Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 24


__ADS_3

Dewa membalas senyuman Cinta dan mereka sama-sama saling melempar senyum.


'Cinta, aku janji, aku akan melindungimu.' batin Dewa lalu mendengar getaran ponsel sahabatnya. "Angkatlah! Bicarakan semua ini dengan baik-baik, Cin. Kamu tidak bisa lari dari masalah." titahnya lagi.


"Ini telfon dari Mas Sakti dan aku malas mengangkatnya." jawab Cinta meletakkan ponselnya di dashboard mobil.


"Biar aku yang angkat. Aku tidak bisa membiarkan ponselmu berbunyi karena itu sangat menggangu konsentrasi menyetirku." titah Dewa mengambil ponsel sahabatnya yang berada di dashboard, lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Tanpa rasa cemas akan takut kehilangan Sakti, Cinta mempersilahkan sahabatnya untuk mengangkat telfon tersebut.


Dewa menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


Di satu sisi, Sakti sangat bahagia saat melihat telfonnya terhubung dengan wanita yang sangat di cintainya.


"Cinta, kita aku ingin bertemu denganmu. Aku mau menjelaskan semuanya. Beri aku kesempatan sekali lagi dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku mohon, Cinta." ucap Sakti dari dalam kamarnya.


Dewa menatap sekilas sahabatnya yang tengah menatap pepohonan di pinggir jalan.


"Cinta, kamu dengar aku, kan? Kamu mau bertemu dan memberiku kesempatan, kan?" ucap Sakti penuh harapan.


"Aku bukan Cinta." jawab Dewa setelah sekian lama terdiam.


Sakti menautkan ke dua alisnya. "Siapa kau! Dan di mana pemilik ponsel ini? Aku harus bicara dengannya."


"Maaf, pemilik ponsel ini sedang tidak ingin di ganggu. Jika anda ingin bertemu atau--"


"Siapa kau!" ucap Sakti yang memotong ucapan Dewa. "Siapa, kau! Di mana Cinta!" pekiknya lagi.


"Aku sahabat Cinta dan Cinta sedang tidak ingin di ganggu. Aku harap, kau bisa menghentikan teror ini. Biarkan Cinta tenang dulu, setelah tenang, baru kalian bisa atur acara pertemuan kalian untuk meluruskan semua masalah yang ada." ucap Dewa.


"Sahabat? Jangan bohong! Cinta tidak pernah mengatakan kalau dia punya sahabat. Siapa kau!" pekiknya Sakti yang masih tak percaya.


"Jika kau tidak mempercayaiku. Kau boleh tidak mempercayaiku. Pada intinya, aku sudah mengatakan yang sejujurnya, kalau Cinta sedang tidak ingin di ganggu." jawab Dewa yang langsung mengakhiri panggilannya.


Cinta meraih ponselnya dan meletakkannya di dashboard mobil.


"Terimakasih sudah membantuku untuk bicara dengan Mas Sakti." ucap Cinta lirih.

__ADS_1


"Hem, aku akan selalu membantumu, Cinta." jawab Dewa.


Hening, tidak ada yang ingin memecahkan keheningan di dalam mobil. Hanya ada suara mesin mobil yang menemani mereka sepanjang jalan.


Setelah beberapa menit, mobilnya membelah jalanan ibu kota, kini mobil yang di tumpangi Cinta sudah sampai di depan rumah. Terlihat satu buah mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.


"Wa, kenapa mobil Mas Sakti ada di sini?" tanya Cinta kebingungan.


"Aku tidak tahu. Kali ini, kamu tidak bisa menghindarinya. Sekarang, kamu turun dan bicarakan semua masalah kalian secara baik-baik." titah Dewa.


"Tidak ada masalah lagi, Wa. Semuanya sudah selesai. Aku dan Mas Sakti sudah memutuskan untuk berpisah. Lagi pula, untuk apa hubungan ini di lanjutkan jika dari pihak keluarga Mas Sakti tidak menyetujuinya? Bukan aku menyerah dengan keadaan, tapi aku harus tahu batasan. Aku dan dia mempunyai dunia yang berbeda. Dia bagaikan langit yang selalu di puji akan keindahannya dan aku bagaikan tanah yang selalu di injak-injak." ucap Cinta panjang lebar.


Tok ...


Tok ....


"Cinta, aku tahu, kamu ada di dalam mobil. Tolong keluar sebentar, ada sesuatu yang harus kita bicarakan." titah Sakti yang di abaikan Cinta.


"Kita pergi, Wa! Cepat jalankan mobil ini!" pinta Cinta.


"Aku tidak akan pergi. Keluarlah dan temui Sakti. Kamu tidak bisa seperti ini, Cin! Kamu harus menemuinya. Jika menurutmu, semuanya sudah selesai, maka jelaskanlah padanya kalau semua masalah kalian sudah selesai. Jangan membuat Sakti terus berharap padamu."


"Turunlah!" titah Dewa yang mendapat gelengan dari wanita di sampingnya.


"Aku tidak mau turun, Wa. Aku malas bertemu dengannya lagi."


"Turun, Cinta. Jangan seperti anak kecil. Kalian memulainya dengan baik-baik, kan? Itu artinya, kalian harus mengakhirinya dengan baik-baik juga!" bujuk Dewa.


Tok ...


Tok ....


"Bukan kaca pintu mobilnya, Cinta! Kita harus bicara! Aku tidak mau, kamu memutuskan hubungan ini dengan sepihak. Aku tidak mau, sayang!" ucap Sakti membuat Cinta kesal.


Cinta membuka pintu mobil dan keluar menemui Sakti.


"Akhirnya, kamu mau--"

__ADS_1


"Apalagi, Mas? Semuanya sudah selesai. Jangan membuatku membencimu terlalu dalam." kesal Cinta yang memotong ucapan Sakti.


"Siapa bilang? Semuanya belum selesai. Aku tidak ingin mengakhirinya."


"Okeh, kalau kamu tidak mau mengakhiri hubungan ini, biar aku ceritakan kehidupanku yang sesungguhnya yang membuatmu memutuskan untuk menerima keputusanku." geram Cinta lalu menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Asal kamu tahu, ini bukan rumahku. Aku tinggal dengan seorang pria. Dan pria itu yang sudah merawatku sedari dulu." ucapnya membuat Sakti tertawa keras.


"Kamu mau membohongiku, Cin? Jelas-jelas, di rumah ini tidak ada siapapun selain kamu. Kamu perlu ingat-ingat lagi, beberapa bulan yang lalu, aku pernah menginap di sini." kekeh Sakti.


"Kamu salah besar, Mas. Pria itu ada di rumah ini. Kamu saja yang tidak tahu."


"Aku tidak percaya, karena aku tidak melihatnya, Cinta!" geram Sakti.


"Pria itu tidur denganku, Mas. Maka dari itu, kamu tidak melihatnya. Dia bersembunyi di kamarku. Puas, Mas! Mungkin jawabanku kali ini membuatmu berpikir, kalau aku wanita mura han yang suka tidur dengan pria banyak di luar sana. Dan pria itu ada di dalam mobil. Pria itu yang mengangkat telfonmu, tadi."


"Aku tidak percaya, Cinta. Aku tahu, siapa kamu! Kamu tidak mungkin tidur dengan banyak pria. Kamu pasti bohong, kan? Orang yang mengangkat telfonku tadi, pasti orang suruhanmu, iya, kan?" jawab Sakti.


"Biar aku buktikan, Mas." ucap Cinta berjalan menuju mobil.


Tok ...


Tok ....


"Wa, tolong kamu keluar dari mobil!" titah Cinta membuat Dewa melepas seatbelt nya dan keluar dari mobil.


"Ada apa? Apa masalah kalian sudah selesai?" tanya Dewa sembari berjalan ke arah Cinta.


Sakti tak percaya saat melihat pria yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Apa sekarang kamu percaya, Mas? Aku bukan wanita baik-baik yang seperti kamu pikirkan. Sekarang, jangan temui aku lagi." titah Cinta kemudian melingkarkan tangannya di lengan Dewa. "Kita masuk, Wa!"


"Tapi kalian--"


"Masuk, Wa. Aku capek. Dan aku butuh istirahat." rengek Cinta.


"Baiklah, aku antar kamu ke kamar." ucapnya pasrah.


Sakti benar-benar kecewa saat melihat kedekatan wanita yang di cintainya dengan pria asing itu.

__ADS_1


'Aku tidak pernah berpikir, kalau kamu akan mengkhianatiku sehalus ini!' batinnya kecewa.


__ADS_2