
Sakti berjalan menuju Cinta dan Bu Desi berada di ikuti oleh Delon di belakangnya.
"Sedang apa kalian?" tanya Sakti membuat Bu Desi tersenyum sinis.
"Pak Sakti. Saya sedang menegur satu karyawan yang ketahuan bersembunyi dan bermain ponsel." jawab Bu Desi.
Cinta menundukkan kepalanya, "Ma-maaf," lirihnya.
Beberapa teman-temannya yang melihat kejadian ini pun langsung menghentikan pekerjaannya dan melihat amarah dari karyawan kantor.
"Biasanya, kalau sudah seperti ini, pasti karyawan pabrik yang mundur alias mengundurkan diri." timpal salah satu wanita yang sedang menggosok.
"Iya, sebelumnya wanita itu juga menabrak Pak Sakti." jawabnya yang tak kalah berbisik.
Mendengar bisikan-bisikan dari beberapa karyawan, akhirnya Sakti meminta Cinta untuk ikut dengannya.
"Ikut aku! Dan Bu Desi, lanjutkan pekerjaanmu, tapi lain kali, kau tidak perlu membentaknya. Tegurlah dengan baik. Aku tahu, dia salah, tapi jika kau menegurnya dengan baik. Maka kejadiannya tidak sampai seperti ini. Kalian sudah seperti keluarga. Kerukunan di sebuah pabrik apalagi line itu perlu. Agar pekerja merasa nyaman dan pekerjaan pun bisa terselesaikan sebelum deadline. Beberapa pekerja memang susah di kendalikan, tapi bersikaplah dengan bijak!" ucap Sakti kemudian berjalan menuju pintu keluar pabrik di ikuti oleh Delon di belakangnya.
"Ikutlah, kenapa kau di sini saja? Apa kau tidak takut di pecat? Sekarang, susah sekali mencari pekerjaan." titah wanita yang sedang menggosok pada Cinta.
Dengan penuh keraguan, Cinta melangkahkan kakinya mengikuti Sakti.
'Apa Mas Sakti akan memecatku? Aku memang salah, aku sudah melakukan beberapa kesalahan, tapi aku butuh pekerjaan ini. Dewa pasti ngamuk kalau tahu aku di pecat. Maafkan aku, Wa. Jika aku benar-benar di pecat, aku rela menjadi asisten rumah tangga mu asalkan jangan usir aku dari rumahmu. Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain kamu, hiks ... hiks ....' jerit Cinta sembari mengusap air matanya yang mengalir.
Sakti masuk ke dalam ruang kerjanya dan memerintahkan Delon untuk kembali ke ruang kerjanya.
"Kembalilah ke ruang kerjamu. Setelah selesai aku menegur Cinta, aku akan menemuimu dan kita lanjutkan pemeriksaan di pabrik." titahnya yang di setujui oleh Delon.
"Baiklah. Aku juga perlu meredakan tenggorokanku dan merilekskan telingaku. Suasana di pabrik sangat bising." jawab Delon lalu menatap sekilas ke arah Cinta. "Lain kali, jika bekerja, bekerjalah yang benar. Semoga saja, atasanmu ini mau memberikan solusi selain memecatmu." titahnya lagi pada Cinta.
Cinta hanya menunduk sembari menghapus air matanya yang mulai menetes.
__ADS_1
"Pergilah, jangan membuatnya takut!" titah Sakti.
Delon melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
Melihat kepergian Delon, Sakti segera meminta kekasihnya untuk duduk.
"Duduklah," titah Sakti yang terdengar begitu tegas.
Cinta menjatuhkan pantatnya di bangku yang berhadapan dengan atasannya tersebut sembari menundukkan kepalanya.
"Kenapa, Hem?" titah Sakti yang mendapat gelengan kecil dari kekasihnya. "Aku tidak akan memecatmu. Jadi, jangan menangis." ucapnya lagi sembari tangannya terulur menghapus air mata Cinta.
"A-aku takut di pecat." ucapnya lirih. "Jangan pecat aku, Mas. Aku masih mempunyai beban hidupku sendiri. Aku minta maaf, aku sudah menabrakmu dan aku bersembunyi untuk membalas pesanmu. Seharusnya, aku tidak melakukan itu."
"Tidak apa-apa. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan memecatmu, jangan menangis lagi, ya!" titah Sakti lembut.
"Janji, Mas?" ucap Cinta yang perlahan mendongakkan wajahnya.
"Iya, aku janji sayang. Sudah dong, jangan menangis lagi. Lebih baik kamu istirahat di ruanganku saja. Lihat keringat di keningmu."
"Baiklah, aku pegang janjimu, tapi untuk kali ini, jangan bantah perintahku. Istirahatlah di sini, kebetulan aku mempunyai minuman dingin. Suasana di pabrik sangat bising dan panas, sayang. Duduklah di sofa." titah Sakti.
"Ta-tapi Mas, kalau semua orang curiga bagaimana? Kalau Mas Sakti di pecat karena aku, bagaimana? Kasihan Mas Sakti, dong?"
"Aku tidak mungkin di pecat." jawab Sakti beranjak dari tempat duduknya dan mengambil beberapa minuman dingin yang di simpannya di kulkas, lalu berjalan menuju sofa di ikuti oleh Cinta di belakangnya.
Mereka berdua menjatuhkan pantatnya di sofa sembari meminum minuman dingin.
"Bagaimana? Tenggorokanmu pasti kering," ucap Sakti sembari membenarkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah kekasihnya.
"Enak, Mas." jawabnya.
__ADS_1
"Apa perlu, aku belikan makanan untukmu? Pagi tadi, aku melihat sarapan pagimu masih tersisa. Sekarang, aku belikan makanan untukmu, ya!"
"Tidak perlu. Kamu tidak perlu membelikanku makanan. Aku tidak mau gemuk, Mas. Nanti kamu berpaling dariku, kalau aku gemuk." jawab Cinta meneguk minuman dinginnya.
Sakti terkekeh saat mendengar jawaban kekasihnya yang begitu menggemaskan.
"Baiklah, Nona. Kali ini, aku akan menuruti semua permintaanmu. Karena aku tidak bisa memaksamu di lingkungan kerja, tapi jika pacarku ini lelah atau tidak sanggup bekerja, pergilah ke ruanganku."
"Untuk apa pergi ke ruanganmu, Mas? Untuk minum?" tanya Cinta polos.
"Iya, lalu kamu bisa istirahat sejenak."
"Tidak perlu, Mas. Nanti orang-orang mencariku. Apalagi Mas Nunu, dia mekanik yang selalu memperhatikan keberadaanku. Bisa-bisa hubungan kita tercium olehnya." jawab Cinta.
"Bagus, sayang. Biar dia tahu, kamu itu milikku. Sebenarnya, aku juga tidak suka melihat kedekatanmu dengan mekanik itu. Tapi aku harus profesional dalam bekerja." keluh Sakti.
"Kalau seperti ini, kamu profesional tidak, Mas? Kamu memintaku untuk duduk di sofa lalu menawarkan makanan serta minuman. Padahal, semua orang di pabrik berpikir, kalau aku akan di pecat." ucap Cinta meletakkan kaleng kosongnya di atas meja. "Em ... tunggu dulu, apa jangan-jangan, setiap karyawan yang kamu panggil, selalu--"
"Hei, tidak mungkin. Aku hanya melakukan ini padamu, Cin." potong Sakti.
"Benarkah? Aku perlu bukti." ucap Cinta sembari menyilangkan ke dua tangannya di dadda.
Sakti menautkan kedua alisnya, "Sejak kapan, pacarku menjadi wanita yang overprotektif, hem?" godanya sembari menarik tubuh Cinta ke dalam pelukan. Berulang kali Sakti menciium pucuk kepala Cinta dengan lembut.
"Mas, jangan peluk-peluk. Aku tidak mau yang lainnya tahu."
"Tidak ada yang tahu, pintu pun tertutup rapat." jawab Sakti santai.
"Tapi tubuhku bau, Mas. Aku tidak mau pakaianmu bau keringatku."
"Aku tidak memperdulikannya, sayang. Sekarang yang aku inginkan hanya berada di sisimu. Oh, iya, apa perlu aku memecat Bu Desi? Dia sudah membentakmu di depan umum." tanya Sakti melepas pelukannya dan menatap lekat wajah kekasihnya.
__ADS_1
"Tidak perlu, Mas Sakti." jawab Cinta sembari mencubit pipi kekasihnya dengan gemas.
"Aw ..."