Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 8


__ADS_3

Di saat Cinta sedang mencari patahan jarum, tiba-tiba ekor matanya melihat sepatu hak tinggi yang berada di hadapannya.


Perlahan wajahnya mulai mendongak ke atas. "Bu Desi, hehehe ..." sapa nya sembari tersenyum kuda.


Bu Desi berkacak pinggang sembari menghentakkan kaki kirinya berulang kali.


"Apa yang kau lakukan, ha! Memangnya, pekerjaanmu sudah selesai?" titahnya.


"Em ... aku sedang mencari patahan jarum. Aku takut, patahan itu menyelinap ke pakaian ini. Jadi, aku mencarinya." jawab Cinta jujur.


"Lihatlah tumpukan kain di belakangmu. Kau tidak bisa bermain-main. Jadi, bekerjalah dengan cepat dan rapi!" pekik Bu Desi.


Cinta menutup telinganya dengan kedua tangannya. "Aku dengar, Bu! Ibu tidak perlu berbicara seperti--"


"Kau berani membantahku, ha! Aku ini atasanmu. Jangan membantah atau aku pecat, kau! Masih banyak orang di luar sana yang mengincar posisimu, Cinta!" pekik Bu Desi.


"I-iya, Bu. Tapi aku harus memanggil mekanik untuk melepas sisa patahan jarum yang masuk ke dalam mesin." ucap Cinta berlari menuju ruang mekanik.


Tak sengaja saat berlari, Cinta menabrak seseorang yang baru saja tiba di dalam pabrik.


"Ma--" ucapan maafnya terhenti saat melihat pakaian yang menurutnya tidak asing. Perlahan tapi pasti, Cinta mengarahkan pandangannya ke arah orang tersebut. "Ma-mas, eh, maksudku, Pak Sakti." ucap Cinta lirih.


Sakti tersenyum sembari menyilangkan ke dua tangannya di dadda.


Sedangkan rekan kerja Sakti mendorong tubuh Cinta sampai terbentur meja mesin jahit.


"Aw ..." ringis Cinta membuat Sakti melangkahkan beberapa langkah menghampirinya.


Cinta mengulurkan tangannya, "Aku baik-baik saja, maafkan aku sudah--"


"Lain kali bekerjalah dengan baik. Beruntung yang datang aku dan Sakti, jika yang datang pemilik perusahaan ini, apa yang akan terjadi padamu, ha!" ketus Delon.


"Ma-maaf, Pak." jawab Cinta sembari menundukkan kepalanya dengan tangan yang terus mengusap lengannya.


"Kamu baik-baik saja, Cin?" tanya Sakti yang cemas.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Pak. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku harus pergi menemui mekanik." jawab Cinta kemudian berlari menuju ruang mekanik.


Sakti menatap punggung kekasihnya yang berjalan menjauhinya. Lalu tatapan itu kembali beralih ke arah rekan kerjanya, Delon.


"Apa yang kau lakukan, ha? Dia wanita, tidak sepantasnya kau mendorong wanita sekasar tadi!" ketus Sakti.


"Aku kasar? Apa aku tidak salah dengar? Sikapku tadi kasar? Dia pantas mendapatkan hukuman, Sak! Aku menyelamatkannya dari sikapnya yang ceroboh. Coba saja, pemilik perusahaan ini datang dan melihat sikap ceroboh karyawannya. Pasti, wanita itu langsung di pecat." jawab Delon melanjutkan langkahnya di ikuti oleh Sakti di sampingnya.


"Tapi, sikapmu sangat berlebihan. Kau bisa menegurnya, tidak perlu mendorongnya sampai terbentur meja. Kasihan wanita itu, pasti lengannya terluka." ucap Sakti membuat Delon menghentikan langkahnya.


"Sak, sejak kapan kamu begitu perhatian dengan karyawan pabrik? Atau jangan-jangan kamu menyukai wanita itu?"


"Itu bukan urusanmu. Kita sedang membahas sikapmu yang kasar!" titah Sakti, lalu tak sengaja melihat kekasihnya berjalan dengan seorang mekanik yang tampan. "Sejak kapan mekanik di pabrik ini berubah menjadi muda dan tampan?" gumamnya yang dapat di dengar oleh Delon.


"Haduh, Sakti, sakti! Sejak dulu mekanik di perusahaan kita harus tampan. Aku sengaja menuliskan persyaratan di brosur pabrik ini. Aku mau, semua orang di sini tidak bosan melihat mekanik yang tua." jawab Delon lalu menghentikan supervisor dari bagian lain dan berbincang.


Sakti melihat Cinta yang tengah berbicara dengan mekanik tampan.


'Cinta dekat sekali dengan pria itu. Aku jadi takut, Cinta jatuh hati dengan pri itu.' batin Sakti memasang raut wajah kesalnya.


"Anak itu benar-benar menggemaskan." gumam Sakti.


"Siapa yang menggemaskan?" tanya Delon yang baru saja kembali. "Aku menggemaskan?" tanyanya lagi.


Sakti tersadar, "Sejak kapan kau menggemaskan, ha? Justru kau menggelikan." ucapnya sembari berjalan menuju Cinta.


Delon melototkan matanya tak suka sembari mengejar rekan kerjanya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Sakti setelah berhadapan dengan Cinta dan mekanik tampan.


"Pak Sakti," ucap mekanik yang bernama Nunu.


"Kalian sedang apa?" tanya Sakti lagi yang tak lepas pandangannya menatap kekasihnya.


"Kebetulan ada sedikit masalah di mesinku. Jadi, aku butuh bantuan Mas Nunu untuk memperbaikinya." jawab Cinta.

__ADS_1


"Iya, benar. Mesin Cinta sedikit bermasalah. Patahan jarumnya entah pergi kemana. Sebaiknya, kamu gunakan mesin lainnya dan biarkan aku perbaiki mesinmu ini." titah Nunu sembari membongkar mesin obras.


"Baiklah, terimakasih Mas Nunu."


"Sama-sama. Oh, iya, Cinta, jangan lupa jam makan siang!" ucap Nunu yang masih terdengar Sakti.


"Aku tidak lupa, Mas. Tidak pernah lupa." jawabnya lalu meminta izin untuk pamit.


Sakti menatap kepergian kekasihnya dengan segudang pertanyaan.


'Jam makan siang? Bukankah, kita sudah sepakat untuk pergi makan siang bersama, tapi kenapa Cinta membuat janji juga ke mekanik ini? Apa kurangnya aku? Aku tampan dan aku lebih unggul dari mekanik itu. Pasti Cinta lupa dengan janjinya padaku. Anak itu memang pelupa.' batin Sakti kemudian merasakan getaran di ponselnya.


Sakti merogoh dan melihat pesan masuk dari kekasihnya.


'Jangan marah. Aku dan Mas Nunu hanya sebatas teman kerja. Dan Mas Nunu berjanji akan membelikanku es krim, tapi hanya sebentar, Mas. Makan siangku tetap bersamamu.' gumam Sakti sembari membaca pesan, lalu melihat kekasihnya yang sedang berdiri tak jauh darinya sembari melambaikan tangannya.


"Kenapa?" tanya Delon saat melihat ekspresi temannya yang berubah.


Tak ingin menjawab pertanyaan temannya, Sakti lebih memilih membalas pesan untuk kekasihnya, Cinta.


'Pergilah bersama mekanik itu, tapi berjanjilah hanya sebentar. Aku akan siapkan makan siang kita di restoran dekat dengan pabrik. Kamu langsung saja pergi. Aku akan menunggumu di sana.' send Cinta.


Ting ....


Cinta melihat balasan pesan dari kekasihnya. "Terimakasih," ucapnya monolog.


Di saat Cinta ingin membalas pesan dari kekasihnya, tiba-tiba ponselnya di rebut oleh supervisor yang menyebalkan.


"I-ibu, kenapa ponselku di ambil? Aku perlu membalas pesan seseorang." titah Cinta. "Kembalikan ponselku, Bu." sambungnya lagi.


"Bekerjalah. Teman-temanmu selalu bekerja dengan baik, tapi kau ... kau malah bersembunyi di sini sembari bertukar pesan. Kau sudah bosan bekerja di sini, ha! Jika sudah bosan, kirimkan surat pengunduran dirimu besok. Aku akan menyetujuinya." ketus Bu Desi, supervisor line Cinta.


"Ja-jangan, Bu. Aku masih membutuhkan pekerjaan ini. Kalau aku tidak bekerja di sini, aku mau bekerja di mana lagi? Sedangkan aku mempunyai beban hidupku sendiri." lirihnya.


"Kalau kau tahu, maka bekerjalah dengan baik. Pakai mesin yang tidak terpakai. Kita sedang di kejar deadline, Cinta!" pekik Bu Desi yang terdengar sampai telinga Sakti

__ADS_1


__ADS_2