Di Mana Kau, Cinta

Di Mana Kau, Cinta
Fitting Baju Pengantin


__ADS_3

Sarah enggan membuka mata takut menghadapi kenyataan pahit. Takut benda yang ia pegang akan menampakkan 2 garis yang berarti ia hamil.


Tapi suara ketukan di pintu kamar mandi mengagetkannya dan mewajibkan ia segera membuka mata lalu menyembunyikan test pack ke dalam handuk tanpa sempat melihat hasilnya.


"Sarah, Nak,,, kamu sedang apa di kamar mandi kenapa lama sekali?" Ibu memanggilnu sejak tadi tapi tidak ada jawaban makanya ibu langsung masuk ke kamarmu.


"Ah iya bu sebentar, aku sakit perut."


"Baiklah lanjutkan saja. Ibu, ayah dan adik-adikmu pergi dulu ya kita mau fitting baju seragam keluarga untuk pernikahanmu di tempatnya Nurul."


"Ya bu hati-hati di jalan ya."


Hati Sarah berdegup kencang saat ia berencana membuka apa yang ia sembunyikan di dalam handuk


Pelan-pelan dibukanya alat uji kehamilan itu dan dua garis merah terpampang nyata di sana.


Sarah lemas, lututnya serasa tidak mampu menopang beban tubuhnya. Ia terjatuh duduk di lantai kamar mandi yang dingin. Ia pandangi hasil 2 garis merah itu garis yang menandakan ia hamil. Hamil di luar pernikahan. Hamil karena kekasihnya memperkosanya. Kehamilan yang tidak siapa pun harapkan.


Air mata Sarah mengalir di sudut matanya. Sarah memeluk erat handuk di tangannya. Sarah merasa masa depan yang sudah ia rancang dengan sebaik-baiknya pupus sudah.


Sarah merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Hatinya hampa, pikirannya melayang melihat wajah-wajah sedih dan kecewa ibunya, ayahnya, neneknya, Safana dan Sandrina. Sarah tidak mau memberikan contoh yang tidak baik pada adik-adiknya. Kehamilan sebelum pernikahan tentulah bukan contoh yang baik walaupun terjadi saat ia tak sadarkan diri sekali pun.


Sarah menundukkan kepala di lututnya. Mencengkeram erat kedua kakinya berharap dapat kekuatan. Berharap ini semua hanya mimpi buruk.


Ia menampar pipinya sendiri beberapa kali. Plak... plak... plak...plak...


Bodohnya aku kenapa bisa begini? Lalu Sarah memukul-mukul perutnya menyesali yang telah tertanam di rahimnya kini.


Air mata tak kuasa lagi terbendung. Air mata itu tumpah membasahi handuk yang seharusnya ia pakai untuk mandi. Sarah membenturkan kepalanya ke dinding.


Sarah... Sarah Alifia Senja.... Sarah! Kamu harus kuat. Kamu pasti bisa melewati semua cobaan ini. Kamu tidak akan menyerah dan membunuh calon bayi dalam kandunganmu! Kamu harus tenang, kuasai dirimu, berpikir jernih dengan kepala dingin.


Tidak usah takut atau panik, kan ayah bayimu tidak kabur. Ayahnya akan segera menikahimu beberapa hari lagi kan. Ayo segera mandi dan bersiap-siap untuk fitting baju pengantinmu!


Tidak usah kau katakan pada siapa pun perihal ini. Jadikanlah sebagai rahasiamu dan Gio. Dengan begitu, kau tidak akan mengecewakan keluargamu dan melihat mereka bersedih dengan kenyataan pahit ini.


Masa depan yang sudah kau rencanakan hanyalah tinggal rencana, Tuhanlah yang mengatur semuanya. Kamu harus ikhlas, terima kenyataan pahit ini dengan bahagia. Bayangkan beberapa bulan lagi akan lahir bayi lucu berparas blesteran seperti Gio. Bayi yang akan mendatangkan kebahagiaan. Kehadiran bayi diantara kau dan Gio akan bisa mempererat hubungan kalian dan membuat Gio makin cinta padamu kan.


Sarah mendengar suara hatinya berbicara padanya memberikan kesadaran dan kekuatan. Akhirnya Sarah menghapus air matanya, mencoba berdiri dan menyiram sekujur tubuhnya dengan air dingin.


Diambilnya sabun yang wangi lavender untuk menenangkan. Dicampur dengan Mint Raspberry yang memberi kehangatan jiwa saat mencium aromanya. Setelah menyabuni seluruh kulitnya, Sarah merasakan kekuatan. Terutama saat ia menyabuni bagian perutnya. Ia meraba perut itu, lalu berkata dalam hati.


Sayang, kau sudah hadir di sini yaa di waktu yang tidak pas. Kenapa kau tidak menunggu sampai beberapa hari lagi, sampai aku sah menjadi istrinya Gio? Tapi baiklah, aku akan merawatmu, menjagamu, dan menyambutmu dengan bahagia. Jangan merepotkanku yaa jangan nakal di dalam sana.


Sarah senyum-senyum sendiri menyadari ia berbicara sendiri pada perutnya. Lalu membilas tubuh membiarkan air dingin menyapu segala kegundahannya.


Setelah berpakaian dengan dress model A-Line warna salem panjang sebetis, Sarah mematutkan diri di depan cermin memakai bedak dan lipstik tipis. Kali ini ia bubuhi bulu matanya dengan maskara untuk menutupi mata sendu dan sembabnya karena banyak menangis. Matanya jadi terlihat lebih segar dan hidup.


Sarah menanti kedatangan Gio di meja dapur sambil menikmati es krim lagi. Ditambah sekotak strawberry pemberian Omnya yang mempunyai kebun strawberry.


Hemmm pantas saja beberapa hari ini aku makan es krim lebih banyak dari biasanya ya, mungkin ini bawaan dede bayi yang doyan es krim mirip ibunya.


Separuh es krim sudah masuk ke lambungnya saat Bi Eti menghampirinya ke dapur.


"Non, maaf mengganggu, itu calon suami nona sudah datang ada di halaman sedang mengobrol dengan mang Dana"


"Oke bi, terima kasih yaa... Tolong buatkan jus jeruk untuknya ya bi."


Di Halaman

__ADS_1


Gio menyalami mang Dana seraya meminta maaf atas perbuatannya pada Sarah beberapa minggu lalu.


"Mang, Gio minta maaf kalau mang Dana harus menyaksikan Sarah menangis karena perbuatan Gio waktu itu."


"Gio menyesal mang. Gio terpaksa memberikan permintaan Risma untuk tidur malam itu dengan harapan perempuan itu menyingkir selamanya dari hubungan aku dan Sarah, mang."


"Mang Dana tidak memberitahu pada siapa pun kan perihal ini?"


"Kenapa memangnya kalau saya beritahu Tuan dan Nyonya tentang ini, Tuan muda takut ya akan dihajar tuan?"


"Eh iya mang, Saya takut dihajar calon mertua saya tapi saya lebih takut membuat mereka kecewa dan sedih bahwa saya telah menyakiti perasaan anaknya."


"Saya juga lebih takut lagi akan dilarang untuk menikahi Sarah karena mereka sudah tidak percaya lagi pada saya akan bisa membuat anaknya bahagia."


"Saya sangat takut kehilangan Sarah, mang!"


"Ya kalau memang tuan muda takut kehilangan non Sarah, sebaiknya mulai detik ini tuan muda Gio harus bisa setia dan selalu menjaga perasaan non Sarah dengan baik ya."


"Saya sudah lama menjaga non Sarah sejak kecil. Saya menyayanginya dan tidak akan membiarkan siapa pun membuatnya terluka!" Ucap mang Dana tegas.


"Iya mang, Gio berjanji mang."


"Mulai sekarang tidak akan batuk-batuk lagi donk mang kalau melihatku mesra dengan Sarah?" Hahahaha Gio dan mang Dana tergelak bersama.


Setelah Sarah memasuki mobil Gio, Gio mencium punggung tangan Sarah dan bertanya... "Kenapa kau lama sekali tadi sayang?"


"Iya tadi aku menyiapkan dulu sesuatu untukmu."


"Oya? Apa itu?"


Sarah mengeluarkan sebuat kotak dari dalam tasnya.


"Wah wah apakah ini hadiah pernikahan untukku?" Bukankah ini terlalu dini untuk memberikan hadiah?


"Aku buka ya?"


"Nanti saja dibukanya sayang setelah kita agak jauh dari rumah."


Sarah takut Gio akan teriak "Kamu hamil???" dan didengar mang Dana.


Setelah menjalankan mobilnya beberapa blok, Gio parkir di sebuah taman di ujung komplek.


"Aku buka di sini sekarang ya, aku sudah tidak sabar sayang."


Sarah menganggukan kepala tanda setuju


"Kamu hamil???" teriak Gio


Sudah kuduga kan ia akan berteriak begini


"I.. iya sayang aku hamil."


Gio langsung memeluk Sarah erat dan memberikan ciuman uma 8 bertubi-tubi lalu menciumi perutnya


"Kamu bahagia Gio?"


"Bagaimana mungkin aku tidak bahagia sayang, aku akan segera mempunyai Gio junior."


"Ini adalah hal yang paling membahagiakan seumur hidupku aku akan mempunyai anak dari wanita yang sangat kucintai."

__ADS_1


"Tapi kan kita belum sah sebagai suami dan istri. Apa kamu tidak takut?"


"Ah sayang jangan begitu jangan takut kita kan akan sah beberapa hari lagi. Tidak ada yang akan tahu kamu hamil sebelum menikah."


"Ah syukurlah kalau kau berpikiran begitu." Sarah lega


Mereka melanjutkan perjalanan untuk fitting baju pengantin


Saat mencoba baju pengantin warna putih itu Sarah tercengang karena bajunya tidak muat.


"Waduh, kenapa ini jadi tidak muat di tubuhku ya mba Nurul?"


"Padahal ukurannya sudah kulebihkan beberapa centimeter lho." Apa berat badanmu agak naik belakangan ini?


"Hem iya sepertinya begitu mba, persiapan pernikahan ini sedikit membuatku stress sehingga setiap hari aku makan es krim dan coklat banyak sekali." Haha Sarah tertawa


"Hahaha" mba Nurul ikut tertawa


"Ya sudah tenang saja, tangan ajaibku ini akan merubah kebaya ini sehingga pada hari "H" akan sangat pas dipakai olehmu ya sayang." Mba Nurul mengelus bahu Sarah mencoba meyakinkannya.





"Jangan lupa dress baby pink-nya untuk resepsi juga dirombak ya mba Nur." Sarah tersipu malu karena sadar baju pengantinnya kekecilan bukan karena es krim semata tapi karena ia hamil."















☆PENGUMUMAN☆


Hai Readers ☺


Terima kasih ya sudah membaca novel karyaku hingga episode 17. Ini adalah naskah pertama yang kubuat seumur hidupku.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya dengan menjadikan karya aku Favorit, Like, Comment dan Share yang membuat aku lebih semangat nulis kelanjutan ceritanya. 😊


Selamat membaca ❣🙏 Semoga sehat selalu yaa 💚


__ADS_2