Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 26


__ADS_3

Setelah memikirkan ucapan kekasihnya, akhirnya ayah Sakti mencoba mengalah demi kebahagiaan putranya walaupun keputusan ini bertentangan dengan pemikirannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa raut wajahmu murung, hem? Apa kau melihat kekasihmu bersama pria lain?" tanya Ayah Sakti setelah masuk ke dalam kamar putranya.


Sakti menatap wajah ayahnya sekilas lalu memfokuskan pandangannya ke layar ponselnya.


"Jangan ganggu aku! Aku membutuhkan waktu untuk sendiri." ketus Sakti.


"Sakti, Ayah akan membantumu untuk mendapatkan wanita itu lagi, tapi dengan catatan, restui pernikahan Ayah dengan Tante Rita. Dia wanita yang tepat untuk menjadi ibu sambungmu. Hanya dia, yang memikirkan kondisimu, Sak! Ayah mohon!"


"Menikahlah tanpa perlu restu. Aku muak dengan semua ini." jawab Sakti yang benar-benar kecewa dengan sikap Cinta.


Tak ingin berdebat panjang lebar dengan putranya, Ayah Sakti lebih memilih untuk pergi meninggalkan putranya seorang diri.


Melihat kepergian ayahnya, Sakti meletakkan ponselnya di atas kasur.


"Argkh! Ayah saja bisa mendapatkan wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya, tapi kenapa aku tidak bisa mendapatkannya! Apa salahku! Aku tidak pernah mempermainkan perasaan wanita, tapi kenapa aku tidak bisa mendapatkan wanita yang benar-benar tulus mencintaiku!" pekik Sakti yang dapat di dengar oleh sang Ayah dari balik pintu kamarnya.


Mendengar keluhan putranya, Ayah Sakti langsung menyambar kunci mobilnya dan pergi dari kediaman rumahnya.


Di kediaman rumah Cinta dan Dewa. Terlihat mereka berdua sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Melihat sahabatnya terus melamun di kamar. Akhirnya, Dewa berinisiatif untuk menghibur sahabatnya dengan cara mengajaknya bekerjasama untuk membersihkan rumahnya yang sederhana.


"Sapu yang benar, Cin! Keluarkan semua tenagamu!" titah Dewa saat melihat sahabatnya yang tidak bersemangat.


Cinta mengerucutkan bibirnya sembari menekan sapu ijuknya sampai gagang sapu itu patah.


Dewa melototkan matanya saat melihat gagang sapunya patah.


"Apa yang kamu lakukan, Cin! Kita harus menghemat. Jangan merusak semua perabotan rumah ini." kesal Dewa.


"Maaf, lagian kamu ada-ada saja. Sudah tahu, aku sedang patah hati, tapi kamu malah memintaku membersihkan rumah. Ya, sudah ini akibatnya." jawab Cinta yang tak merasa bersalah.


"Cuci piring! Lebih baik, kamu cuci piring, tapi jangan lempar semua piring!" titah Dewa. "Letakan sapu dan gagang sapu itu di lantai. Biar aku yang mengurusnya."


"Dewa! Aku sedang tidak mood. Tapi kamu selalu memintaku untuk melakukan pekerjaan yang membuat moodku semakin hancur! Aku mau tidur, aku mau menenangkan diriku dulu. Aku tidak mau cuci piring. Kamu saja yang cuci piring! Aku lapar!" ketusnya membuat Dewa berjalan beberapa langkah ke arah sahabatnya.


"Lapar, ya? Kalau lapar, buat makanan sendiri. Jangan malas, aku tahu, kamu sedang patah hati. Tapi mau sampai kapan, kamu berlarut-larut diam di kamar, ha?"

__ADS_1


"Kamu benar-benar menyebalkan, Wa." kesal Cinta.


"Cuci piring, setelah itu baru kita cari makanan di luar. Atau kau ingin membuat makan malam?" tawar Dewa semakin membuat Cinta kesal.


"Aku hanya buang-buang waktu saja bicara denganmu." kesal Cinta berjalan menuju wastafel dan mencuci semua piring kotor.


Melihat Cinta yang sangat patuh, Dewa melanjutkan pekerjaannya lagi.


Setelah hampir satu jam, akhirnya semua pekerjaan rumah telah terselesaikan.


Cinta yang tengah bersiap-siap untuk pergi mencari makan malam pun tiba-tiba melihat mobil mewah yang terparkir di depan halaman rumahnya.


Matanya membulat sempurna saat melihat sepasang kekasih yang baru saja keluar dari mobil tersebut.


"Tante Rita dan tunggu dulu ... itu kan Ayahnya Mas Sakti. Kenapa mereka bisa ada di depan rumahku. Apa Mas Sakti mengadukan semuanya pada mereka. Dan mereka tidak terima lalu mereka datang ke rumah Dewa karena mau membuat perhitungan denganku? Aduh, aku harus bagaimana ini? Kenapa aku tidak terpikirkan hal seperti ini." gumam Cinta panik.


Dewa menautkan kedua alisnya saat melihat sahabatnya panik.


"Apa yang kau lakukan di sini? Ayo, kita pergi!" titah Dewa.


"Dewa, aku rasa kita tidak perlu pergi mencari makanan. Tiba-tiba aku menginginkan makan malam ku dengan mie instan. Bukankah, kamu masih menyimpan persediaan mie instan di dapur. Sebaiknya, kita masak mie instan saja. Ayo!" ucap Cinta menarik tangan sahabatnya untuk berjalan menuju dapur.


"Apa yang terjadi? Tidak biasanya--"


"Hust! Kecilkan suaramu. Aku tidak mau, mereka mengetahui kita di dalam rumah." potong Cinta membungkam mulut sahabat dengan tangannya.


'Mereka?' gumam Dewa dalam hati. "Ish, tanganmu belum cuci! Baunya tidak enak!" kesal Dewa setelah berhasil menepis tangan sahabatnya.


"Aku sudah membersihkan tanganku dengan sabun. Tapi ini bukan masalah tangan. Kita harus bersembunyi, Wa. Kita tidak bisa menghadapi mereka. Aku takut, Wa!" ucap Cinta panik.


"Takut? Memangnya, apa yang di lakukan sampai-sampai kau ketakutan?" tanya Dewa membuat Cinta menunjukkan dua orang yang sedang berjalan ke arah rumahnya.


"Itu, Wa. Mereka datang. Aku yakin sekali, mereka tidak terima kalau anaknya aku sakiti. Padahal, aku--" ucapan Cinta terhenti saat mendengar suara ketukan dari luar rumahnya. "Sebaiknya, kita sembunyi, Wa!" titahnya lagi.


'Aku seperti tidak asing dengan wajah pria itu. Dia seperti ... tapi tidak mungkin dia ada di sini.' batin Dewa.


Tok ...


Tok ....

__ADS_1


"Cinta?" panggil Rita sembari mengetuk pintu rumah yang terlihat kosong.


"Apa kau yakin ini rumahnya, sayang?" tanya Ayah Sakti.


"Aku yakin sekali, Mas. Aku mendapatkan alamat rumah Cinta dari Delon. Dan Delon melihat di biodata Cinta." jawab Rita.


"Itu artinya, dia sedang pergi?"


"Tidak mungkin. Mobilnya ada di rumah. Aku melihat pria yang menjemput Cinta menggunakan mobil itu, Mas. Pasti mereka ada di dalam. Biar aku ketuk lagi pintunya. Siapa tahu, dia tidak mendengar ketukan pintu ini!" jawab Rita.


Tok ...


Tok ....


"Apa ada orang?" ucap Rita lagi.


Di dalam rumah, Cinta terus menarik tangan Dewa untuk bersembunyi.


"Ayo, cepat, Wa! Aku tidak mau--"


"Kita buka saja pintunya. Sampai kapan kamu mau lari dari kenyataan? Jelaskan dan selesaikan semuanya." titah Dewa.


"Jangan gila! Kamu pikir yang di depan rumah kita Mas Sakti? Mereka orang tua Mas Sakti, Wa. Apa yang--" ucapan Cinta terhenti saat melihat tangan Dewa memutar gagang pintu. "Jangan, Wa. Aku tidak siap, please!"


"Kita hadapi sama-sama. Bukankah semuanya akan terasa ringan?" ucap Dewa.


Tok ...


Tok ....


"Tapi, Wa. Aku tidak yakin kalau aku bisa menghadapi mereka. Aku takut, Wa!"


"Ada aku, kau tenang saja. Semua akan baik-baik saja." titah Dewa kemudian membuka pintu rumahnya.


Krek!


Pintu rumah terbuka.


Deg!

__ADS_1


Jantung Dewa seperti berhenti berdetak.


__ADS_2