Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 25


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam rumah. Dewa melepas lingkaran tangan sahabatnya. "Apa yang terjadi, kenapa kamu menceritakan semuanya? Kita tidak ada hubungan apa-apa, Cinta. Kamu menganggapku sebagai sahabat bukan lainnya. Aku mohon, jangan sakiti perasaanmu sendiri."


"Sudah terlanjur, Wa. Aku tidak mau Mas Sakti berharap padaku. Biarkan Mas Sakti membenciku dengan cara seperti ini." lirih Cinta sembari menghempaskan pantatnya di sofa.


"Aku takut kamu menyesal, Cin."


"Aku sudah pasti menyesal, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa, Wa! Kamu tahu perasaanku yang sekarang? Aku hancur, Wa. Orang tua Mas Sakti tidak merestui hubunganku. Jadi, untuk apa aku memberi harapan? Biarkan semuanya menjadi jelas." jawab Cinta. "Aku haus, Wa. Aku mau minum."


"Ambillah sendiri. Aku bukan pembantumu." ketus Dewa.


"Tapi aku lagi sedih, Wa. Apa kamu tidak kasihan melihat sahabatmu yang hancur ini?" rengek Cinta membuat Dewa menggeram kesal.


"Tunggu di sini!" kesal Dewa berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.


Sedangkan di satu sisi. Setelah mobilnya membelah jalanan ibu kota. Kini mobil Sakti sudah terparkir mulus di depan rumahnya.


Terlihat Rita yang baru saja menginjakkan kakinya di halaman rumah ayah Sakti.


"Sakti, kamu habis dari mana?" tanya Rita yang diabaikan Sakti.


Sakti berjalan masuk melewati Rita yang tengah berdiri di samping mobil.


"Sayang, apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Ayah Sakti setelah berada di depan pintu utama.


"Mas, Sakti, Mas!" titah Rita.

__ADS_1


"Oh, jangan pikirkan anak itu. Moodnya sedang tidak baik-baik saja."


"Aku tahu, Mas. Tapi--" ucapan Rita terhenti. 'Apa aku ceritakan saja tentang Cinta dan pria itu? Lebih baik, aku tidak perlu menceritakan semuanya. Aku tidak mau sepasang Ayah dan anak itu bertengkar lagi.' batin Rita.


"Ada apa, sayang?" tanya Ayah Sakti dengan lembut.


"Kamu hibur Sakti, Mas. Kamu ajak jalan-jalan, Mas. Aku tidak mau, Sakti terus terpuruk." titah Rita membuat ayah Sakti tersenyum manis.


"Sakti bukan tipe orang yang suka liburan, Rit. Sakti lebih suka menghabiskan waktunya untuk berdiam diri di kamar dari pada liburan. Ini sudah kebiasaannya sedari kecil. Maka dari itu, aku memasukkannya ke kantorku agar anak itu bisa bersosialisasi dengan orang lain, tapi kata Delon ... Sakti sangat susah berinteraksi dengan lawan bicaranya. Mungkin karena dia takut di kecewakan karena traumanya dulu."


"Mas, kenapa kamu memendam semuanya sendiri? Seharusnya, kamu ceritakan semuanya ke aku. Sosok seperti Sakti sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu." jawab Rita.


"Iya, tapi aku tidak bisa percaya begitu saja. Aku harus memilih wanita itu dan aku memilihmu. Dan sekarang, kamu sudah tahu semuanya, Rit. Inilah kehidupanku dengan Sakti jika ada masalah. Sakti bisa berdiam diri selama beberapa hari untuk menenangkan dirinya. Dan aku, aku hanya bisa memantaunya dari kejauhan. Aku tidak mungkin membiarkannya bergantung padaku karena dia seorang pria."


"Tapi, apa kamu tahu, tadi Sakti pergi kemana Mas?" tanya Rita yang mulai cemas.


'Wajah Sakti memancarkan kekecewaan yang amat dalam. Apa benar, yang dikatakan ayahnya Sakti, kalau Sakti baru saja menemui Cinta. Dan itu artinya, Sakti melihat Cinta dengan pria itu?' batin Rita.


"Sayang, ayo masuk ke dalam." ajak Ayah Sakti yang membuyarkan lamunan Rita.


"Eh, iya, Mas. Kedatanganku ke sini, hanya memastikan kondisi Sakti saja. Dan sekarang aku sudah melihat kondisinya. Kalau begitu, aku pamit, Mas. Taksiku sudah menungguku." ucap Rita.


"Kondisi? Memangnya, apa yang terjadi dengan Sakti?"


"Tidak terjadi apa-apa, Mas. Kamu tenang saja." jawab Rita.

__ADS_1


"Kamu bohong, Rit! Apa yang kamu sembunyikan dariku? Ceritakan padaku, Sayang! Aku tidak ingin ada rahasia-rahasia di antara kita." titah ayah Sakti membuat Rita menatap dalam rumah dan tak melihat siapapun. "Sebenarnya, ada apa? Sikapmu sangat aneh, Rit!"


"Em ... begini, Mas. Aku mau menceritakan semuanya, tapi aku tidak tega, Mas. Aku takut, kamu semakin memojokkan Sakti." ucap Rita penuh keraguan.


"Ada apa, sayang? Aku tidak akan memojokkan Sakti, tapi kamu harus ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Sakti."


"Em ... tadi sewaktu aku pulang dari rumahmu, aku tidak sengaja bertemu dengan Cinta di taman kota. Kita sempat berbicara dan aku mengatakan yang sejujurnya tentang sikapmu yang kurang menyukai Cinta, lalu--"


"Anak itu memaklumi sikapku? Atau anak itu marah dan tidak terima dengan sikapku? Terus, anak itu mengadukan semuanya ke Sakti dan Sakti sakit hati lalu menegurmu, begitu?" tuduh Ayah Sakti yang memotong ucapan Rita.


"Bukan begitu, Mas. Cinta tidak marah. Dia memakluminya, tapi setelah kita selesai berbicara, aku sempat melihatnya bersama seorang pria. Dan mereka--"


"Sudah aku tebak, wanita seperti Cinta, memang tidak pantas untuk Sakti. Aku yakin, wanita itu memanfaatkan kekayaan Sakti saja. Dan dia berpura-pura sedih untuk menyempurnakan dramanya. Apa Sakti tahu kelakuan busuk wanita yang sangat di cintainya?" ucap ayah Sakti yang lagi dan lagi memotong ucapan kekasihnya.


"Aku tidak tahu, apakah Sakti mengetahui hal ini atau tidak, tapi kalau kepergian Sakti tadi ketempat Cinta. Aku yakin, Sakti tahu kejadian ini." keluh Rita.


"Wow, syukurlah kalau Sakti sudah tahu kelakuan busuk wanita itu. Aku menjadi lega."


"Tapi, Mas. Coba deh, kamu temui Cinta dan bicara empat mata dengannya. Siapa tahu, kedekatan Cinta dengan pria itu palsu? Cinta sengaja berdekatan dengan pria itu karena ada aku di sana? Aku sempat melihat raut wajah kecewanya. Kamu sebagai orang tua kandung Sakti, seharusnya kamu bicara baik-baik dengan Cinta dan cari jalan keluar selain perpisahan. Aku mohon, Mas. Aku menginginkan yang terbaik untuk putramu." pinta Rita memohon.


"Perpisahan adalah jalan yang terbaik. Kamu tidak perlu memikirkannya. Seiring berjalannya waktu, luka di hati Sakti akan sembuh dan dia bisa mencari pengganti yang melebihi wanita itu. Kamu tenang saja, Sakti anak yang kuat."


"Tapi, Mas. Kamu harus bicara empat mata. Kamu ceritakan semua yang kamu tidak sukai tentang Cinta. Aku mohon, Mas. Aku temani, ya!"


"Rita, sayang! Dari pada kamu memikirkan hubungan Sakti, lebih baik kamu pikirkan hubungan kita saja." jawab Ayah Sakti dengan tegas.

__ADS_1


"Pikirkan ucapanku, kita tidak boleh egois. Kasihan Sakti, kamu bilang, dia trauma akan masalalu nya yang kelam, kan? Jadi, jangan buat dia trauma lagi dengan sikap egois kita. Aku mau pulang, terimakasih!" ucap Rita berjalan menuju taksinya. 'Walaupun kamu tidak menyukaiku sebagai calon ibu tirimu, tapi aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu, Sak!' batinnya.


__ADS_2