Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 15


__ADS_3

"Tentu, kamu harus memasangkan kalung ini di leherku," jawab Cinta memberikan kotak merah yang panjang pada Sakti.


Sakti mengambil kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati yang tengah-tengah terukir huruf C dengan butiran berlian yang menghiasinya.


"Malam ini, aku benar-benar menguras seluruh tabunganmu, mas. Maafkan aku, ya." ucap Cinta menatap indah kalung pemberian kekasihnya.


"Hem," ucap Sakti.


Cinta beranjak berdiri menghadap kekasihnya. "Hidupku berwarna setelah mengenalmu. Aku sangat sangat mencintaimu, Mas." titah Cinta menghambur tubuhnya ke dalam pelukan Sakti.


Sakti membalas pelukan kekasihnya. "Aku juga, Cin." ucapnya memberikan kecupan singkat di pucuk kepalanya.


Drt ...


Drt ....


Getaran ponsel membuat Cinta melepaskan pelukannya.


"Ponselmu bergetar, Mas."


"Iya kah? Biar aku cek." titah Sakti lalu merogoh saku celananya. "Ayahku telfon." sambungnya lagi.


"Angkatlah, siapa tahu penting?" titah Cinta.


"Aku akan mengangkatnya. Kamu tunggu sebentar, ya!" ucap Sakti mengusap punggung kekasihnya.


Sakti berjalan sedikit menjauh. "Ada apa, Yah?" tanya Sakti setelah mengangkat telfon dari ayahnya.


"Kamu cepat pulang. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan." titah seorang pria paruh baya di sebrang sana.


"Aku sedang ada--"


"Pulanglah. Ayah tunggu!" timpalnya dengan cepat lalu mengakhiri panggilannya.


"Ayah, aku be-- Tut ... Tut ...."


Cinta tersenyum sembari memegang liontin kalung pemberian kekasihnya.

__ADS_1


"Cinta, sebaiknya aku antar kamu pulang. Ayahku tiba-tiba memintaku pulang lebih cepat." ujar Sakti.


"Em ... iya, Mas. Memangnya ada masalah di rumah? Tunggu sebentar, aku ambil tas dan jaket dulu!" jawab Cinta.


"Tidak perlu, kamu tunggu di sini. Biar aku yang mengambil jaket serta tas mu." titah Sakti berjalan beberapa langkah dan mengambil barang-barang milik kekasihnya. "Ayo!" ajaknya sembari menggenggam tangan Cinta.


Mereka berjalan bersama-sama keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil.


Cinta menatap wajah Sakti yang fokus menyalakan mobilnya.


'Apa yang terjadi? Kenapa sikap Mas Sakti berubah? Apa Mas Sakti ada masalah dengan Ayahnya? Aku jadi takut bertemu dengan Ayahnya.' batin Cinta.


Sakti menoleh sekilas lalu melihat kekasihnya yang sedang menatapnya. "Ada apa, Hem?" tanya Sakti.


"Em ... tidak ada apa-apa, Mas." jawabnya.


"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu menatapku seperti orang yang ada apa-apa?" tanya Sakti lagi.


"Hehehe ... apa raut wajah bingungku terlihat jelas, Mas?" tanya Cinta memastikan.


"Iya, Mas. Aku pikir, kamu dan ayahmu sedang ada masalah. Dan aku takut, kehadiranku besok tidak akan di terima oleh ayahmu." jawab Cinta lirih. "Entah kenapa, aku tidak siap kehilanganmu." sambungnya lagi.


"Kehilanganku? Tidak akan, sayang. Ayahku memintaku pulang untuk urusan pekerjaan. Kamu tidak perlu khawatir." titah Sakti menggenggam erat tangan Cinta. "Ayahku mempunyai sikap dan sifat yang mirip sekali denganku."


"Itu artinya, ayahmu tipe orang yang dingin, Mas? Sama sepertimu yang selalu dingin menyikapi orang-orang pabrik sampai-sampai orang-orang pabrik mengiramu seperti beruang kutub yang ganas!" jawab Cinta yang tak sengaja keceplosan. "Ups, Mas, kamu--"


"Jadi, orang-orang itu mengiraku seperti beruang kutub yang ganas?" tanya Sakti dengan nada suara yang terdengar menakutkan.


"Em, Mas, aku salah bicara. Tidak ada yang berani mengatakan itu. Jangan marah."


"Aku akan pecat semua orang yang mengatakanku beruang kutub. Katakan, siapa saja yang mengatakanku beruang kutub." titah Sakti.


"Tidak ada, hanya aku yang mengatakan itu. Kamu pecat aku saja, Mas." ucap Cinta bohong.


Sakti menatap sekilas wanitanya dan tersenyum, "Aku bercanda." jawabnya terkekeh. "Jangan terlalu serius. Tidak mungkin, aku memecat semua karyawan. Bisa-bisa pabrik gulung tikar dan aku tidak mempunyai pekerjaan."


"Ish, Mas Sakti!" pekik Cinta memukul lengan Sakti berulang kali. "Kamu nyebelin. Aku sudah ketakutan tahu!" kesalnya.

__ADS_1


"Siapa yang membuatmu takut, Hem? Sudahlah, jangan marah atau memukulku lagi. Bisa-bisa aku tidak fokus menyetir."


"Biar saja, biar kamu tahu rasa. Tapi tunggu dulu, kenapa sikapmu sangat berbeda saat bersamaku, Mas? Kemana hilangnya sikap dingin dan kaku mu?" tanya Cinta yang mencoba berpikir. "Em, aku tahu, sikap dingin dan kaku mu pasti tertinggal di kantor."


"Aku tidak akan bersikap kasar atau dingin dengan orang di sekitarku. Apalagi orang yang sangat istimewa di hatiku. Aku bersikap dingin karena aku tidak mau orang-orang mencari muka demi kepentingannya sendiri." jawab Sakti yang di setujui oleh Cinta.


"Iya, kamu benar juga, Mas. Banyak sekali orang-orang yang seperti itu. Tapi asal kamu tahu, sikapmu yang seperti itu, membuat beberapa wanita yang bekerja di pabrik menjadi tertarik padamu. Mereka merasa tertantang untuk meluluhkanmu." keluh Cinta.


"Biarkan saja. Aku ingin tahu, seberapa besar perjuangan para wanita itu untuk meluluhkanku." jawab Sakti yang mendapat cubitan dari Cinta.


"Hei, Mas. Ingat, kamu punyaku! Tidak akan ku biarkan wanita lain mendekatimu atau menyentuhmu!"


"Aw ... iya, iya, sayang. Aku janji, aku tidak akan tergoda oleh mereka semua, tapi kapan kita memberitahukan ke semua orang, kalau kita resmi berpacaran. Aku juga tidak suka, kalau kamu berdekatan dengan pria mekanik jelek itu!" kesal Sakti.


"Dia tampan, Mas. Dia bukan pria jelek. Kamu bisa lihat sendirikan? Ketampanan Mas Nunu sangat dan sangat menggoda kaum hawa sepertiku." jawab Cinta sembari membayangkan sikap Nunu yang perhatian padanya. "Dia selalu ada di saat mesinku rusak."


"Puji saja terus."


"Cie cemburu, cie ...." goda Cinta.


"Aku tidak mungkin cemburu kepada mekanik jelek itu. Aku sudah mendapatkanmu."


"Iya benar, aku milikmu, tapi tidak ada orang yang tahu kalau kita berpacaran, Mas." ucap Cinta sembari menaik turunkan alisnya.


Sakti menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Aku mau, hubungan kita di ketahui semua orang termasuk mekanik jelek itu."


"Mas, kamu--"


"Aku malas melakukan hubungan diam-diam ini. Jadi, mulai besok, aku akan memberitahukan semuanya, kalau kau milikku!" ucap Sakti yang tak ingin di bantah. "Aku tahu, semua orang di pabrik akan syok, tapi kita tidak bisa menutupinya lebih lama lagi. Kita sudah berpacaran 3 bulan. Dan aku tidak mau mendengar alasan apapun dari mulutmu."


Cinta membuang wajahnya kesembarang arah. "Hal yang aku takutkan mereka mengatakan jika aku memanfaatkanmu. Apalagi dulu, kamu pernah membantuku supaya tidak di pecat. Kamu rela berbohong, kalau aku pingsan karena begadang tidak makan."


"Cinta, tatap mataku!" titah Sakti.


"Apalagi, Mas. Aku tahu, hubungan kita serius, tapi tidak perlu secepat ini."


"Mau sampai kapan, hem? Mau sampai kapan kamu merahasiakanku? Mataku sakit melihatmu tertawa dengan mekanik jelek itu!"

__ADS_1


__ADS_2