
Sakti mengusap wajahnya dengan kasar, "Lalu, aku harus bagaimana, ha? Aku tidak bisa menyia-nyiakan wanita seperti Cinta. Aku yakin, di dunia ini tidak ada yang mempunyai sikap dan sifat seperti Cinta, termasuk kekasih ayah sendiri."
"Jaga ucapanmu, Sak! Ingat, kamu harus menghormati Tante Rita. Dia calon ibu tiri kamu!"
"Ibu tiri? Aku harus menghormati wanita pilihan Ayah? Tapi, ayah tidak pernah menghormati wanita pilihanku? Aku tidak bisa memperlakukan wanita itu manis seperti Ayah memperlakukan nya." ketus Sakti melangkahkan kakinya menuju kamar.
Rita tersenyum manis saat mendengar ucapan dari Sakti yang menyinggung perasaannya.
"Mas, kelihatannya, apa yang kita lakukan salah. Aku melihat Cinta itu tulus mencintai Sakti. Kita tidak bisa memisahkannya."
"Aku tidak suka Sakti berhubungan dengan wanita yang notabennya pekerja pabrik. Asal kamu tahu, semua pekerja pabrik menurutku kebanyakan gaya. Uang gaji mereka di gunakan untuk merawat dirinya dan menggoda pria yang berkerja di pabrik itu juga. Aku yakin, Cinta hanya memanfaatkan Sakti saja. Aku bersikap manis di depannya karena aku tidak mau basa basi lagi. Cukup kamu ceritakan semuanya dan aku tambahkan saja. Kamu bisa lihat sendiri ekspresi Cinta seperti apa, kan?"
"Tapi dia tulus, Mas." jawab Rita.
"Untuk sekarang ini, aku tidak tahu apa artinya tulus dan apa artinya mulus. Bisa saja, semua ini rencana wanita itu? Sudahlah, aku mau lihat, seberapa besar cinta mereka. Jika mereka saling mencintai, mereka pasti bisa menghadapi semua ini dengan baik."
"Kamu, Mas, selalu saja mencari alasan. Aku tidak mau melihat anakmu terluka hatinya. Cinta wanita yang sangat cantik dan menggemaskan. Bukan hanya sakti yang menyukainya, saja. Tapi banyak pria di luar sana yang menyukainya. Semoga keputusanmu ini benar dan tidak merugikan Sakti. Aku tidak mau mendengar Sakti gila karena Cinta sudah mendapatkan pujaan hatinya." kesal Rita berjalan menuju pintu utama.
"Rita, kamu mau kemana?" teriak Ayah Sakti yang berjalan cepat menyusul kekasihnya.
"Aku mau pulang, Mas. Lama kelamaan aku emosi mendengar rencanamu yang menurutku sangat merugikan anakmu." jawab Rita.
__ADS_1
"Biar aku antar!"
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula, rumahku tidak terlalu jauh. Setelah sampai di rumah, aku akan menghubungimu. Kamu istirahat saja, Mas." jawab Rita kemudian melanjutkan langkahnya keluar rumah.
Tak bisa beristirahat. Cinta memutuskan untuk menenangkan dirinya di taman dekat rumahnya. Taman yang banyak sekali anak kecil bermain dan tertawa bahagia.
'Apa bisa, Tuhan memutar waktu lagi untukku? Rasanya, aku capek menjadi orang dewasa. Aku mau seperti mereka, yang berlari dan tertawa tanpa memikirkan percintaan dan pekerjaan yang menjadi beban utama bagi wanita sepertiku,' lirih Cinta dalam hati sembari menatap beberapa anak kecil yang berlarian.
"Maafkan Tante dan Ayah Sakti." titah seorang wanita yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Cinta menoleh dan melihat Rita yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Iya, di perjalanan Tante melihatmu sedang melamun. Jadi, Tante putuskan untuk menemuimu. Pasti kamu merasa di bohongi oleh Sakti, kan?" tanya Rita.
"Em, tidak Tante. Aku tidak apa-apa dan aku tidak merasa, kalau Mas Sakti membohongiku. Aku sedih dengan nasib hidupku ini. Aku tahu, aku tidak bisa bersatu dengan Mas Sakti karena faktor ekonomiku yang jauh di bawah keluarga Mas Sakti." jawab Cinta dengan tatapan lurus ke depan.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan, Hem? Kamu tidak boleh berpikiran seperti itu. Kita semua tidak memandangmu dari status ekonomi. Sakti sangat terpukul."
"Sakti terpukul, Tan?" tanya Cinta tak percaya, "Aku pikir, Mas Sakti hanya ber drama, hehe ..."
"Tidak, sayang. Dia tulus mencintaimu. Sekarang, Tante mau, kamu perbaiki hubunganmu dengan Sakti, ya? Tante sangat mendukungmu."
__ADS_1
"Aku tidak bisa, Tan. Dan aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pabrik. Aku mau menenangkan diriku dulu. Rasa sakit di bohongi memang ada, tapi tidak terlalu sakit. Maafkan aku, Tan." ucap Cinta setelahnya menghembuskan napasnya kasar. "Huh, Tante ibu dari Mas Sakti?" tanya Cinta lagi yang mengalihkan topik pembicaraan.
Rita menggelengkan kepalanya. "Bukan, Tante kekasih Ayah Sakti, tapi kelihatannya hubungan kita tidak bisa sampai pernikahan." keluh Rita.
"Memangnya, kenapa, Tan? Aku melihat kecocokan diantara Tante dan Ayah Sakti. Aku juga melihat sikap Tante yang sangat tulus ke Mas Sakti." tanya Cinta yang mulai tertarik dengan kisah cinta Rita dengan Ayah kekasihnya.
"Sakti tidak merestui kita, Cin." jawab Rita.
"Oh, iya, aku paham. Tadi, sebelum kita berangkat, Mas Sakti sempat mengatakan kalau ada seseorang yang tidak di sukainya, ternyata itu Tante? Tapi kenapa Mas Sakti tidak menyukai Tante? Secara, Tante itu cantik, baik, perhatian, dan penyayang. Apalagi yang kurang dari diri Tante? Menurutku tidak ada yang kurang."
"Iya, itu pemikiranmu, sayang, tapi berbeda dengan pemikiran Sakti. Mungkin, Sakti masih trauma? Dia mempunyai trauma ke ibunya dan membuatnya seperti ini. Jadi, Tante mohon ... kamu kembali ke pelukan Sakti, ya?" pinta Rita memohon.
"Trauma?" gumam Cinta.
"Iya, Sakti dan Ayahnya pernah di campakkan oleh ibu kandungnya. Sebenarnya, Sakti mempunyai kakak, tapi Kakaknya di bawa ibu kandungnya. Mereka terpisah sejak Sakti kecil. Sejak saat itu, Sakti benar-benar menyeleksi seorang wanita. Bahkan, dia tidak punya teman wanita. Dia sangat membenci wanita. Jadi, sewaktu Sakti bercerita kalau dia akan memperkenalkan kekasihnya, Tante dan Ayah Sakti sangat senang. Kita berdua sempat takut, kalau Sakti mempunyai kelainan. Kamu tahu sendirikan, Sakti mempunyai teman hanya satu yaitu Delon." ujar Rita panjang lebar.
"Iya, Tante. Di kantor Mas Sakti dan Mas Delon seperti amplop dan perangko. Sangat lengket. Maaf, Tante. Aku baru tahu tentang trauma itu. Tapi tetap saja, aku tidak mau kembali lagi ke dalam pelukan Mas Sakti. Aku tidak pantas untuknya. Asal Tante tahu, aku mempunyai sisi buruk, buruk sekali! Aku suka telat, aku suka di marahi Bu Desi yang notabennya supervisor di pabrik. Aku tidak mau keluarga Mas Sakti kecewa saat mendengar sisi burukku." lirih Cinta. "Aku kecewa dengan diriku sendiri, Tan!"
Rita menggenggam tangan Cinta erat. "Sayang, bukankah semua manusia mempunyai sisi buruk dan sisi baik? Tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Kita di ciptakan untuk membuat kesalahan. Jangan takut, ada Tante dan Sakti yang akan membantumu. Biar Tante telfon Sakti, ya! Tante suruh Sakti datang kemari dan kalian bisa berbicara empat mata." bujuk Rita.
"Tidak perlu. Aku tidak mau bertemu dengan Mas Sakti. Biarkan semua ini mengalir semestinya. Aku tidak pantas untuk Mas Sakti, Tan!"
__ADS_1