Dewa Pedang Di Dunia Evolver Dan Mecha

Dewa Pedang Di Dunia Evolver Dan Mecha
Vol.1 Bab.21 Terperosok ke bawah tanah


__ADS_3

Alexander berpikir sambil memainkan logam hitam misterius itu, sesekali berbentuk pedang, sesekali berbentuk kapak, Alexander berpikir sambil terus memainkan benda hitam dengan berbagai bentuk.


Tiba-tiba mata Alexander menyala, seolah telah menemukan solusi untuk membuat energi elektromagnetik dari benda hitam menghilang.


“Mungkin dengan Kontrak darah benda ini bisa aku kendali sepenuhnya” pikir Alexander.


Kontrak darah sendiri adalah teknik untuk membuat kontrak dengan sesuatu, biasa para swordsman ataupun mage akan membuat kontrak darah dengan senjata milik mereka agar senjata mereka tidak bisa digunakan oleh orang lain secara bebas.


“Tapi apa teknik itu bisa digunakan di dunia ?” gumam Alexander ragu.


Alexander sedikit ragu, karena di dunia ini sama sekali tidak ada sihir, dan Kontrak darah hanya bisa digunakan menggunakan teknik sihir.


“Coba saja dulu, mungkin Aether bisa menggantikan peran Mana”


Alexander kemudian meletakan benda hitam tersebut di tanah, dan mulai menggambar lingkaran sihir.


Setelah lingkaran sihir selesai digambar, Alexander menggigit jarinya dan menuangkan beberapa tetes darah ke dalam lingkaran dan benda hitam.


“Mari kita mulai”


Setelah melakukan segala persiapan, Alexander memulai ritual Kontrak darah.


Saat Alexander memulai proses pembuatan Kontrak darah, lingkaran sihir yang berada di tanah mulai memancarkan cahaya redup, dan perlahan darah yang berada di atas benda hitam mulai terserap.


Melihat perubahan yang terjadi, Alexander hanya tersenyum tipis, dan dia tetap melanjutkan proses pembuatan kontrak darah.


Perlahan-lahan dari lingkaran sihir yang digambar oleh Alexander mulai terbakar, hal itu menandakan proses pembuatan kontrak akan segera selesai.


Saat semua lingkaran sudah menyala dengan api kecil, dan api perlahan padam.


“Selesai” gumam Alexander puas.


“kemari!”


Benda hitam yang berada di tanah terbang menuju ke tangan Alexander.


“Sekarang aku bisa mengendalikan benda ini dengan bebas, walaupun aku masih belum tahu apa nama benda ini, tapi karena benda ini bisa berubah bentuk dan berubah menjadi seperti cairan, akan ku sebut sebagai tranquid”


Setelah berhasil membuat kontrak darah dengan Tranquid, Alexander kini bisa mengendalikannya dengan lebih mudah, bahkan Alexander merasa bahwa Tranquid adalah benda yang jauh luar biasa dari apa yang dia bayangkan.


Mulai dari perubahan bentuk, energi elektromagnetik, tingkat kekerasan dan banyak hal lainnya, Alexander merasa sangat puas, bahkan dia berspekulasi bahwa Tranquid bisa melebihi pedangnya yang lama yaitu Crescent Sword.


“Karena sudah tidak ada hal lain, aku harus segera pergi dari sini” gumam Alexander.


Alexander berjalan dan mengambil semua peralatan miliknya.

__ADS_1


Setelah memakai kembali peralatan dan mengeceknya, Alexander merasa lega bahwa semua peralatan masih bisa berfungsi normal.


“Saatnya pergi”


Alexander dengan yang mau berjalan menuruni gunung tiba-tiba merasa ada hal buruk yang akan terjadi.


“Perasaan apa ini ?” Alexander mengerutkan keningnya.


Merasa ada hal yang buruk terjadi, Alexander mempercepat langkahnya.


Bruk!


Saat kaki ALexander melangkah ke depan, tanah yang diinjak Alexander jeblos ke bawah, setelah itu semua puncak gunung mulai bergetar dan retakan muncul di seluruh puncak gunung.


“Sial!”


Alexander yang terperosok mencoba meloncat dengan bantuan jetpack, tapi sayangnya dia kehilangan keseimbangan gara-gara tanah yang diinjak Alexander semakin masuk ke dalam.


Bruakkk!


Seluruh puncak gunung yang datar hanya dalam waktu singkat telah menjadi cekung membentuk kawah, padahal sebelumnya gunung tidak memiliki kawah sama sekali.


Alexander yang tidak siap akan kondisi seperti itu terperosok masuk ke dalam gunung.


“uhuk… uhuk.. uhuk”


Alexander yang terperosok batuk-batuk dengan seluruh tubuh telah kotor dengan tanah dan debu.


“Ini dimana ?” Alexander melihat sekeliling dengan mata heran.


Karena semua yang dilihat Alexander adalah kegelapan yang sangat pekat.


Meraba suit miliknya untuk mengaktifkan mode malam, Alexander akhirnya bisa melihat dimana dia sekarang.


Saat melihat kebelakang, Alexander melihat gundukan tanah dan batu yang masih basah.


“ini di dalam gunung ?” gumam Alexander sedikit bingung.


Melihat dari lokasi dia saat ini dan kejadian yang baru saja terjadi, Alexander yakin bahwa dia jatuh ke dalam bagian bawah gunung.


“Haaa…” Alexander menghela nafas sambil menggelengkan kepala.


“Jika seperti ini, Aku hanya hanya bisa mencari jalan keluar sendiri”


Untungnya, saat alexander jatuh, peralatan miliknya tidak semua rusak, suit miliknya dengan efek glow in the dark membantu Alexander untuk melihat lokasi dirinya dengan mudah walaupun dalam gelap.

__ADS_1


Menghidupan lampu, Alexander membuang beberapa peralatan yang sudah tidak bisa digunakan seperti Jetpack, alat scan dan perekam, untungan Device khusus miliknya masih bisa digunakan, walaupun tidak ada sinyal sama sekali.


Alexander melihat ke arah lokasi dia jatuh dan mengeluarkan Tranquid yang dibentuk menjadi tali pinggang.


“Coba saja dulu” pikir Alexander.


Tranquid yang berbentuk tali mulai berubah menjadi seperti mata bor, Alexander kemudian menusuk tanah yang ada di depannya dengan tranquid mode bor.


Saat Tranquid berhasil menembus tanah dengan mudah, hal berikutnya membuat Alexander putus asa, karena tanah yang berasal dari atas dengan sendiri ikut turun dan menutup kembali lubang yang telah di gali Alexander.


“Sial!!!” kutuk Alexander kesal.


“Jika aku masih berada di puncak, pasti tempat ini telah ku belah menjadi dua” gumam Alexander yang kesal.


Alexander yang kesal menyimpan Tranquid kembali, dan melihat lorong yang ada di belakangnya.


“Sepertinya aku hanya bisa memakai jalan ini” gumam Alexander dengan lemas.


Alexander mulai berjalan menyusuri lorong.


1 jam, Alexander belum menemukan apapun di dalam lorong, namun Alexander merasa bahwa dia berjalan semakin ke bawah.


“Kemana tempat ini mengarah” gumam Alexander penasaran.


Waktu terus berlalu, hingga 4 jam berjalan, Alexander akhirnya melihat bahwa lorong sempit membawa dirinya ke sebuah tempat yang cukup besar.


“Kuil ? Istana ?”


Alexander menatap bangunan besar yang ada di dalam tanah dengan heran. Dia tidak menyangka bahwa ada bangunan seperti itu di dalam tanah, dan dari sini Alexander berpikir bahwa planet ini sebenarnya memiliki Makhluk berakal seperti manusia.


Melihat sekeliling, Alexander merasa tidak ada sama sekali bentuk kehidupan.


Alexander memberanikan tekadnya dan mulai masuk mendekati bangunan besar yang menyerupai Istana atau kuil megah.


Alexander sama sekali tidak bisa memastikan apakah itu kuil atau istana, karena bentuk bangunan sangat unik, tapi Alexander berspekulasi bahwa bangunan itu merupakan bangunan penting.


Dengan ukurannya saja, Alexander menebak bahwa banguan tersebut merupakan tempat yang sangat penting.


Saat Alexander mendekati gerbang masuk, dan melihat ornamenya, Alexander yakin bahwa bangunan tersebut telah lama kosong, karena gerbang yang begitu besar tidak terawat sama sekali.


Masuk ke bagian dalam, mata Alexander melihat sekeliling dengan rasa penasaran yang tinggi, namun Alexander tetap fokus pada sebuah ruangan yang dapat dilihat dari jauh, yaitu ruangan yang paling tinggi di bangunan tersebut.


Alexander menebak bahwa ruangan itu merupakan ruangan yang paling penting dari sekian banyak ruangan yang ada.


“Ini dia” gumam Alexander ketika melihat anak tangga menuju ruangan paling tinggi.

__ADS_1


__ADS_2