Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 17


__ADS_3

Deg!


Sakti terkejut saat mendengar jawaban dari ayahnya.


"Apa? Calon ibu tiriku?" pekiknya.


"Iya, Sakti. Perkenalkan, dia Tante Rita." titah ayah Sakti.


Rita, wanita cantik yang berusia sekitar 30 tahunan itu pun mengulurkan tangannya.


"Hai, perkenalkan nama Tante, Rita!" ucapnya.


Sakti hanya menatap uluran tangan tersebut tanpa berniat membalasnya.


"Aku capek, aku mau ke kamar. Dan ini sudah malam. Tidak pantas jika wanita bertamu ke rumah pria malam-malam begini. Aku takut, tetangga ada yang melihat dan--"


"Sakti, jaga nada bicaramu. Kamu tahu, kamu sedang berbicara dengan siapa, ha?" ketus Ayah Sakti.


"Sudah tidak apa-apa, Mas. Mungkin Sakti belum bisa menerimaku, tapi aku yakin ... seiring berjalannya waktu, pasti Sakti bisa menerimaku." ucap Rita dengan senyum manisnya.


"Dengar kata wanita itu. Sekarang, aku mau istirahat dan satu lagi, besok aku akan membawa kekasihku kemari. Aku mohon, Ayah bisa menerimanya dengan baik. Hanya dia wanita yang aku cintai!" ucap Sakti yang melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


"Sakti! Sakti!" pekik Ayah Sakti saat melihat kepergian putranya yang tak sopan.


"Mas, sudahlah. Kamu tidak perlu menekannya. Aku tahu, anak seperti Sakti sangat susah menerimaku, tapi kita tidak boleh menekannya. Bisa-bisa Sakti ilfill denganku. Sebaiknya, aku pulang saja, benar yang di katakan Sakti, tidak enak jika tetanggamu melihatku yang masih di rumahmu malam-malam begini!"


"Aku antar kamu. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Dan untuk urusan Sakti, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Aku pastikan, dalam waktu dekat, Sakti bisa menerimamu, sayang. Dan kita akan melangsungkan pernikahan secepatnya. Tolong bersabar, ya!" titah Ayah Sakti yang menggenggam tangan Rita.


"Iya, Mas. Kamu tidak perlu mencemaskannya. Aku akan menunggu waktu itu, tiba. Ayo, antar aku sampai depan mobil." titah Rita.


Di dalam kamar. Sakti menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


Di tatapnya langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda.

__ADS_1


"Aku tidak akan merestui hubungan ayah dengan wanita itu. Cukup sekali saja, Ayah di campakkan oleh ibu. Dan sekarang, aku tidak mau Ayah di khianati oleh wanita lain. Apalagi wanita seperti tadi, aku yakin ... wanita itu hanya mengincar harta ayah saja!" gumam Sakti lalu mendengar suara pintu kamar yang terbuka.


Sakti dapat melihat ayahnya datang dan berjalan mendekatinya.


"Apa yang kau lakukan tadi, Sak? Kau membuat hati Tante Rita hancur dengan sikapmu."


"Aku tidak ingin, Ayah menikah lagi dengan wanita lain. Aku tidak mau kejadian dulu terulang lagi. Apalagi wanita itu seperti Tante Rita. Aku yakin, dia berpura-pura mencintai Ayah saja. Sebenarnya, tujuan utamanya hanya mengincar harta ayah saja. Setelah berhasil menguasai harta ayah, wanita itu akan pergi. Dan ayah akan hancur seperti dulu lagi. Sebaiknya, ayah tidak perlu menikah. Sudah ada aku yang menjaga Ayah." jawab Sakti panjang lebar.


"Kamu salah, Sak! Tante Rita orang yang baik. Dia selalu mendukung ayah. Kamu tidak boleh memberi kesimpulan terlalu cepat sebelum kamu mengenalnya lebih dalam."


"Aku tidak butuh mengenal wanita sepertinya terlalu dalam. Yang aku butuhkan hanya kesehatan mental, jiwa dan raga Ayah. Pergilah ke kamar. Ayah harus berisitirahat." titah Sakti.


"Bagaimana dengan wanita yang akan kamu kenalkan kepada Ayah, Sak? Apa wanita pilihanmu, adalah wanita yang baik?"


"Dia kekasihku dan aku sudah mengujinya. Aku berpura-pura miskin. Dia menerima kemiskinanku ini. Dia bukan wanita matre yang gila harta, tapi dia wanita yang pengertian." jawab Sakti.


"Apa pekerjaannya? Apa dia seorang manager di kantor atau berprofesi lain seperti perawat, dokter, pengusaha?" tanya Ayah Sakti.


"Dia berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Jadi, dia hanya kuli pabrik di perusahaan kita." jawab Sakti.


"Kamu, kamu memilih kuli pabrik untuk--"


"Ini keputusanku, jadi tolong hargai keputusanku!" ucap Sakti yang memotong ucapan ayahnya.


"Jika itu keputusanmu dan ayah harus menghargainya. Maka, kamu juga harus menghargai keputusan Ayah untuk menikahi Tante Rita, bagaimana? Ayah hanya ingin kamu bahagia, sebaliknya kamu pun menginginkan ayahmu ini bahagia."


Sakti merubah posisi tidurnya menjadi duduk. "Apa ayah sangat mencintai wanita itu?" tanya Sakti serius.


"Iya, ayah sangat mencintainya. Maka dari itu, Ayah berharap sekali padamu, Sak. Ayah tahu, kamu takut kejadian dulu terulang lagi, tapi semua ini demi kebaikan kita. Setelah kamu menikah, kamu akan di sibukkan dengan keluarga kecilmu, lalu ayah akan kesepian. Hanya Tante Rita yang bisa mengerti keadaan kita. Bahkan, Tante Rita mau memberi waktu untukmu menerima semua keadaan ini."


"Ayah sudah memastikan, bahwa wanita seperti Tante Rita bukan wanita yang gila harta? Kebanyakan, wanita yang datang--"


"Tidak Sakti. Ayah percaya kalau Tante Rita orang yang baik. Besok, ajak kekasihmu datang dan Ayah akan ajak Tante Rita. Kita bertemu di restoran saja, bagaimana?" tawar Ayah Sakti.

__ADS_1


Sakti menghembuskan napasnya kasar. "Ayah berisitirahatlah. Aku akan memikirkannya esok. Hari ini, aku benar-benar lelah. Tolong mengerti perasaanku."


"Kira-kira siapa nama wanita yang telah berhasil mencuri hatimu, hem?" tanya Ayah Sakti.


"Ada apa? Apa ayah akan memerintahkan seseorang untuk memastikan semuanya?" tanya balik Sakti.


"Tidak. Ya, sudah. Kita bertemu besok di restoran. Ingat, hormati dan hargai Tante Rita. Maka Ayah akan menghargai kekasihmu itu."


"Hem!" jawab Sakti.


Ke esokkan harinya. Sesuai dengan janji Sakti yang akan menjemput Cinta untuk menemui orang tuanya. Kini Sakti telah sampai di depan rumah Cinta.


Dewa yang tengah bersantai di ruang tamu pun terkejut saat melihat mobil Sakti terparkir di depan rumahnya.


Cinta, wanita itu masih mengurung dirinya di kamar. Tidak ada yang tahu, apa yang sedang dilakukan Cinta di dalam kamarnya selain mengurung diri.


Ting ...


Tong ....


Bunyi bel dari luar rumah membuat Dewa berlari menuju kamar sahabatnya.


"Cinta, ada Sakti di depan!" titah Dewa.


5 menit, 10 menit, tidak ada jawaban dari sahabatnya, membuat Dewa semakin frustrasi karena bel terus berbunyi.


"Hei, Cinta! Apa yang kau lakukan di dalam? Sakti sudah datang. Apa perlu aku keluar dan menyambut hangat kekasihmu, itu? ancamnya yang lagi dan lagi diabaikan Cinta.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau keluar dari kamar. Itu artinya, aku sendiri yang akan keluar menemui kekasihmu." ancamnya lagi.


Sedangkan di dalam kamar. Cinta sedang melamun di depan cermin.


Mendengar bunyi bel, membuat dirinya tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


'Aku bukakan pintu atau tidak? Aku belum siap bertemu dengan orang tua Mas Sakti.' batin Cinta kebingungan.


__ADS_2