
Mobil yang dikendarai Gio melaju sedang di jalanan. Perjalanan dari WO ke cafe hanya 10 menit. Tibalah mereka di cafe yang nyaman, pemandangannya sejuk dengan suasana taman. Banyak pohon rindang, rerumputan, dan bunga-bunga yang sedang mekar mengeluarkan harum semerbak.
Pelayan menyambut kedatangan mereka bertiga dengan senyum termanisnya dan membawa mereka ke tempat duduk untuk 3 orang di pinggir kolam ikan.
Setelah menunjukan menu, pelayan manis tersebut pergi dengan menatap Gio yang memang tampan. Wajah Gio yang blesteran Jawa Inggris memang sangat sedap dipandang, membuat kaum hawa tidak bisa sebentar menatapnya.
Sarah sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Pemandangan yang tak sedap dipandang yang membuat hatinya panas karena api cemburu. Perempuan mana yang tak panas hatinya saat ada perempuan lain menatap dalam wajah kekasihnya. Namun Sarah tetap tenang tidak mau terlihat cemburu dan norak di hadapan Gio dan Sandra.
Sandra akan meledeknya habis-habisan bila Sarah menunjukan sifat terburuknya : cemburuan...
Setelah pelayan manis itu berlalu, giliran Sandra yang menatap tajam Gio. Tatapannya setajam pisau yang siap memenggal mangsanya.
Bagaimana tidak? Sandra memendam kesalnya sejak tahu Gio merenggut kesucian Sahabatnya. Sejak itu Sandra belum ada kesempatan untuk menyerang Gio hingga tibalah saat ini. Saat yang ditunggu-tunggu Sandra.
"Bagaimana kalau tema pernikahan kalian Keperawanan yang terenggut karena diperkosa calon suami?" ucap Sandra membuyarkan keheningan diantara mereka.
"Apaaaa?!" Sarah dan Gio kaget bersamaan.
"Ya, bukannya itu kan yang tepat menggambarkan kehidupan cinta kalian?"
"Sandra, please jangan lanjutkan." Pinta Sarah sambil mengelus punggung tangan Sarah.
"Biarkan dia sayang, biarkan sahabatmu ini menyerangku dengan kata-katanya, aku memang pantas menerimanya."
"Oh, sadar juga kamu ya tuan Gio!"
"Kamu juga sadar kan yang kamu lakukan itu termasuk tindakan kriminal, aku akan sangat senang melaporkannya pada omku yang perwira polisi itu."
"Apa kamu siap menghabiskan sisa hidupmu di dalam penjara?
"Apa kamu pikir kamu berhak merenggut kesucian kekasihmu dalam keadaan kau buat teler tak sadarkan diri begitu?"
"Dimana otakmu Gio?!"
"Di mana perasaanmu?"
"Di mana cintamu???"
"Itu bukan cinta, itu nafsu."
"Kau bahkan tidak memikirkan perasaan kekasihmu."
"Kau bahkan tidak peduli bagaimana masa depan Sarah setelahnya kan???!"
"Aku minta maaf, aku memang salah membuat Sarah mabuk tak sadarkan diri lalu merenggut kesuciannya demi keegoisanku."
"Tapi kan sebentar lagi aku akan menikahinya, aku sudah bertanggung jawab." "Aku bahkan tidak meninggalkannya walaupun sedetik."
"Ohhh kau sudah merasa tidak bersalah ya dengan melakukan itu?"
"Kau sama sekali tidak mencintai Sarah."
"Kau sama sekali tidak peduli bagaimana perasaan Sarah."
Sandra memukul bahu Gio dengan kencangnya, membuat Sarah menjerit.
"Kamu seharusnya berpikir bahwa kesucian bagi perempuan itu sangatlah berharga." "Bahkan di saat kami para perempuan akan kehilangan kesucian karena kekasih, kami juga ingin bisa mengenang rasanya dengan baik."
"Kami ingin rasa sakit, senang, sedih yang bercampur saat itu akan teringat selamanya karena itu merupakan pengalaman seumur hidup kami kan."
"Apa kamu tahu itu?!"
"Sebagai perempuan apalah artinya kami tanpa bukti kesucian apalagi saat kesucian itu direnggut paksa."
__ADS_1
"Yang tersisa dan menjadi kenangan hanyalah kenangan buruk yang menghantui seumur hidup kami." "Iya kan Sar?"
"Iya iya sih... kamu benar Sandra."
"Tapi aku sudah memaafkan Gio sejak ia melamarku."
"Sekarang nasi sudah menjadi bubur, tak ada guna menyesali semuanya."
"Toh aku tidak akan bisa jadi perawan lagi yang suci dan tidak akan pernah tahu lagi bagaimana rasanya saat kesucian itu direnggut."
hikss hiksss... Air mata Sarah jatuh berderai membasahi pipinya yang mulus.
Gio jadi merasa bersalah sangat menyesal karena merenggut kesucian kekasihnya dengan paksa dan tidak membiarkan Sarah merasakan bagaimana itu terlepas dari tubuhnya.
"Maaf... maafkan aku sayang."
"Aku menyesal."
"Aku berjanji aku tidak akan melukai perasaanmu lagi." ucap Gio sambil meraih tangan Sarah dan menggenggamnya lalu memciumnya berulang-ulang.
"Cih. Aku pegang janjimu ya Gio!"
"Awas kamu kalau sampai melukai perasaan sahabatku lagi." Habis kau!!!" Sandra mengancam.
Sarah hanya terdiam seribu bahasa. Sarah memang sangat bersedih dan marah pada Gio karena kelakuan bejadnya itu. Tapi Sarah memang perempuan yang gampang sekali memaafkan. Tapi tidak untuk melupakan.
"Ya ini memang berat". Akhirnya Sarah membuka suara.
"Sungguh tersiksa rasanya sudah seperti mimpi buruk."
"Sebelum tidur aku masih perawan yang suci tapi di saat bangun aku sudah kehilangan kesucianku."
Hiks... Air mata Sarah belum juga berhenti mengalir. Tapi semuanya sudah terjadi biarlah ini menjadi lembaranku yang harus kututup.
Huh.. gumam-gumam Sandra.
"Kamu itu sejak kecil sudah tangguh, kuat menghadapi cobaan dalam hidupmu."
"Ya asalkan kau bahagia bersama Gio, aku juga akan melupakan masalah ini."
"Terima kasih sayang, Sandra dan Sarah berpelukan."
Tak lama pelayan manis tadi datang menata makanan dan minuman yang sudah mereka pesan. Pelayan genit itu sengaja menyenggol lengan Gio dan memancing kemarahan Sandra.
"Hey dasar perempuan genit!"
"Laki-laki yang kau goda ini akan segera menikah." "Berhenti menggodanya!"
"Sana kau!"
Pelayan itu pun kaget dan langsung berlari meninggalkan ketiganya.
Sarah dan Gio tertawa melihat kemarahan Sandra yang sudah sering mereka lihat sebelumnya.
"Ah, Sandra kau memang selalu jadi pahlawan bagiku." Batin Sarah...
"Aaa... buka donk mulutnya sayang cobain deh ini enak banget."
Sarah pun terpaksa membuka mulut walaupun malu-malu saat Gio menyuapi makanannya.
Lalu lelaki tampan itu mengelap saos yang tertinggal di bibir Sarah dengan bibirnya.
"Huh apa aku ini tidak terlihat ya?" "Seenaknya suap-suapan dan ciuman di hadapan aku.." batin Sandra yang tiba-tiba merindukan Erik.
__ADS_1
"Maaf ya San..." hehehhe
"Gio sudah ah nanti Sandra marah lagi lho." Ucap Sarah pelan.
"Ah kalau kamu ingin juga, telponlah Erik suruh datang kesini San." ucap Gio.
"Huh tidak bisa, dia sedang magang di luar kota, bulan depan baru kembali." Ucap Sandra sambil manyun kesal.
"Apa tidak cukup aku menyerangnya dengan kata-kataku tadi?"
"Bahkan aku sudah memukulnya juga kan." "Ihh ini lelaki dasar tak tahu malu."
"Apa perlu aku serang lagi kutendang juga kakinya agar ia berhenti bermesraan di hadapanku."
Ya walaupun aku senang melihat Sarah bahagia diperlakukan manis oleh Gio tapi kan aku yang kegerahan disini. Uhh Erik aku rindu.
"Oya, bagaimana hasil pertemuan dengan WO tadi?"
Tanya Gio berusaha mengobrol untuk mengalihkan pikirannya karena sesuatu di daerah pahanya mulai mengeras setelah mencium bibir merah muda alami milik Sarah.
"Ehm tadi hanya menentukan tema pernikahan kita dan aku memilih ini." Jawab Sandra sembari memperlihatkan beberapa brosur.
"Gimana bagus tidak sayang?"
"Ehm bagus-bagus seleramu memang luar biasa."
"Pilihanmu itu elegan, simpel namun tetap cantik seperti pengantin wanitanya."
Lagi-lagi Gio mencium bibir Sarah dan lagi-lagi Gio merasa sesuatu di pahanya mengeras dengan sangat.
"Baiklah aku serahkan semuanya padamu sayang." "Aku percaya pada pilihanmu."
"Ih tidak bisa begitu donk sayang. Aku kan juga ingin kamu terlibat."
"Kita pilih bersama ya?"
"Ini pilihan makanan di catering, yang ini pilihan make up dan baju pengantin."
Sarah menunjukan beberapa foto dan beberapa lembar kertas pada Gio.
"Sayangggg kuserahkan semuanya padamu cantik!"
"Apa pun yang kau inginkan pilihlah maka itu juga akan jadi keinginanku."
"Oh ya, pegang ini ya." Gio menyerahkan kartu berwarna hitam.
"Untuk apa ini?" Tanya Sarah
"Ya untuk membayar semuanya donk sayang. Ini kartu pemberian papih untuk kau pakai membiayai seluruh pernikahan kita."
"Oh begitu."
"Tapi orang tuaku juga mengatakan akan membayarnya koq." "Biarkan ayah dan ibu membayar setengahnya ya.."
"Ah jangan sayang."
"Mana boleh begitu."
"Pokonya papihku yang akan membiayai semuanya titik."
"Aku tidak ingin membebani keluargamu dengan masalah biayanya."
"Pasti mereka sudah terbebani dengan acara lamaran dan pernikahan yang mendadak begini. Oke???"
__ADS_1
"Ehm baiklah." Sarah tidak ada pilihan selain menerima kartu kredit hitam dari papihnya Gio.
Huh dasar orang kaya sombong! Bisa tidak memberikan kartunya di belakangku nanti? Batin Sandra kesal lagi...