Di Mana Kau, Cinta

Di Mana Kau, Cinta
Maukah Kamu Menjadi Pacarku?


__ADS_3

Setelah pertemuan pertamanya dengan lelaki tampan yang selalu memandanginya di kedai kopi di pertigaan jalan itu, Sarah merasa laki-laki itu sering membuntutinya. Setiap kali Sarah lewat kedai kopi ada sepasang mata yang memperhatikannya.


Niat Sarah untuk masuk makan roti kukus favoritnya sering diurungkannya karena takut akan ditelanjangi mata lelaki itu lagi sampai dia tak bisa menikmati roti kukus coklat kacang keju terenak yang pernah ia temui dalam hidupnya.


Hujan turun lebat siang itu, petir bersahutan di langit yang gelap layaknya petang. Jam di tangan Sarah menunjukan pukul setengah 2 ketika dia mencoba berlindung dari hujan setelah turun dari angkot pertama.


Untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Sarah harus naik angkot lagi namun melihat kenyataan hujan selebat itu rasanya tak mungkin ia memaksakan diri berlari tanpa memakai payung yang tak pernah dibawanya.


Sebetulnya orang tua Sarah menyediakan supir tapi Sarah adalah gadis yang rendah hati. Tidak ingin menunjukkan kekayaan orang tuanya, Sarah lebih senang menggunakan angkutan umum.


Dengan sedikit terpaksa, Sarah memutuskan memasuki kedai kopi pertigaan untuk berlindung dari amukan hujan petir. Tak disangka tak dinyana, ada lelaki yang dengan sigap menarikan kursi untuknya lalu menawarkan tissue yang ada di meja untuk mengeringkan wajah Sarah yang terguyur hujan.


Oh Tuhan, apa ini? Mengapa lelaki tampan ini harus melihatnya dalam kondisi terburuknya? Rambut berantakan, seluruh tubuhnya basah kuyup, menggigil kedinginan.


Sarah menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mencari kehangatan. Guyuran air hujan membuat bra hitam yang dikenakan Sarah menyembul menembus kemeja putihnya membuat mata para lelaki berubah merah karena gairah. Rok abu-abu yang dikenakan Sarah tak luput dari perhatian karena air membuat segalanya lebih ketat dan seksi.


Layaknya seorang gentleman, laki-laki itu menawarkan jaket navy yang dilepasnya untuk dilekatkan pada tubuh Sarah seraya berkata : "Tubuhmu harus dilindungi dari kekejaman mata haus lelaki disini" Ayo pakailah aku tahu kamu membutuhkan kehangatan. demmmmmmm.... Sarah merasa ada makna lain di balik kata-kata lelaki di hadapannya.


Sarah yang bertubuh tinggi di atas rata-rata gadis SMA, bak pragawati berambut hitam panjang lurus. Mata kenari dengan tatapan yang sendu namun tajam. Wajah bentuk hati dan lekuk tubuh yang sempurna memang akan membuat lelaki senang memandangnya apalagi di saat bra hitam berenda yang terlihat tembus pandang seperti itu.


Wajah Sarah cantik, ia tidak memiliki hidung mancung namun bibirnya sungguh seksi seperti menawarkan diri untuk dicium, kulitnya yang putih mulus membuat setiap mata senang menatapnya lama-lama.


Sejak SMP Sarah laku keras selalu saja ada kakak kelas yang menginginkannya untuk menjadi pacarnya. Begitu pula dengan teman-teman seangkatannya yang selalu menggodanya dan berbuat baik padanya berharap Sarah luluh di pelukannya.


Namun, Sarah yang kekurangan kasih sayang ayahnya selalu mendambakan kekasih yang lebih tua darinya. Agar bisa ngemong, harapnya.


Roti kukus coklat kacang keju dan hot kapucino yang dipesan lelaki itu telah sampai di meja mereka. Dia memotong roti yang masih sangat panas itu, meniupnya lalu disuapinya Sarah.


Sarah mundur menjauhkan bibir seksinya dari garpu berisi roti itu, aku bisa makan sendiri sahut Sarah.


"Lagian kenapa kamu bisa tahu menu favoritku disini sih?"


"Hahahaha apakah kamu baru bertemu denganku sekarang cantik? Atau kamu mengabaikanku yang selalu mengamatimu dari seberang mejamu?"


Aku tidak biasa disuapin sama orang yang tidak aku kenal, kata Sarah.


"Kenalkan, namaku Gio, Giordano Budianto, fans beratmu."


Uluran tangan besar itu disambut Sarah malu-malu...

__ADS_1


"Sarah, Sarah Alifia Senja jawabnya."


"Wow namamu secantik yang punya." Goda Gio.


Sarah yang sudah sering menerima pujian lelaki sejak SMP hanya tersenyum kecut berusaha jual mahal pada lelaki tampan di hadapannya yang baru saja dia kenal.


"Tuh kan, kamu tidak bisa makan sendiri dari tadi cuma dipelototin saja tuh roti. Sini aku suapin... Aaa." Kata Gio


Dengan refleks Sarah membuka mulut. Ssrrrr, ada perasaan aneh di perutnya seperti kupu-kupu berterbangan di sana ketika Gio menempelkan tissue di bibir seksi Sarah untuk membersihkan coklat yang tertinggal disana.


Hati Sarah bergetar. Oh Tuhan, rasa apa ini? Bagaimana bila aku menyukainya?


Gio sungguh lelaki yang berhasil mempesona Sarah. Bagaimana tidak, dengan telaten Gio menyuapinya dan menyuapkan ke mulutnya sendiri sampai roti itu habis. Disodorkannya hot kapucino yang sudah tidak hot lagi se hot lelaki di hadapannya.


Ah Lelaki ini sudah tampan, perhatian, penuh kasih sayang... seketika Sarah merasa dicintai... Cinta lelaki yang selalu didambanya. Sarah selalu haus perhatian, kasih sayang dan cinta lelaki sejak kecil karena ayah kandungnya selalu menjaga jarak dengannya. Sikapnya begitu dingin, tak pernah memeluk ataupun menyentuhnya layaknya ayah pada anak perempuannya.


Ditambah lagi sikapnya yang temperamental membuat Sarah takut mendekatinya. Mereka hanya berbicara seperlunya saja. Hal itu melukai batin Sarah yang rindu dekapan hangat ayah padanya. Semakin Sarah besar rasa itu bukannya hilang malah semakin jadi.


Sejak pertama kali pacaran di SMP dulu, Sarah selalu senang dan puas dengan sebuah pelukan kekasihnya yang sering dibayangkan itu adalah ayahnya. Sarah tak pernah merasakan pelukan hangat ayah seingatnya.


Hujan mulai reda, Sarah melirik jam tangan merah jambunya. "Aku harus pulang.! Serunya


"Ayo kita pulang."


Hahhh? Sarah melongo bingung.


"Boleh kan aku antar, cantik? Aku tidak rela tubuhmu disiram hujan lagi."


"Kan hujannya sudah berhenti kak." Sahutnya.


"Ah sudahlah aku memaksa mengantarmu pulang, mobilku parkir tak jauh dari sini."


"Ayo sayang!" Gio merangkul pinggang ramping Sarah dan memapahnya keluar kedai.


Sarah berusaha melepaskan tangan Gio dari pinggangnya namun Gio malah menambah erat memeluknya.


Ohhh.... Jantungku berdegup kencang dibuatnya.


Mobil sedan hitam keluaran terbaru bertengger di hadapannya. Gio membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Masuk, cantik!" Sarah menurut.


"Rumahku dekat dari sini seharusnya kamu tidak perlu mengantarku."


"Oh dekat ya? Baiklah kalau begitu akan kubuat jadi jauh."


"Apa maksudmu?" Sarah berteriak cemas, takut lelaki tampan ini akan menculiknya.


Gio memutar balik mobilnya yang disusul tanya Sarah...


"Rumahku ke arah sana ini salah!"


"Tenang, kita mampir dulu ke FO di bawah situ ya agar tubuhmu tidak masuk angin."


"Ttt tapi aku tidak bawa uang untuk belanja."


"Hahaha kamu ini lucu ya Sarah, tenanggg aku yang akan membayarnya." Sarah tak bisa melawan Gio.


"Ayo pilihlah baju yang kamu suka jangan lupa dengan pakaian dalamnya ya.


"Lalu pakai saja langsung untuk mengganti pakaianmu yang basah begitu." Sarah mengangguk ragu.


Dipilihnya Bra warna hitam dengan pita pink di tengahnya, celana dalam senada, rok jins sepaha dan kaos Biru langit lengan panjang bertuliskan "Are You Real"? tulisan itu sesuai dengan pertanyaan di benak Sarah tentang Gio.


Lelaki ini begitu baik dan perhatian seperti kakak pada adiknya atau ayah pada anak perempuannya begitu penyayang dan sepertinya kaya. Sarah keluar dari kamar pas yang disambut senyum lebar Gio. Wowww kamu memang cantik Sarah godanya sembari menahan hasrat seksualnya ia melangkah bersama Sarah ke kasir.


Di mobil, Gio meraih tangan Sarah dan mengecupnya. Sarah berusaha menariknya.


"Sssttt tenanglah sayang, aku tidak akan menyakitimu." Tahukah kamu sejak pertemuan pertama kita aku tak pernah bisa tidur tanpa membayangkanmu."


"Kurasa aku jatuh cinta padamu."


Cinta??? Mungkinkah Kau datang secepat ini?


"Ttt ta tapi aku belum mengenalmu kak.."


"Jangan panggil kak, Gio ajalah sahutnya. "Kita akan saling mengenal lebih jauh bila kamu mau jadi pacarku!"


Apaaaa?? Ya Sarah! "Aku sangat menyukaimu dan ingin melindungimu."

__ADS_1


Maukah Kamu Menjadi Pacarku? Sarah terdiam. Mau kan cantik? Pleaseeee be mine pinta Gio. Sarah mengangguk pelan... Ya sebetulnya aku pun suka padamu, Sarah tersipu malu. Tapi aku pikir-pikir dulu ya, kata Sarah jual mahal.


__ADS_2