
Rita tersenyum manis, "Baiklah, Tante tidak bisa memaksamu. Tapi, Tante mohon ... tolong pertimbangkan ucapan Tante, ya, sayang!"
"Terimakasih, Tan. Aku sudah mengeluarkannya lewat telinga kiri. Jika kita berjodoh, kita akan di pertemukan lagi tapi jika kita tidak berjodoh, aku dan Mas Sakti akan di jauhkan apapun alasannya. Aku juga yakin, Ayah Mas Sakti berpikir ratusan kali untuk menerimaku." jawab Cinta membuat Rita terdiam.
'Apa yang di katakan Cinta memang benar. Ayah Sakti tidak merestui hubungan mereka.' batin Rita.
"Tan, kenapa Tante melamun? Apa yang aku ucapkan benar? Apa Ayah Mas Sakti tidak merestui hubungan ini? Katakan saja, Tan! Aku tidak apa-apa." ujar Cinta dengan senyum manisnya.
"Cinta, Ayah Sakti bukan tidak mau merestui hubungan kalian, tapi Ayah Sakti sedang melihat perjuangan kalian. Kamu tidak boleh berpikir buruk, ya! Tante yakin, seiring berjalannya waktu, Ayah Sakti bisa menerima hubungan kalian." ujar Rita yang meyakinkan Cinta.
Cinta tersenyum kecut, 'Aku tidak percaya, orang semacam Ayah Sakti yang bersikap manis seperti tadi, ternyata tidak menyukaiku.' batinnya.
"Cinta, kamu tidak perlu memikirkan ucapan Tante. Yang kamu pikirkan sekarang, hanya Sakti, nak. Sakti butuh kamu."
"Tan, maaf, tapi aku harus pergi. Aku lupa mematikan kompor rumahku. Kita sambung hari esok, ya." titah Cinta beranjak berdiri dan berlari keluar taman.
Rita menatap kepergian Cinta, "Maaf, Sakti. Tapi Cinta harus tahu sikap ayahmu yang tak menyukainya. Semoga, hubungan kalian bisa kembali seperti dulu lagi." ujarnya monolog.
Setelah cukup jauh dari taman. Cinta menghentikan langkahnya sembari menangis di sepanjang jalan.
"Hiks ... hiks ... apa salahku, ha! Apa!" geramnya.
Dewa yang melihat sahabatnya sedang menangis sendirian di pinggir jalan pun langsung berlari menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Cin?" tanya Dewa setelah berada di samping Cinta.
"Wa, hiks ... hiks ... Aku benci diriku, Wa! Aku benci!" pekik Cinta menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan.
__ADS_1
Dewa membalas pelukan tersebut. "Tenangkan dirimu, Cin. Kita bisa lalui ini bersama-sama. Aku yakin, kalian bisa bersatu."
"Tidak, hiks ... hiks ... mana mungkin aku bersatu dengan Mas Sakti, Wa! Sedangkan ayahnya saja tidak menyukaiku. Apa wajahku, wajah orang jahat? Apa justru wajahku menakutkan sampai-sampai semua keberuntungan tidak berpihak padaku?"
"Sudahlah. Jangan seperti ini, kita bisa lalui semua ini sama-sama. Aku janji padamu, aku akan selalu berada di sisimu. Sekarang, kita pulang, ya! Aku begitu cemas saat melihat kamarmu yang kosong. Aku takut terjadi sesuatu padamu, maka dari itu aku mencarimu dan menemukanmu sedang menangis di pinggir jalan." ujar Dewa sembari menghapus air mata sahabatnya, "Sudah, ya, jangan menangis. Aku ada di sini. Kita lalui sama-sama, okeh!"
"Tapi kenapa nasibku buruk sekali, Wa. Kenapa Tuhan mengujiku dengan cara kejam ini. Hatiku sangat hancur, Wa." lirih Cinta.
"Kita masuk mobil. Aku tidak mau orang-orang di sekitar taman melihatmu menangis. Bisa-bisa, aku di tuduh menculikmu. Kita pulang, ya!" titah Dewa.
"Hiks ... hiks ... aku tidak mau pulang, Wa."
"Lalu, apa mau mu, Cin? Aku akan mengantarmu kemana pun kamu pergi, tapi tolong ... jangan pergi sendirian seperti tadi. Suasana hatimu sedang tidak bagus, Cin." titah Dewa yang mulai frustrasi.
"Aku mau di sini saja. Berdiam diri di kamar, membuatku terus terbayang-bayang kenanganku dengan Mas Sakti."
"Tapi, Cinta. Ini hampir malam. Tidak baik, wanita menangis di pinggir jalan. Kita pulang, dan lanjutkan nangisnya di kamar, ya?" bujuknya lagi yang tak mendapat respon dari sahabatnya.
"Dewa! Apa yang kamu lakukan! Aku bukan anak kecil yang perlu kamu gendong!" kesal Cinta setelah mereka masuk dalam mobil.
"Aku terpaksa. Tidak mungkin, aku menunggumu di pinggir jalan. Banyak orang yang melihat kita, Cinta. Apalagi suaramu yang sangat merdu alias merusak dunia. Sudahlah, kamu bisa lanjutkan nangismu di rumah." sindir Dewa yang menyalakan mesin mobil dan mobil pun berjalan membelah jalanan ibu kota.
Di sisi lain, Rita melihat semua interaksi antara Dewa dan Cinta. Sempat beberapa kali, Rita memotret tingkah laku mereka dan tak lupa, Rita memotret Cinta yang tengah berada dalam gendongan Dewa.
"Siapa pria itu? Kenapa Cinta bisa mengenalnya dan apa yang di lakukan pria itu sangat tidak sopan. Menggendong Cinta di depan umum. Aku yakin, Cinta begitu akrab dengan pria itu. Atau jangan-jangan yang di katakan Ayah Sakti benar? Ah, tidak mungkin. Cinta wanita baik-baik. Aku harus percaya dengan kata hatiku sendiri." gumam Rita monolog.
Di dalam kamar, Sakti mencoba menghubungi kekasihnya, Cinta.
__ADS_1
"Cinta, ayo, dong, angkat telfon aku. Aku tidak mau berpisah denganmu." gumam Sakti yang terus menelfon Cinta.
Drt ...
Drt ....
"Angkat saja!" titah Dewa saat mendengar getaran dari ponsel sahabatnya. "Kasihan dia, Cinta. Siapa tahu, dia mau mengatakan alasan dan sebabnya dia berbohong padamu." sambungnya lagi.
"Aku tidak tertarik. Kalau kamu mau angkat telfon dari Mas Sakti, angkat saja sendiri." ketus Cinta yang melempar ponselnya ke arah sahabatnya.
Dewa menghentikan mobilnya mendadak dan menangkap ponsel sahabatnya.
"Kau, apa yang kau lakukan? Kau baru saja membahayakan nyawa kita." pekik Dewa.
"Aku tidak perduli. Dewa, kalau aku mengundurkan diri, apa kamu marah?" tanya Cinta serius. "Jika aku mengundurkan diri, itu artinya aku tidak ada pemasukan. Dan aku tidak bisa membayar semua kebutuhan rumah." sambungnya lagi.
"Karena Sakti, kamu jadi mengundurkan diri, Cin?" tanya Dewa tak percaya.
"Iya. Aku mau menenangkan diriku, dulu. Menurutmu bagaimana, Wa? Kamu pasti marah, ya? Kalau kamu marah, aku tidak jadi mengundurkan diri, Wa. Aku takut di usir olehmu dan aku tidak punya tempat tinggal lagi." lirihnya.
Dewa tersenyum, "Tidak. Aku tidak marah. Kalau itu keputusan yang terbaik untukmu. Aku akan mendukungnya. Kamu cukup beberes di rumah dan siapkan sarapan pagi, siang dan malam. Bagaimana?" tawar Dewa.
"Aku seperti istrimu, dong? Menyiapkan semua kebutuhanmu."
"Ish, kau hanya menyiapkan makanan saja, bukan semuanya. Memangnya, aku bicara kalau kau harus menyiapkan pakaian kerjaku, tidak, kan?" kesal Dewa.
"Hehehe ... terimakasih, Wa. Kamu sahabat terbaikku. Tapi aku janji, setelah aku berhasil melupakan Mas Sakti, aku akan cari kerja lagi. Aku janji!" ucap Cinta menghapus air matanya.
__ADS_1
"Tidak perlu cepat-cepat, aku bisa memahami situasi ini. Sekarang, jangan nangis lagi. Aku sudah mengizinkanmu untuk cuti alias mengundurkan diri."
"Iya, aku tidak akan menangis lagi. Dan aku akan menyiapkan makanan untukmu." jawab Cinta dengan senyum manisnya.