Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 11


__ADS_3

"Hukuman?" ucap Ana yang berada di samping Dewa. "Hukuman apa, Wa? Dan Cinta? Siapa Cinta?" cecarnya.


"Cinta? Hukuman?" tanya Dewa balik.


"Iya, aku sempat mendengarmu mengatakan hukuman dan Cinta. Wah, apa jangan-jangan kamu ketahuan selingkuh, lalu Siska marah dan memberikan hukuman untukmu? Keterlaluan sekali, Wa. Kamu naik jabatan karena Siska, tapi kamu malah mengkhianatinya. Dasar pria playboy!"


"Siapa yang playboy? Hubunganku dan Siska baik-baik saja. Jangan mengarang cerita. Aku tidak mau, Siska mendengar ucapanmu, itu. Bisa-bisa ada kesalahpahaman diantara kita." jawab Dewa meraih secangkir kopi dan menyeruputnya.


"Hem. Aku dengar sendiri, Wa! Mana mungkin pendengaranku salah."


"Urusi saja pekerjaanmu. Lama kelamaan otakku susah berpikir karena mendengar ocehanmu yang merusak konsentrasiku!"


"Ish, kita satu tim. Tidak boleh menghina anggota kita sendiri. Lagi pula, aku lelah sekali. Kenapa pekerjaan kita terus menumpuk, Wa? Padahal, kita selalu bekerja keras. Terkadang, kekasihku marah padaku karena aku tidak punya waktu luang untuknya, tapi kamu enak. Kamu selalu pulang on time alias tepat waktu." keluh Ana.


"Kau tidak tahu apa yang aku lakukan, Hem? Aku rela tidak istirahat demi mengerjakan pekerjaanku. Nikmati saja semua ini. Masih banyak orang-orang di luar sana yang menginginkan posisi kita."


"Iya, kau benar, Wa. Tapi jika terus seperti ini, kapan aku bisa menikah?" rengek Ana sembari mengusap wajahnya yang kasar. "Aku lelah, ingin rasanya aku menikah dan duduk manis di rumah menunggu gaji suami."


Tuk!


Sentilan jemari Dewa mendarat sempurna di kening Ana.


"Aw ... Dewa! Apa yang kau lakukan? Aku tahu, keningku ini sangat luas seperti lapangan golf, tapi kau tidak boleh menyentilnya!" kesal Ana sembari mengusap keningnya yang terasa sakit.


"Menikahlah, dan pergi jauh dari kehidupanku."


"Dengan siapa, Wa? Setiap hari, aku dan kekasihku selalu bertengkar. Apa hubungan ini bisa sehat kembali? Kemungkinan tidak bisa. Dan semua ini karena pekerjaanku yang terus memakan waktu. Apa aku harus menikah dengan pria yang sekantor agar dia bisa mengerti posisiku?" keluhnya lagi.


"Carilah pria itu." titah Dewa sembari menatap fokus komputernya.


"Em ... aku harus cari pria itu, ya?" gumam Ana berpikir sejenak, kemudian dia menatap penampilan Dewa dari ujung rambut sampai ujung kepala.


Merasa di tatap, Dewa memalingkan pandangannya dari komputer. "Apa?" tanyanya.


"Kita menikah?" ucap Ana membuat seketika Dewa syok.


"A-apa! Kau gila?" pekik Dewa.


"Aku tidak gila, bahkan aku melebihi gila. Aku lelah, Wa. Dan aku ingin di nafkahi. Kita menikah, ya! Lalu kamu bisa beri nafkah aku, bagaimana?" bujuk Ana sembari mengedipkan kelopak matanya, memohon.


"Jaga bicaramu. Aku tidak mau, Siska datang dan mendengar pembicaraan kita. Lagi pula, aku tidak pernah mencintaimu."

__ADS_1


"Iya, aku pun sama, Wa, tapi demi kesehatan mental dan jiwa ragaku, aku bisa berpura-pura mencintaimu." jawab Ana membuat Dewa menghembuskan napasnya kasar.


"Astaga! Kopiku habis. Aku harus membuatnya!" titahnya sembari berjalan menuju dapur.


"Dewa! Dewa!" pekik Ana menjatuhkan kepalanya di meja.


Waktu terus berputar, tak terasa jam istirahat sudah tiba.


"Cinta!" panggil Nunu yang baru saja keluar dari ruang mekanik.


Cinta menoleh dan tersenyum kearah Nunu. "Ayo, Mas!" titahnya, "Tapi aku tidak bisa berlama-lama."


"Kenapa?" tanya Nunu mensejajarkan langkahnya dengan Cinta.


"Aku tidak mau di gosipkan yang aneh saja." jawab Cinta. "Kita ke minimarket depan saja!" titahnya.


"Baiklah, tapi bagaimana tadi? Apa Pak Sakti memarahimu lalu memecatmu?" tanya Nunu yang mendapat gelengan dari Cinta.


"Tidak. Mana mungkin, Pak Sakti memecatku."


"Wah, keren. Memangnya, kamu bicara apa dengannya sampai-sampai Pak Sakti tidak jadi memecatmu. Atau jangan-jangan kau rayu dia, ya?" tebak Nunu lalu merangkul pundak Cinta. "Wajahmu yang imut bisa menaklukkan semua pria di sini, Cin, termasuk Pak Sakti yang notabennya--"


"Mas, tidak perlu merangkulku. Kita masih di lingkup pabrik." potong Cinta.


Cinta tersenyum kecut saat melihat Sakti yang sedang menatapnya dari jauh.


"Kenapa, Cin?" tanya Nunu.


"Ada Pak Sakti. Aku sudah di tegur, jadi aku tidak mau membuat kesalahan lagi." lirih Cinta, "Maafkan aku, Mas. Kamu pasti marah besar ke aku, tapi aku dan Mas Nunu hanya sebatas rekan kerja. Sekali lagi, maafkan aku, Mas Sakti.' batinnya.


Sakti berjalan keluar pabrik dengan Delon yang berjalan di sampingnya.


"Apa yang kalian bicarakan, Cin?" tanya Nunu.


"Aku hanya memohon saja supaya tidak di pecat. Aku juga mengakui kesalahanku dan dia mau memberiku kesempatan ke dua." jawab Cinta.


"Ya, sudah. Sekarang, aku traktir 2 es krim. Mau, kan?"


"Mau, Mas." jawab Cinta lalu merasakan getaran di ponselnya. 'Aku tidak marah. Aku tunggu di restoran dekat pabrik.' gumam Cinta dalam hati saat membaca pesan dari kekasihnya.


'Mas Sakti benar-benar mencintaiku dengan tulus. Padahal, aku tahu, dia sangat kesal tapi dia berusaha bersikap manis padaku.' batin Cinta. 'Terimakasih, Mas. Setelah ini, aku akan menyusulmu.' send Sakti.

__ADS_1


Akhirnya Cinta dan Nunu berjalan berdampingan menuju mini market depan pabrik.


Sesuai janji Nunu, dia mentraktir Cinta 2 es krim kesukaannya.


"Kamu baik banget, Mas." ucap Cinta setelah keluar dari minimarket.


"Mau makan?" ajak Nunu.


"Tidak, Mas. Aku harus pergi. Aku sudah ada janji dengan seseorang. Lain kali, ya, Mas!"


"Janji? Dengan pria atau wanita?" tanya Nunu penasaran.


"Ish, kepo, ya! Rahasia. Ya, sudah, aku harus pergi, bye, bye!" teriak Cinta berlari menuju restoran yang letaknya 5 meter dari pabrik.


Nunu menatap kepergian teman kerjanya.


"Siapa orang itu?" gumam Nunu. "Mungkin sahabat Cinta. Dia bilang, dia mempunyai sahabat." pikirnya positif dan kembali ke pabrik.


Sesekali Cinta melirik ke belakang untuk memastikan temannya tidak mengikutinya.


"Syukurlah, Mas Nunu sudah masuk pabrik. Aku jadi tenang!" ujarnya.


Tin ...


Tin ....


"Masuk, Cin!" teriak Sakti yang berada di dalam mobil.


"Mas Sakti?" jawabnya tak percaya.


"Iya, cepatlah masuk!" titah Sakti membuat Cinta membuka pintu mobil dan masuk.


"Mas, sejak kapan kamu di--"


"Aku memantaumu dari kejauhan." jawab Sakti.


"Oh, tapi kamu tidak perlu memantauku, Mas. Kita bertemu langsung di restoran."


"Aku pikir, aku mau seperti itu, tapi saat mengetahui jarak restoran dengan pabrik yang cukup panjang. Aku memutuskan untuk menunggumu." jawab Sakti masuk akal.


"Hehehe ... terimakasih, Mas."

__ADS_1


"Itu es krim yang dibelikan mekanik jelek itu?" tanya Sakti saat melihat kantong plastik kecil.


"Iya. Ini es krim kesukaanku." jawab Cinta, "Kamu mau, Mas?" sambungnya lagi.


__ADS_2