
"Hentikan omong kosongmu, Mas. Dan stop panggil aku sayang! Aku mau, mulai hari ini kita putus! Aku tidak suka kebohongan." ketus Cinta.
"Hei, kamu tidak bisa memutuskan aku begitu saja, Cin. Aku tahu, aku salah, tapi aku melakukan semua ini karena aku ingin yang terbaik untuk diriku. Sebaiknya, kita bicarakan ini di mobil. Aku tidak mau ada orang yang mendengar pembicaraan kita."
"Tidak perlu. Semuanya sudah selesai. Dan berikan kunci rumahku. Aku mau pulang sendiri." kesal Cinta.
Sakti menarik tangan Cinta dan masuk ke dalam mobilnya.
"Aku minta maaf, Cin!" ujar Sakti setelah berada di dalam mobil.
"Aku tidak butuh maaf darimu, Mas. Kita putus, jangan hubungi aku lagi. Aku benci kamu, Mas! Kamu tega membohongiku!"
"Aku tidak pernah membohongimu, sayang. Bukankah semalam aku sudah bilang, kalau aku akan menceritakan semuanya sekarang. Dan--"
"Kalau Tante Rita tidak memberitahuku, apa aku akan mendengar dari mulutmu sendiri, Mas? Tidak, kan! Mas, kamu pikir, aku perempuan matre yang gila harta? Kamu pikir, aku perempuan yang mengincar harta orang kaya? Kamu pikir, aku mendekati, mencintaimu karena harta? Aku sama sekali tidak memikirkan hartamu, Mas. Aku mencintaimu tulus! Tapi apa yang kamu berikan selama ini? Kamu bohong, Mas! Kamu membohongiku! Dan aku benci kebohongan itu! Biarkan aku sendiri dulu, Mas. Tolong jangan temui aku. Kita putus!" titah Cinta membuka pintu mobil dan keluar. "Ambil saja kunci pintu rumahku. Aku bisa naik ke jendela dan mengambil kunci cadangan!" ucapnya lagi lalu pergi.
Sakti menatap kepergian kekasihnya. "Apa aku salah? Aku merahasiakan semua ini karena aku ingin melihat ketulusan hatimu, Cin? Dan kini aku tahu, kalau kamu benar-benar tulus mencintaiku. Aku tidak mau kehilangan wanita sepertimu. Kamu wanita yang selama ini aku cari, Cin. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja." gumam Sakti menyalakan mesin mobil dan mobil pun berjalan menyusul Cinta yang tengah berjalan di pinggir jalan sembari menghapus air matanya yang mengalir deras.
'Hiks ... Hiks ... apa salahku? Apa karena aku wanita miskin, jadi Mas Sakti begitu mudah mempermainkan perasaanku? Aku benci kamu, Mas! Sangat membencimu!" pekik Cinta lalu mendengar suara klakson dari mobil yang berjalan di sampingnya.
__ADS_1
"Cin, berhenti, kita perlu bicara. Kamu salah paham, aku tidak pernah menganggapmu sebagai wanita matre atau gila harta. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Dan aku janji, aku tidak akan membohongimu lagi. Beri aku kesempatan, Cin! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mencintaimu, Cin!" pekik Sakti yang diabaikan Cinta.
Merasa di abaikan, Sakti menghentikan mobilnya dan berlari menghadang kekasihnya.
"Tolong dengarkan penjelasanku dulu, Cin!"
"Pergi, Mas. Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun darimu. Semuanya sudah cukup. Aku tidak mau mendengar kebohongan lagi yang keluar dari mulutmu. Kamu tahu, aku benci kamu, Mas! Kenapa, ha! Kenapa kamu tidak mengatakan semuanya dari awal. Kalau aku tahu kamu anak dari pemilik perusahaan tempatku bekerja, aku tidak akan mengagumimu. Aku tidak mau berhubungan denganmu. Lebih baik, kita tidak kenal, dari pada aku harus menahan sakit, Mas. Aku kecewa! Hatiku sakit, aku sudah percaya sepenuhnya padamu, tapi kamu malah apa? Kamu malah menghancurkan kepercayaanku!" pekik Cinta kecewa. "Sakit, Mas! Sakit!" lirihnya sembari menekuk ke dua lututnya.
"Maafkan aku, Cin. Maaf, kalau semua ini membuatmu hancur. Tapi aku tidak pernah membayangkan kamu sehancur ini." ujar Sakti sembari menekuk ke dua lututnya. "Maafkan aku, ya, sayang!" sambungnya lagi.
"Aku tidak butuh maaf darimu, Mas. Yang aku butuhkan, kamu pergi jauh dari kehidupanku. Aku muak, Mas! Aku benci kamu, Mas. dan aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" pekik Cinta.
Sakti menggelengkan kepalanya sembari menarik tubuh Cinta ke dalam pelukannya.
"Aku tidak bisa, Mas. Aku tidak mau berpacaran dengan pemilik perusahaan. Aku tidak boleh egois. Kesehatan mentalku jauh lebih penting dari mengutamakan perasaanku." jawab Cinta sembari menghapus air matanya. "Tolong, hargai keputusanku. Aku tidak mau terikat apapun dengan orang penting."
"Aku memberimu waktu untuk menenangkan diri, Cin. Tapi jangan putuskan hubungan ini. Karena aku sangat menyayangimu. Aku janji, aku tidak akan muncul di depanmu sebelum kamu memaafkanku, tapi aku akan terus meminta maaf. Sekarang, aku antarkan kamu pulang, ya. Setelah itu, aku janji, aku tidak akan muncul lagi." rayu Sakti.
Cinta menghapus air matanya. "Aku bisa pulang sendiri, Mas. Aku tidak butuh bantuanmu."
__ADS_1
"Sayang, aku mohon, ja--"
"Stop, panggil aku sayang, Mas! Aku tidak mau mendengar kata itu keluar dari mulutmu. Kamu tidak menyayangiku, Mas. Kamu hanya memanfaatkanku! Aku mau pulang sendiri!"
"Huh, baiklah. Aku akan mengikutimu dari belakang. Dan aku akan memastikan keselamatanmu. Sekarang, aku panggil taksi untukmu." ucap Sakti pasrah lalu berjalan menghentikan taksi.
Cinta menatap punggung Sakti. 'Sebenarnya, aku marah bukan karena kamu menutupinya dariku, Mas. Tapi aku marah pada diriku sendiri. Aku mencintaimu, tapi keadaan yang tidak bisa menyatukan kita. Aku tidak pantas untukmu, Mas. Aku wanita miskin dan aku pun benci diriku sendiri. Kenapa aku terlahir dalam keadaan miskin.' batin Cinta.
"Sayang, taksinya sudah ada. Sebaiknya, kamu pulang. Aku akan menjagamu dari jauh." titah Sakti.
"Tidak perlu, kamu tidak perlu menjagaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lebih baik, kamu pergi dari hadapanku. Dan satu lagi--" Cinta melepas kalung pemberian Sakti. "Aku tidak pantas menerima kalung ini. Berikan saja untuk kekasihmu kelak, atau jual saja. Karena aku tahu, harga kalung ini sangat mahal."
"Tidak, pakai kalung itu lagi. Aku memberikannya untukmu, Cin." titah Sakti.
"Ambil, Mas. Aku benci semua pemberian darimu." kesal Cinta menarik tangan Sakti dan memberikannya. "Terimakasih atas semua kebaikanmu 3 bulan ini. Aku janji, aku akan melupakan semua kenangan itu. Dan aku akan mengundurkan diri dari perusahaanmu." sambungnya lagi lalu berjalan menuju taksi.
Sakti menggenggam kalung pemberiannya. 'Ayah, Tante Rita. Kalian sudah merusak hubunganku dengan wanita yang aku cintai. Maka konsekuensinya, aku tidak akan merestui hubungan kalian sampai kapanpun.' geram Sakti dalam hati.
Di dalam taksi. Cinta menangis sejadi-jadinya. "Hiks ... Hiks ... apa keputusanku salah. Kenapa, Mas! Kenapa harus berbohong! Argkh! Aku benci kamu, Mas, tapi aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Bagaimana caraku untuk melupakanmu." geram Cinta.
__ADS_1
Di rumah, Dewa mengeluh saat melihat semua pintu terkunci.
"Kenapa semuanya di kunci? Mana lagi, Siska marah-marah padaku. Bagaimana ini? Sejujurnya, aku sedang malas keluar, tapi aku tidak mungkin menolak permintaan Siska. Bisa-bisa turun jabatan aku!" keluh Dewa.