Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 21


__ADS_3

Di saat Dewa tengah mengeluh, tiba-tiba dia mendengar suara mobil yang berhenti tepat di halaman rumahnya. Dengan segera, Dewa berlari dan mengintip dari balik tirai jendela.


Terlihat sahabatnya turun dari taksi dengan wajah yang menyedihkan, dan tak jauh dari taksi tersebut, Dewa dapat melihat mobil Sakti yang tengah berhenti seperti sedang memantau keadaan sekitar.


"Apa mereka bertengkar?" gumam Dewa memutar gagang pintu, "Argkh, sial! Aku lupa, kalau pintu rumah terkunci dari luar." sambungnya lagi.


Sakti berlari menghampiri Cinta untuk memberikan kunci rumah yang di pegangnya.


"Cin, biar aku buka pintunya, ya!"


"Tidak perlu, kamu bisa pergi!" ketus Cinta merebut paksa kunci pintu rumahnya.


Sakti mengangguk dan berjalan menuju mobilnya. Berulang kali, Sakti menoleh ke arah punggung Cinta yang sedang terdiam di depan rumah.


Cinta memutar memasukkan kunci pintu rumahnya ke dalam lubang yang sudah di sediakan.


Krek!


Pintu rumah berhasil terbuka dan Cinta segera masuk lalu menutup pintunya lagi.


"Apa yang terjadi?" tanya Dewa yang mengejutkan Cinta.


Cinta terkejut lalu mengusap daddanya berulang kali. "Kamu mengagetkanku saja, Wa!" ucap Cinta.


"Apa yang terjadi?" tanya Dewa lagi.


"Tidak terjadi apa-apa, Wa. Aku mau masuk ke kamar." ucap Cinta.


Dewa meraih tangan sahabatnya, "Ada apa, Hem? Katakan, aku tahu kamu sedang bertengkar dengan Sakti, kan? Aku melihat interaksimu tadi di luar rumah."

__ADS_1


"Aku tidak ada apa-apa, Wa!" ucap Cinta menepis kasar tangan sahabatnya. "Tolong jangan ganggu aku. Apa yang kamu ucapkan semuanya benar, Wa. Seharusnya, orang miskin sepertiku tidak pantas mencintai pria yang tidak sederajat denganku. Rasanya sangat sakit, Wa, sakit sekali! Kenapa keberuntungan tidak berpihak padaku? Hatiku sakit, aku hancur. Kenapa harus aku? Kenapa harus Mas Sakti? Kenapa harus kita berdua, hiks ... hiks ..."


Dewa menarik tubuh sahabatnya ke dalam pelukan. "Menangislah sampai kamu puas, Cin. Setelah itu, kamu ceritakan semuanya padaku, ya?"


"Wa, semuanya benar. Apa yang kamu ucapkan benar. Mas Sakti bukan orang sembarangan. Aku merasa di tipu olehnya. Aku benar-benar bodoh, Wa!" lirih Cinta mengeratkan pelukannya. "A-aku bodoh!" sambungnya lagi.


"Kamu tidak bodoh, Cin, kamu tidak bodoh. Jangan merasa bodoh. Tidak ada manusia di dunia ini yang bodoh. Sekarang, tenangkan dirimu dulu. Kita duduk di kursi, ya!" titah Dewa membantu sahabatnya berjalan menuju sofa ruang tamu.


"Duduklah!" titah Dewa lagi.


Cinta menjatuhkan pantatnya di sofa dan di ikuti oleh sahabatnya di sampingnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Dewa.


Lagi dan lagi, Cinta menghapus air matanya yang tengah mengalir deras membasahi pipinya.


"Hiks ... hiks ... Dewa, apa kamu tahu, siapa Mas Sakti sebenarnya?" tanya Cinta yang mendapat gelengan dari pria di sampingnya.


"Benar, apa yang kamu ucapkan benar, Wa, tapi ada satu kebohongan yang membuat hatiku hancur. Ternyata selama ini, Mas Sakti sudah membohongiku, Wa. Dia sengaja menutupi semuanya dariku karena dia pikir aku wanita matre yang gila harta!" gumam Cinta lalu menatap wajah sahabatnya. "Tatap wajahku, Wa. Apa wajahku, wajah wanita yang gila harta? Katakan saja! Aku butuh jawaban jujur darimu!"


Dewa menatap lekat ke dua bola mata sahabatnya. Terlihat jelas raut wajah kesedihan.


Perlahan jemari Dewa menghapus air mata yang tengah mengalir.


"Cinta, kamu wanita baik-baik, tidak mungkin orang-orang menganggapmu wanita matre. Kamu pekerja keras. Teman-temanmu pun tahu, itu!" ucap Dewa.


"Tapi kenapa Mas Sakti membohongiku, Wa? Dia menyamar menjadikan pegawai kantor padahal dia anak pemilik perusahaan tempatku bekerja. Hati ini sakit, Wa. Aku merasa, kalau aku tempat bermain-mainnya saja."


"Anak pemilik perusahaan?" gumam Dewa tak percaya. "Apa aku tidak salah dengar? Sakti anak pemilik perusahaan tempatmu bekerja? Itu artinya, kamu wanita yang kurang beruntung. Tidak sepantasnya, orang-orang seperti kita menjalin hubungan dengan orang-orang seperti Sakti." jawab Dewa menggenggam tangan sahabatnya. "Kamu tenang saja, ada aku yang selalu menjagamu. Mulai sekarang, kamu tidak perlu memikirkan fakta yang menyakiti dirimu sendiri."

__ADS_1


"Aku memutuskan untuk keluar dari pabrik, Wa. Aku tidak mau melihat wajah Mas Sakti lagi. Aku mau move on darinya. Tolong bantu aku move on, Wa, Please!"


"Dengan cara apa, Cin? Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mencari cara. Sebaiknya, kamu istirahat di kamar. Tidak perlu memikirkan hal seperti ini. Biar aku yang mengurusnya!" titah Dewa.


"Terimakasih, Wa. Kamu sahabat yang paling baik di dunia ini. Aku senang, mempunyai sahabat sepertimu. Tetap seperti ini, ya, Wa. Jangan pernah berubah, walau suatu saat nanti kamu menikah dengan wanita yang kamu cintai. Aku pasti merindukan moment-moment ini!" ucap Cinta melingkarkan tangannya ke pinggang Dewa. "Kamu sahabat terbaikku!" sambungnya lagi.


"Hem, istirahatlah. Asal kamu tahu, semua ini tidak gratis. Aku akan meminta bayaran di saat aku butuh bantuanmu!" titah Dewa melepas lingkaran tangan sahabatnya. 'Maaf, Cin, tapi sebaiknya dalam beberapa hari, kita tidak perlu kontak fisik. Aku tidak mau kamu mengetahui perasaanku yang sebenarnya.' batin Dewa menatap punggung Cinta yang berjalan menuju kamar.


Di sebuah rumah yang cukup luas dan mewah, mobil Sakti terparkir diantara beberapa mobil koleksinya.


Sakti berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Apa yang ayah katakan sudah membuat Cinta marah dan memutuskan hubungannya denganku!" pekik Sakti emosi.


Rita berjalan beberapa langkah untuk menenangkan putra dari kekasihnya.


"Kamu yang tenang dulu, Sak. Kita bisa bicarakan semua ini dengan baik." titah Rita.


Sakti menepis kasar tangan Rita yang tengah mengusap pundaknya.


"Jangan sentuh tubuhku! Aku tidak suddi di sentuh olehmu." ketus Sakti, "Dan bukankah kita sudah sepakat? Tapi kenapa Ayah mengingkari janji ayah sendiri dengan cara membongkarnya identitas asliku di depan Cinta."


"Dia berhak tahu, Sak. Kamu tidak boleh menipunya terus-terusan! Kasihan dia!"


"Kasihan? Lalu apa ayah kasihan padaku, tidak, kan? sindir Sakti.


"Ayah ingin yang terbaik untukmu, Sak! Jika dia tiba-tiba pergi meninggalkanmu, itu akan jauh menyakiti hatimu. Sekarang, bukankah kita tahu sikap orang itu seperti apa? Jadi, kamu bisa waspada."


"Terbaik? Cih, aku tidak pernah berpikir buruk karena aku telah mengenalnya lama. Dan sekarang, aku harus bertemu dengannya di rumah. Aku harus meminta maaf padanya."

__ADS_1


"Tidak perlu. Kamu tidak perlu meminta maaf ke rumahnya. Aku yakin, dia tidak mau membukakan pintu rumahnya." ucap ayah Sakti.


__ADS_2