Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 13


__ADS_3

Cinta terdiam saat melihat tangan Sakti terulur membersihkan sisa makanannya di area bibir.


"Sudah bersih. Kamu boleh makan lagi." titahnya.


"Cara makanku sangat memalukan ya, Mas?" tanya Cinta yang tak berselera makan.


"Tidak. Siapa yang bilang, Hem? Justru aku senang melihatnya, aku gemas." jawab Sakti menyendokkan makanannya. "Aaakkk ...." titahnya.


"Makananku masih ada, Mas."


"Aaakkk .... sayang!" titah Sakti membuat Cinta membuka lebar mulutnya.


"Mas, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa makan sendiri. Kita tidak ada waktu untuk melakukan hal yang romantis."


"Makan saja dulu, tidak perlu memikirkan pekerjaan. Aaakk lagi?" titah Sakti.


Cinta menerima suapan dari kekasihnya.


Tak menyadari jam makan siang sudah habis, Cinta serta Sakti terus melakukan hal romantis.


Waktu sudah menunjukkan pukul 1.30.


Deg!


Garpu yang berada dalam genggaman Cinta seketika tergeletak sembarangan.


"Ada apa, Cin?" tanya Sakti.


"Mas, lihat jam! Tolong!" titah Cinta membuat Sakti meraih ponsel Cinta dan melihat jam di ponsel tersebut.


"Memangnya ada apa?" tanya Sakti dengan santai.


"Kamu bilang ada apa? Mas, kita sudah terlambat setengah jam. Haduh, Bu Desi bisa marah besar. Dia pasti berpikir jika aku sedang membuat surat pengunduran diriku. Oh, Tuhan, tolong aku! Aku harus pergi, Mas. Maafkan aku." titah Cinta beranjak dari tempat duduknya.


"Cin, tunggu!" titah Sakti, "Aku antar, akan lebih cepat jika aku mengantarmu."

__ADS_1


"Tapi kalau ada yang melihatku bersamamu, bagaimana Mas?" tanya Cinta mulai cemas.


"Kamu tidak perlu cemas, aku bisa beralasan. Sekarang, pikirkan dirimu saja dulu. Kamu mau di pecat, Hem?"


"Tidak, aku tidak mau di pecat. Apa kamu tega memecatku, Mas? Yang berhak memecat karyawan itu kamu." kesal Cinta, "Aku ikut kamu, Mas, tapi kamu harus janji, kamu tidak memecatku?" tawar Cinta.


Sakti menggenggam tangan Cinta erat berjalan keluar restoran.


Mereka masuk ke dalam mobil yang sama. Dan mobil pun berjalan membelah jalanan ibukota.


"Aku berjanji, aku tidak akan memecatmu, asalkan kamu patuh padaku. Walaupun kita menjalin hubungan, tapi aku harus bekerja dengan profesional. Aku tidak mau hubungan percintaan ini masuk ke dalam pekerjaan." ucap Sakti sembari fokus mengendarai mobilnya.


"Iya, aku tahu, Mas, aku juga tidak melarangmu untuk memarahiku, jika aku melakukan kesalahan. Tapi apa kamu akan memecatku, Mas? Karena sekarang, aku sedang melakukan kesalahan. Terlambat setengah jam merupakan kesalahan fatal." tanya Cinta.


"Kita lihat saja keputusan teman-teman kantor. Mau bagaimana pun, aku harus membicarakannya dengan mereka. Siapa tahu, teman-teman kantor memberimu kesempatan lagi karena kinerjamu yang bagus?"


"Belum tentu, Mas. Sekarang aku tanya, apa semua orang kantor mengenali dan melihat cara kerjaku di pabrik, Mas? Yang melihat cara kerjaku di pabrik, itu hanya teman-teman satu line dan supervisorku yang menyebalkan. Pasti Bu Desi mengatakan keburukanku di depanmu dan dia memintamu untuk memecatku. Tapi tidak apa-apa, Mas, kalau kamu memecatku. Aku akan coba menerimanya. Semoga saja, atasanmu tidak marah atau memecatmu juga setelah mengetahui kamu terlambat ya!" ujar Cinta menepuk pundak kekasihnya lembut.


'Aku tidak mungkin di pecat dari perusahaan itu, karena aku adalah anak pemilik perusahaan tempatmu bekerja, Cin. Ternyata, cintamu untukku sangat tulus. Kamu sama sekali tidak keberatan dengan pekerjaanku yang sekarang. Bahkan kamu mencemaskanku. Aku benar-benar beruntung mempunyai kekasih sepertimu dan aku tidak akan melepaskanmu!' batin Sakti.


"Iya, sayang, aku mendengarnya. Ada apa, Hem?" tanya Sakti.


"Putar balik, Mas!" titah Cinta membuat Sakti menautkan kedua alisnya. "Mas, cepat putar balik!" titahnya lagi.


"Putar balik untuk apa? Apa ada sesuatu yang tertinggal di restoran?" tanya Sakti yang mendapat gelengan kecil dari kekasihnya.


"Tidak, Mas. Tapi kita sudah melewati pabrik tempat kita berkerja. Cepat putar balik, Mas!" ujar Cinta membuat Sakti mengerem mobilnya mendadak.


Citt ....


"Apa? Tapi kenapa aku tidak melihat pabrik itu?" tanyanya syok.


"Ish, memangnya, apa yang ada di pikiranmu, Mas? Sampai-sampai kamu tidak melihat bangunan pabrik yang luas dan besar, ha?" tanya Cinta balik.


Sakti menatap kaca spion mobilnya. Dia melihat bangunan pabrik miliknya yang tak jauh darinya.

__ADS_1


"Iya, kamu benar, sayang. Pabrik kita sudah kelewatan." jawab Sakti.


"Ya, Mas, maka dari itu, cepat, Mas!" titah Cinta, "Kita tidak boleh mengulur waktu lebih lama. Bisa-bisa mulai besok aku menjadi pengangguran berkelas!" titah Cinta.


Sakti memutar balik mobilnya.


Cinta menatap jam di layar ponselnya yang hampir menunjukkan pukul 2 siang.


Rasa cemas, khawatir dan ketakutan menyatu dalam satu jiwa.


"Pecat aku saja, Mas!" titah Cinta yang lagi dan lagi membuat Sakti syok.


"Apa yang kamu ucapkan, sayang? Aku tidak mungkin memecatmu. Kamu tidak perlu khawatir, kamu masih bisa bekerja di pabrik itu." jawab Sakti.


"Kalau Mas Sakti tidak mau memecatku, maka aku sendiri yang akan mengundurkan diri. Mereka semua akan menganggap kalau kamu orang aneh, Mas. Kamu pernah memecat orang dengan catatan orang itu terlambat 10 menit saja, tapi aku ... aku terlambat hampir satu jam. Jika aku tidak di pecat, namamu di mata karyawan pabrik sudah jelek, Mas!" titah Cinta.


Sakti berpikir sejenak. "Iya, kau benar juga, sayang, tapi aku tidak akan memecatmu sampai kamu mendapatkan pekerjaan baru. Dan aku tidak akan terima surat pengunduran diri darimu." jawab Sakti dengan tegas.


"Kalau kamu tidak mau menyetujui surat pengunduran diriku, maka aku akan memberikannya langsung kepada pemilik perusahaan ini. Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu, Mas. Aku tidak mau kamu di pecat. Biar aku saja yang di pecat."


Mobil Sakti masuk ke dalam kawasan pabrik.


"Pergilah. Aku mau memikirkan jalan keluar dari masalah ini, tanpa ada pemecatan!" titah Sakti.


Cinta membuka pintu mobil, "Maafkan aku, Mas, aku tidak mau membuatmu menderita." jawab Cinta lalu keluar dari mobil meninggalkan Sakti di dalam mobil.


Cinta berlari dan masuk ke dalam pabrik. Semua orang-orang terfokuskan dengan kehadiran Cinta.


"Cinta, apa yang kamu lakukan, ha! Apa kamu tidur, atau kamu ingin membuat surat pengunduran dirimu?" tanya Bu Desi dengan nada lembutnya.


Cinta menautkan kedua alisnya saat mendengar suara lembut yang keluar dari bibir supervisor.


'Apa aku tidak salah dengar? Bu Desi berbicara lembut padaku? Di mana nada tinggi yang merusak telingaku?' batin Cinta.


"Cinta, apa kau mendengarku!" Bu Desi mulai menaikkan nada suaranya.

__ADS_1


"Eh, iya, Bu. Maafkan aku, aku terlambat karena--" ucapan Cinta terhenti.


__ADS_2