Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 18


__ADS_3

Hembusan napas kasar terdengar di telinga Cinta sendiri.


"Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Aku takut, orang tua Mas Sakti tidak mau menerimaku, tapi aku juga tidak mau mengecewakan Mas Sakti. Aku mau serius dengannya." gumamnya lagi lalu dirinya mendengar ancaman dari sahabatnya yang berada di luar kamar.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau keluar dari kamar. Itu artinya, aku sendiri yang akan keluar menemui kekasihmu." ancam Dewa yang semakin membuat Cinta terpojokkan.


"Jika Dewa keluar dan menemui Mas Sakti, pasti Mas Sakti mengira, kalau aku menyembunyikan pria asing di rumah ini. Dan dia mengira jika dirinya telah di khianati. Lalu, setelah itu, dia memutuskan hubungan ini. Aduh, bagaimana, ini?" gumam Cinta beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mondar mandir sembari menggigit ujung kukunya.


Setelah menimang-nimang, akhirnya Cinta membuka pintu kamarnya, tapi keberuntungan tidak berpihak padanya. Dia tidak melihat sahabatnya di depan pintu kamar. Seketika dirinya berlari menuju pintu utama.


Setelah berada tak jauh dari pintu utama, Cinta dapat melihat sahabatnya yang tengah membukakan pintu untuk Sakti.


Cinta terkejut, dia langsung berlari dan mencegahnya.


"Kamu mau apa?" tanya Cinta. "Biar aku saja yang membukakan pintu, lebih baik kamu bersembunyi di dalam kamarmu. Aku tidak mau Mas Sakti melihatmu dan menuduh kita berselingkuh." sambungnya lagi.


"Apa yang kau pikirkan, Hem? Sedari tadi Aku memanggilmu, atau jangan-jangan kau baru bangun tidur?" tebak Dewa.


Cinta memukul lengan Dewa. "Jangan gila, ini sudah siang. masuklah, Aku tidak mau membuat Mas Sakti curiga." titah Cinta membuat Dewa memutar tubuhnya dan berjalan menuju kamar.


Setelah melihat kepergian sahabatnya, Cinta mengatur napasnya sejenak.


Tok ...


Tok ....


"Cinta, kau baik-baik saja, kan?" teriak Sakti yang mulai mencemaskan keadaan kekasihnya.


"Iya, tunggu sebentar, Mas!" jawab Cinta kemudian membuka pintu utama rumahnya.


Krek ...

__ADS_1


Pintu terbuka, Cinta dapat melihat Sakti yang sudah siap menggunakan pakaian santainya.


"Ayo, Ayah sudah menunggumu." titah Sakti.


"Tunggu, Mas. Apa penampilanku memalukan?" tanya Cinta sembari memutar tubuhnya.


Sakti melihat penampilan kekasihnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menggunakan celan jeans high waist, serta kaos putih pendek. Rambut yang biasanya tergerai indah pun, kini sudah di kucir kuda.


"Apa aku salah kostum? Apa aku harus menggunakan dress? Atau aku harus--"


"Kamu sudah cantik, Cin. Lebih baik, kita pergi sekarang, juga. Ayah sudah menunggu kita di restoran." titah Sakti.


"Restoran?" gumam Cinta, "Kenapa kamu baru bilang sekarang kalau kita ketemu di restoran, Mas. Tunggu, aku mau ganti pakaianku dulu. Kasihan ayahmu, Mas. Pasti dia malu saat melihat penampilan pacar anaknya yang--"


"Ayahku tidak mungkin malu. Justru, ayahku senang, karena aku mempunyai pacar yang sangat imut dan menggemaskan. Bukankah, semua ucapanku benar?" timpal Sakti meraih tangan Cinta keluar rumah.


Setelah keluar rumah, Sakti menutup pintu rumah kekasihnya. "Berikan kunci rumahmu." titah Sakti sembari menengadah.


Sakti melihat kunci rumah yang masih tergantung di lubang kunci.


Sakti mengambil kunci tersebut.


"Mas, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengambil kunci rumahku?" tanya Cinta yang tetap diabaikan kekasihnya.


Sakti mengunci pintu rumah Cinta. "Seharusnya, kamu kunci pintu rumahmu, sayang. Aku baru saja melihat berita, ada beberapa rumah kemalingan karena rumah itu tidak di kunci saat pemiliknya berpergian. Nah, aku tidak mau rumahmu ini kemalingan. Jadi, aku kunci dan simpan kuncinya di saku ku. Sekarang, kita berangkat!" titah Sakti mengulurkan tangannya.


Cinta tersenyum kecut saat melihat kunci rumahnya jatuh ke dalam saku celana kekasihnya.


"Tapi aku sudah biasa, Mas. Dan di rumahku tidak ada barang berharga. Mana mungkin, rumahku--"


"Oh, iya, pintu belakang sudah di kunci belum? Kamu harus menguncinya, sayang!" timpal Sakti cepat.

__ADS_1


Cinta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 'Bagaimana caraku menjelaskan ke Mas Sakti. Kasihan Dewa di dalam!' batin Cinta.


"Sayang, jawab pertanyaanku. Pintu belakang sudah di kunci belum?" tanya Sakti lagi membuat Cinta menggelengkan kepalanya.


Melihat gelengan kepala dari kekasihnya, Sakti langsung mengambil kunci rumah kekasihnya yang di simpan di saku celananya.


"Mas, kamu mau apa lagi? Kenapa kunci pintu rumahnya di buka?" tanya Cinta.


Sakti membuka kunci dan pintu rumah kekasihnya. "Aku tunggu di sini, dan kamu kunci pintu belakang. Jangan biarkan maling bebas keluar masuk ke dalam rumahmu, sayang!" titah Cinta.


"Tidak perlu, Mas. Sudah cukup, kita mengunci pintu depan saja. Pintu belakang tidak perlu di kunci. Sebaiknya, kita pergi saja. Kasihan ayahmu yang sudah menunggumu." ajak Cinta.


"Tunggu. Kita tidak bisa pergi, sayang! Aku akan mengeceknya. Kamu tunggu di sini, biar tidak ada fitnah dari tetangga yang melihat kita." ucap Sakti mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Cinta.


Melihat kekasihnya masuk ke dalam rumahnya. Cinta langsung berlari menyusulnya.


'Aduh, semoga saja Dewa ada di kamarnya. Aku takut, Dewa tiba-tiba muncul di hadapan Mas Sakti.' batin Cinta ketakutan. "Mas, biar aku saja yang mengunci pintu belakang rumahku. Kamu tunggu di luar saja, ya!"


Sakti menghentikan langkahnya. "Kenapa? Kita sudah ada di ruang tamu. Tinggal lanjutkan saja ke pintu belakang? Apa jangan-jangan kamu marah karena masalah semalam dan kamu tidak mau, aku masuk ke dalam rumahmu?" tuduh Sakti lagi.


"Bukan, Mas. Bukan aku yang marah karena kejadian semalam, tapi kamu yang marah padaku, kan? Maka dari itu, aku--"


"Sudahlah, sayang. Kamu tidak perlu membahas itu, aku sudah melupakannya. Dan sekarang, kita kunci pintu belakang sama-sama, ya. Kita tidak ada waktu untuk bertengkar!" timpal Sakti dengan cepat.


Di sisi lain, Dewa yang tengah merilekskan tubuhnya di sofa kamar pun samar-samar mendengar perdebatan antara sahabatnya dengan kekasih sahabatnya.


'Sedang apa mereka? Aku pikir, mereka sudah pergi, tapi kenapa mereka ada di dalam rumah?' batin Dewa berjalan beberapa langkah menuju dinding pintu kamarnya.


'Baiklah, kita kunci pintu sama-sama." jawab Cinta pasrah.


"Bagus, ayo kita pergi ke pintu belakang!" ajak Sakti menarik tangan kekasihnya.

__ADS_1


"Kunci pintu? Apa yang terjadi? Mereka berdua mau mengurungku di dalam rumah ini? Ini tidak boleh terjadi. Aku harus keluar dan membicarakan semuanya." titah Dewa menarik gagang pintu kamarnya. "Tapi kalau aku keluar, itu sama saja, membuat Cinta marah padaku. Ya, sudahlah, dari pada Cinta marah padaku. Lebih baik, aku tunggu mereka pergi. Jika mereka mengunci semua pintu pun tak masalah. Ini hari libur, dan acaraku hanya bertemu dengan Siska. Tapi hari ini aku malas bertemu dengannya."


__ADS_2