Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 16


__ADS_3

"Tapi aku dan Mas Nunu tidak mempunyai hubungan, Mas. Kita sebatas teman kerja. Aku juga tidak mempunyai perasaan apapun padanya, aku hanya mencintai dan menyayangimu saja." lirih Cinta.


"Baiklah, kamu bisa bilang kalau kamu tidak mempunyai perasaan apapun, tapi kita tidak tahu dengan perasaan mekanik, itu."


"Mas Nunu menganggapku sebagai adiknya, saja!" jawab Cinta membuat Sakti frustrasi.


"Aku antar kamu pulang!" ucapnya dengan ketus.


Cinta memalingkan wajahnya menatap pepohonan pinggir jalan.


Hening, situasi di dalam mobil menjadi hening. Tak ada satu orang pun yang ingin memecahkan keheningan tersebut sampai tak terasa mobil yang dikendarai Sakti sudah sampai di depan halaman rumah Cinta.


Cinta melepas seatbelt nya. "Terimakasih, Mas." ucapnya.


"Turunlah." titah Sakti membuat Cinta menatapnya sekilas.


"Aku tahu, kamu marah, Mas. Tapi semua ini demi kebaikan hubungan ini."


"Turunlah," titah Sakti yang benar-benar kecewa.


Cinta keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Setelah masuk ke dalam rumah, Cinta mengintip dari balik tirai jendela.


'Apa yang aku ucapkan, tadi? Tentu saja aku mau hubungan ini di ketahui semua orang, tapi aku tidak mau melihat kamu malu saat orang-orang tahu, kalau aku kekasihmu, Mas. Karena semua orang di pabrik menilaiku buruk.' batin Cinta sembari menatap kepergian mobil kekasihnya.


Dewa menautkan ke dua alisnya saat melihat sahabatnya sedang berdiri sembari mengintip dari balik tirai jendela.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya yang mengejutkan Cinta.


Cinta menoleh dan melihat sahabatnya yang sedang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


"Apa kalian bertengkar?" tanya Dewa lagi.


"Iya, dan aku yang memulainya dulu. Aku memang sumber masalah, Wa." keluh Cinta menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu di ikuti oleh Dewa di sampingnya.


"Memangnya, kau membuat masalah apa? Kau menciuumnya?" tebak Dewa yang mendapat cubitan keras dari Cinta.


"Ish, jangan asal bicara, Wa! Mana mungkin aku menciuum pria lebih dulu. Mau di taruh mana muka ku, ha? Seperti biasa, Mas Sakti menginginkan hubungan ini di ketahui banyak orang, termasuk orang-orang di pabrik, karena dia tidak tahan melihat kedekatanku dengan Mas Nunu. Padahal, aku dan Mas Nunu tidak ada hubungan apapun. Kita hanya sebatas partner kerja saja. Apa aku salah, memintanya untuk terus menutup hubungan ini?" lirih Cinta frustrasi. "Lama kelamaan, aku capek, Wa!"


"Menurutku, kamu salah, Cin. Dan aku membela Sakti." jawab Dewa.


"Kenapa? Aku ini sahabatmu, kenapa kamu membela Mas Sakti? Memangnya, kalian saling kenal?" kesal Cinta.


"Walaupun, kita tidak saling kenal, tapi aku kecewa jika berada di posisi Sakti. Dia sudah berusaha menjadi yang terbaik untukmu, tapi kamu malah bersenang-senang dengan pria yang bernama Nunu. Kalau kamu tidak mencintai Sakti, kamu bisa putuskan hubunganmu dan kamu bisa berdekatan dengan pria yang bernama Nunu." jawab Dewa, "Sudahlah, dari pada membahas yang tidak penting. Lebih baik, kamu makan! Aku membelikanmu nasi Padang di depan sana."


"Aku tidak lapar, Wa. Lalu, aku harus bagaimana? Apa aku iya kan saja permintaan Mas Sakti? Mas Sakti juga mengajakku bertemu Ayahnya besok? Tapi aku ragu."


"Keraguan apalagi, ha? Dia benar-benar serius denganmu. Lama kelamaan, otakmu harus aku cuci!" kesal Dewa.


"Ish, aku serius, Wa. Aku memiliki alasan yang kuat untuk--"


"Siapa yang bilang, kalau aku takut kepada Mas Sakti!" pekik Cinta berjalan menghampiri sahabatnya yang sudah berjalan menuju dapur.


"Siapa lagi kalau bukan sahabatku yang aneh. Sudahlah, makan saja dulu. Setelah itu, tidur!" titah Dewa.


Cinta menjatuhkan pantatnya di meja makan sembari tangannya melepas jaket yang melekat di tubuhnya.


Mata Dewa tak berkedip saat melihat penampilan sahabatnya yang berbeda.


"Kalian dinner?" tanya Dewa.


"Hem, memangnya kenapa? Apa pakaianku jelek? Atau kamu terpesona melihat penampilanku?" jawab Cinta penuh percaya diri.

__ADS_1


Dewa memicingkan matanya tak suka. "Penampilanmu malam ini sangat buruk. Lihatlah, kau ingin memamerkan aset berhargamu itu?"


"Aset berharga? Bicaralah yang benar. Mas Sakti saja memujiku, masa kamu mengataiku memalukan. Seharusnya sebagai sahabat yang baik, kamu juga memujiku. Tidak ada salahnya, memuji sahabatnya sendiri."


"Terserahmu saja." jawab Dewa memberikan piring yang berisi nasi Padang. "Makanlah dan jangan banyak protes. Aku tidak mau melihatmu mati kelaparan di rumahku."


Cinta mengambil sendok dan menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


"Aku lapar, Wa, aku tarik lagi kata-kataku yang tidak lapar. Tapi tolong bantu aku cari jalan keluar dari masalahku, ini. Aku belum siap melihat Mas Sakti menahan malu karena mempunyai kekasih sepertiku yang hobinya membuat onar di pabrik. Bisa-bisa Mas Sakti dikatai gila karena memilihku." ucapn Cinta memakan makanannya lagi.


"Memang dia gila. Aku juga heran, kenapa pria sepertinya memilih pasangan wanita sepertimu yang hobinya menyusahkan banyak orang. Seharusnya, dia memilih pasangan yang sederajat dengannya. Atau jangan-jangan, dia sengaja memanfaatkan kepolosanmu. Tidak mungkin, kuli pabrik mendapatkan--"


"Cukup, Wa! Jangan membuat moodku rusak! Aku tahu, aku sudah menyusahkan banyak orang, tapi aku juga punya perasaan. Hatiku sakit, Wa!" pekik Cinta meletakkan sendoknya ke sembarang arah. "Aku capek, aku mau tidur! Mulai besok, aku tidak akan menyusahkanmu lagi!" ketusnya lagi sembari berjalan menuju kamarnya meninggalkan Dewa yang tengah mematung di meja makan.


Cinta menutup pintu kamarnya rapat sembari menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti.


"Apa salahku? Aku tidak mau egois, aku memikirkan perasaan orang yang aku cinta, tapi kenapa mereka semua tidak mengerti perasaanku!" kesal Cinta menurunkan resleting dressnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Di meja makan, Dewa mengambil piring yang berisi makanan milik sahabatnya.


'Apa yang aku ucapkan, tadi? Pasti Cinta sangat tersinggung. Ya, Tuhan, aku juga kesal saat melihat penampilannya yang terbuka!' gumam Dewa dalam hati.


Di satu sisi. Sakti memarkirkan mobilnya di depan halaman depan rumahnya. Dia dapat melihat mobil asing terparkir di sebelah mobilnya.


"Apa di dalam ada tamu?" tanya Sakti berjalan masuk ke dalam rumah.


Ayah Sakti menyambut hangat Sakti yang baru saja datang.


"Sakti, kemarilah!" titah pria tua yang masih tampan itu.


Sakti berjalan dan duduk di samping ayahnya. Pandangannya terfokuskan pada wanita cantik di hadapannya.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Sakti tanpa basa basi.


"Perkenalkan, dia calon ibu tirimu!"


__ADS_2