
"Huh, baiklah. Aku akan turunkan kamu di depan pabrik." jawab Sakti dengan pasrah.
Perlahan mobil Sakti berhenti tepat di depan pabrik.
Cinta tersenyum sembari melepas seatbelt nya.
Senyumnya pudar saat merasakan seatbelt nya tidak bisa di buka.
Sakti menautkan ke dua alisnya saat melihat tangan kekasihnya berupaya keras melepas seatbelt nya.
"Cinta, jangan sungkan padaku. Aku ini kekasihmu."
"Aku tidak sungkan, Mas, tapi aku sedang berusaha. Kamu saja yang terus menolongku. Jika seperti ini, bisa-bisa aku bergantung padamu." jawab Cinta membuka pintu mobil. "Kamu hati-hati, Mas. Dan sampai ketemu lagi!"
"Cinta, tunggu dulu!" titah Sakti yang langsung menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukan.
Cinta terpaku saat mendapatkan pelukan dari kekasihnya. Perlahan tangannya membalas pelukan tersebut.
"Mas, jangan seperti ini, aku takut orang-orang kantor atau pabrik melihat kita."
"Tidak perlu takut. Aku butuh ketenangan sebentar saja." ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.
"M-mas, kamu kenapa, hem? Apa ada masalah di kantor? Apa hari-hari yang kamu lewati--" ucapan Cinta terhenti saat Sakti melepas pelukannya.
"Aku tidak apa-apa. Turunlah. Dan jika sudah masuk ke dalam pabrik, tolong hubungi aku. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Oh iya, satu lagi, aku akan tegur Bu Desi supaya tidak memberatkan pekerjaanmu."
"Tidak perlu, Mas. Kamu tidak perlu menegur Bu Desi. Aku tidak mau kamu mendapatkan masalah baru dan aku takut kamu di pecat. Ini sudah menjadi resikoku. Aku kuat, aku bisa menghadapi semuanya. Buktinya, kamu selalu lihat aku tersenyum kan?" jawab Cinta yang menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Sakti mencubit gemas pipi kekasihnya, "Em ... wajahmu begitu menggemaskan. Aku sangat beruntung mempunyai kekasih yang menggemaskan sepertimu. Baiklah, kita sudahi obrolan ini dan jangan lupa jam makan siang dan jam pulang."
"Jam makan siang dan jam pulang? Memangnya, kita ada janji di jam itu, Mas? Kapan? Kenapa aku tidak mengingatnya? Kelihatannya, aku butuh cuti untuk membersihkan otakku. Maafkan aku yang tak bisa mengingat hal sepenting ini." ucap Cinta lalu memukul ringan kepalanya. "Ish, otak! Lain kali, kau harus mengingat acara penting ini." ucapnya monolog.
Sakti menghentikan tangan Cinta yang tengah memukul ringan kepalanya.
"Jangan, Cinta. Otakmu tidak salah. Aku saja yang baru memberitahumu."
"Benar, Mas? Otakku tidak salah? Aku belum pikun?" tanya Cinta memastikan.
"Iya, kamu belum pikun. Okeh, akan ku beritahu sekarang juga. Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan menemani makan siang dan mengantarkan pulang wanita cantik di sampingku. Aku tidak akan membiarkan pria manapun menyentuhhmu." ucap Sakti kemudian menarik hidung Cinta.
__ADS_1
"Aw ... Mas, Mas, jangan jadikan aku boneka berhidung panjang." titah Cinta menarik tangan kekasihnya.
"Tapi kau mau, kan? Aku antar kamu pulang dan--"
"No, Mas! Aku malu, teman-temanku akan berpikir, kalau aku hanya memanfaatkanmu." potong Cinta.
"Biarkan saja. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di antara kita, sayang. Atau perlu aku antar ke dalam?" tawar Sakti yang mendapat gelengan kecil dari Cinta.
"Tidak! Aku turun, Mas!" ucap Cinta keluar dari mobil.
Tangannya melambai memberi salam perpisahan.
Sakti melajukan mobilnya masuk ke dalam kawasan pabrik.
"Huh!" hembusan kasar napas Cinta terdengar seperti orang yang tengah frustrasi. "Hulala ... aku senang sekali! Kalian tertipu! Aku bahagia!" pekik Cinta sembari menari di pinggir jalan. "Aku senang, aku senang! Akhirnya, aku mempunyai kekasih yang sangat perhatian dan perduli padaku. Hei, semua orang! Aku senang!" pekiknya lagi.
Tin ...
Tin ....
Suara klakson mobil membuat Cinta terkejut dan menghentikan tariannya.
"Dewa! Aku terkejut tahu!" gerutunya.
"Aku pikir, wanita gila tidak bisa terkejut, ternyata aku salah," sindirnya lagi.
"Enak saja, siapa yang gila, ha! Aku tidak gila. Kamu yang gila! Klakson mobil sembarangan!" kesalnya.
"Aku gila? Hei, seharusnya kau berterimakasih padaku. Karenaku, kau selamat! Hampir saja, kau menabrak pohon di depan sana!" ketus Dewa membuat Cinta menatap pohon besar yang berada tak jauh darinya.
"Hem, terimakasih." ucapnya.
"Masuk ke mobilku sekarang, juga!" titah Dewa yang mendapat gelengan dari sahabatnya.
"Aku tidak mau, aku harus pergi bekerja." tolaknya.
"Sebentar saja, cepat masuk!" titahnya lagi.
Dengan perasaan kesal. Cinta berjalan beberapa langkah dan membuka pintu mobil sahabatnya.
__ADS_1
"Apa?" tanyanya setelah menjatuhkan pantatnya di bangku samping kemudi.
"Ini!" titah Dewa memberikan selembar kertas.
"Itu apa?" tanya Cinta penasaran.
"Tugasmu. Memangnya apalagi, hem? Malam ini, aku tidak pulang. Jadi, aku berikan tugas dan aku mau ... besok pagi, setelah aku pulang, semuanya sudah beres!" titah Dewa.
"Tumben sekali tidak pulang rumah. Seharusnya, semalam kau tidak pulang. Jadi, kita tidak perlu berbagi tempat tidur!" sindir Cinta meraih kertas tersebut.
Matanya membulat sempurna saat melihat lipatan panjang kertas yang diberikan sahabatnya.
"Kau gila?" pekik Cinta tak percaya, "Aku harus menyelesaikan semua ini dalam hitungan jam? Dewa, aku tahu, kau tipe pria yang semuanya harus sempurna, tapi tidak seperti ini juga. Ini namanya, kamu memeras tenagaku. Aku tidak mau!" ketus Cinta.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau. Aku bisa bicara dengan pacarmu itu, kalau semalam kita tidur satu ranjang. Pasti, pacarmu akan--"
"Hei, tapi kita hanya tidur dan tidak melakukan apapun. Jangan membuat berita hoax! Aku baru saja bahagia, jangan merusak kebahagiaanku!" timpal Cinta.
"Pilihan ada di tanganmu. Bersihkan seisi rumah atau aku akan bilang ke--"
"Aku akan membersihkan seisi rumah, tapi jangan adukan malam yang sangat membosankan itu pada kekasihku." jawab Cinta pasrah.
Dewa menarik ke dua sudut bibirnya ke atas. "Bagus, sahabatku ini memang bisa di andalkan. Tidak sia-sia kita tinggal satu atap. Sekarang, turunlah. Aku harus bekerja dan menjemput Siska." titahnya.
"Hem. Pergilah sebulan atau setahun." ketus Cinta turun dari mobil.
Dewa melambaikan tangan dan memberi kecupan jarak jauh.
'Daah ... selamat bersenang-senang sahabat terbaikku!" titah Dewa sembari menjalankan mobilnya.
Cinta menghentakkan ke dua kakinya secara bergantian. "Awas saja, kali ini, aku maafkan, tapi aku berjanji, aku akan mencari kartumu agar kita imbang!" gumam Cinta, lalu melangkahkan kakinya dengan gontai.
Bagi Cinta, suara bising di dalam pabrik seperti alunan musik yang selalu menemani kesehariannya.
Kumpulan kain yang sudah di potong pun mulai di berikan kepada rekan kerjanya untuk di jahit.
Kini giliran Cinta untuk mengobras bagian lengan blouse.
'Baru saja memakai mesin ini, eh ... jarumnya sudah patah!' gumam Cinta dalam hati sembari mengecek jatuhnya jarum yang berukuran panjang dan tipis. "Kemana jarum itu?" gumamnya lagi.
__ADS_1