adanya." titah Sakti.
"Tapi aku bukan apa adanya, Mas. Terkadang sikapku menyebalkan dan memalukan." jawab Cinta lirih.
"Iya, itu maksudku. Bersikaplah seperti biasa."
__ADS_1
"Mas Sakti tidak malu mempunyai kekasih sepertiku yang memalukan dan menyebalkan? Aku takut, di belakangku Mas Sakti ilfill." ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya.
Sakti mengacak-acak rambut kekasihnya dengan lembut. "Aku gemas padamu." kekehnya.
"Huu ... Mas Sakti, rambutku jadi berantakan, kan? Aku harus merapikannya. Aku tidak mau, Bu Desi memarahiku. Supervisor yang satu itu membuatku frustrasi. Aku selalu di suruh merangkap beberapa mesin."
"Aku akan tegur dia, nanti. Bila perlu, aku pecat dia!" jawab Sakti santai.
"Tidak perlu, Mas. Kamu tidak perlu memecatnya. Kasihan Bu Desi. Dan kamu tidak bisa memecatnya semudah itu. Kamu ini bukan CEO atau pemilik perusahaan. Kita hanya karyawan biasa. Mana mungkin, kamu bisa memecat orang!"
"Benar juga, aku hanya karyawan biasa. Tapi aku tidak terima jika kekasihku ini di peras tenaganya."
"Sudah menjadi tuntutan pekerjaan, Mas. Banyak orang yang menganggur. Jadi, aku harus bersyukur saja." jawab Cinta dengan bijak.
Sakti menarik gas mobilnya lagi setelah lampu berubah warna menjadi hijau.
"Aku beruntung mempunyai kekasih sepertimu, Cin!" ucapnya tulus.
"Aku yang beruntung mempunyai kekasih sepertimu, Mas. Kenapa kamu tertarik padaku? Sedangkan banyak wanita di kantor yang lebih cantik dariku." tanya Cinta penasaran.
"Entah, aku juga tidak tahu, kenapa aku tertarik padamu. Awal pertama kita bertemu, kau sudah membuat kesalahan dengan memberikan data yang salah dan kau menumpahkan kopiku di atas data tersebut. Mungkin karena itu, aku tertarik denganmu." jawab Sakti.
"Itu artinya, kamu dendam padaku, Mas? Jangan-jangan seperti di film drakor, kamu menjadikanku kekasih karena dendam? Aduh, Mas, aku mohon ... jangan dendam padaku. Aku rela kita putus tapi aku--"
"Hei, otakmu selalu berpikir di luar nalar. Tidak mungkin aku dendam padamu, Cin. Aku tertarik padamu karena kau tipe orang yang menyenangkan." potong Sakti.
"Iya, banyak yang bilang, kalau aku tipe orang yang mudah bergaul dan banyak teman yang bilang, kalau mulutku susah di rem."
"Itu keistimewaan dalam dirimu." jawab Sakti.
"Mana ada, Mas! Itu kekuranganku. Stop! Sampai depan sana saja. Aku tidak mau orang-orang tahu kalau aku turun dari mobilmu." titah Cinta.
"Tapi, Cin--"
"Mas, aku mencintaimu dan aku tidak mau hubungan ini di hancurkan oleh pihak ke tiga!" potong Cinta meyakinkan kekasihnya.
__ADS_1