Di Mana Kau, Cinta

Di Mana Kau, Cinta
Ada yang terlupa


__ADS_3

Sore itu hujan mengguyur bumi. Ritmenya cukup deras seolah mengalunkan nada musik rock di atas mobil Gio.


Sarah sengaja membuka jendela mobil agar bisa membaui aroma sedap di luar. Tanpa peduli air hujan memasuki jendela.


"Aaahhhhh aku sangat suka aroma hujan."


"Aromanya begitu sedap menggairahkan, memancingku untuk berlari ke sana dan mandi hujan."


"Aku ingin menari bersamamu cinta!"


"Menari?" "Maksudmu berdansa sambil hujan-hujanan?"


"Iya.. ayo berhenti sebentar di ujung jalan itu kita berdansa disana." Tunjuk Sarah


"Kenapa tingkahmu aneh sekali, biasanya kamu tidak ingin kehujanan kenapa sekarang malah ingin menari di saat hujan deras begini sayang?" Gio menyernyitkan dahinya keheranan mendengarkan permintaan kekasihnya sambil terus mengemudikan mobilnya.


"Ayoooo aku ingin mandi hujan sekarang!" Sarah merengek seperti anak kecil sambil menarik-narik lengan baju Gio.


"Kalau kamu tidak mengabulkan permintaanku ini, aku akan lompat dari sini."


"Eit jangan donk sayang... iya sebentar ya aku cari parkir dulu cari lokasi yang pas untuk kamu mandi."


Akhirnya dengan terpaksa Gio memarkirkan mobilnya di tengah jalan yang untungnya sedang sepi.


Sarah langsung berlari keluar mengangkat kedua tangannya ke atas dan menari-menari sambil memejamkan mata di tengah jalan.


Gio yang melihat adegan itu langsung menghampiri Sarah tapi bukan untuk ikut menari. Gio ingin melindungi Sarah dari kendaraan yang akan melintas di sana.


"Gio menggeleng-gelengkan kepala sangat bingung melihat tingkah aneh kekasih hatinya ini."


"Ayo sayang menarilah bersamaku, ini permintaan bayimu!" Sarah teriak di tengah derasnya air yang mengalir dari langit.


"Permintaan bayi?" Jadi kamu melakukan hal konyol begini karena anakku yang meminta?"


Gio bertanya sambil melangkahkan kakinya mendekati posisi Sarah.


"Iya sayangku, mungkin ini yang namanya ngidam." Sarah tersenyum malu...


"Anakku sudah ya main airnya... nanti daddy dan mommy-mu bisa sakit kalau kelamaan begini." Gio berkata pada perut Sarah lalu menciumi perut yang masih rata itu. Sarah menggeliat geli dibuatnya.


"Sudah cukup ya cantik... ayo kita masuk mobil nanti kamu masuk angin."


Beberapa kendaaraan yang melintas di jalan itu membunyikan klakson mereka keras-keras melihat tingkah laku 2 anak manusia itu.


"Hey, air di rumah kalian tidak nyala ya sampai harus mandi di tengah jalan begitu?" Teriak salah satu pengemudi sedan merah.


"Iya maaf bu, ini istri saya sedang ngidam!" Timpal Gio.


"Oh pantas saja kalian melakukan hal konyol begitu." Ujar wanita itu sambil berlalu.


Wanita yang mengendarai mobil sedan merah itu seperti mengerti bahwa ngidamnya wanita hamil walau pun sering aneh memang harus dituruti agar sang bayi kelak tidak ngiler.


Setelah merasa puas mandi hujan, kedua sejoli itu masuk ke mobil membuat basah tempat itu.


"Kita harus segera pulang untuk berganti pakaian dan mandi." Rencanamu untuk makan kebab di jalan Mangga kita tunda ya sayang?"

__ADS_1


"Oke" Sarah manggut-manggut


"Dingin juga ya ternyata airnya." Ucap Sarah polos.


hahahah Gio tergelak "Lagian kamu tuh ada-ada saja sayang ngidamnya." "Setahuku ngidam itu ingin makan mangga muda yang dipetik dari pohon atau ingin perutnya dicium artis idola kesayangan begitu kan?"


"Baru kali ini ada yang ngidamnya sepertimu." Hahahah


"Iya ini kan keinginan anakmu bukan aku." Sarah langsung manyun 5 sentimeter.


"Jangan manyun begitu ah nanti aku cium lho!"


Sarah langsung memundurkan bibirnya dan mencubit lengan Gio.


Sesampainya di rumah, seluruh penghuni rumah terutama Mang Dana yang membuka gerbang bengong melihat Sarah dan Gio turun dari mobil basah kuyup.


"Tuan muda Gio, apa yang terjadi? "Apa mobilnya bocor?" tanya mang Dana polos


"Hahahaha tidak mang, tadi kami mandi."


Mang Dana ditinggalkan dalam keadaan bengong.


Bi Eti tergopoh-gopoh membawakan handuk untuk nona dan kekasihnya. Lalu ia kembali ke dapur untuk membawa alat tempur guna mengeringkan lantai yang basah.


"Ayah, bolehkah Ayah pinjami Gio pakaian?"


Ayah yang kebingungan lalu berjalan ke kamar untuk mengambil pakaian di lemarinya.


"Ini pakailah!" Ayah memberikan kaos hitam dan celana pendeknya untuk dipakai Gio. "Ayo sana lekas mandi agar tidak sakit. Lalu Gio masuk ke kamar mandi khusus tamu di lantai itu.


*****


Di dapur nyonya Leni dan Sandrina sedang masak untuk makan malam. Walau pun ada pelayan, tapi ibu selalu menjadi koki terbaik di rumah ini. Ibu memang hobi memasak sejak kelas 3 SD.


"Bu, tadi aku lihat kakak pulang basah kuyup." "Bukankah mereka naik mobil, tapi kenapa basah begitu ya bu?"


"Ah Sayang, tak usah dipikirkan, paling mereka kehujanan saat keluar dari butiknya mba Nur tadi."


"Iya juga ya bu mungkin memang begitu."


"Sudahlah ayo kita lanjutkan masaknya, Kamu lanjutkan goreng tahunya jangan sampai gosong. "Ibu mau bikin sambal."


Setelah semuanya siap, Ibu dan Sandrina membawa semua makanan ke meja yang sedang ditata Safana.


"Bu, enak sekali kak Sarah datang-datang langsung makan saja." Tapi aku dan kak Sandrina kebagian tugas bantu ibu menyiapkan semua ini." Safana cemberut.


"Eh tidak boleh begitu, Sama saudara tidak boleh iri dengki begitu ah!"


"Kalian harus akur ya... kalau kakakmu itu ibu beri tugas mencuci piring dan pakaian juga dia tidak pernah iri atau mengeluh."


"Sudah sana panggil kakakmu dan calon kakak iparmu untuk makan bersama."


Safana dengan berat melangkah ke lantai 2


Setelah semua personil lengkap, mereka pun makan sambil sesekali mengobrol.

__ADS_1


"Nak Gio, apa semuanya sudah siap untuk pernikahanmu nanti?"


"Sudah Om hanya tinggal menunggu baju pengantin dan seragam keluarga saja."


"Tadi om lihat daftarnya yang ditunjukkan tante, mengapa kalian tidak menyiapkan souvenir pernikahan untuk tamu undangan?"


"Ohhh iyaaa yaaaa souvenir!"


"Sarah lupa ayah, aduh bagaimana ini mana waktunya tinggal 10 hari lagi." Sarah dilanda panik.


"Oh iya om terima kasih sudah mengingatkan."


"Tenang saja, aku akan minta bantuan Helmi untuk mengurusnya." Ucap Gio


Setelah makan malam usai, Gio menelepon Helmi sahabatnya


"Hel, aku butuh bantuanmu."


"Kami lupa untuk menyiapkan souvenir untuk tamu undangan di acara pernikahan nanti."


"Apa kau sanggup mengatasinya?"


"Pernikahanmu kan tinggal 10 hari lagi Gi, apa aku harus mendatangi ahli sulap untuk mewujudkan keinginanmu?"


"Kamu sih pacaran melulu dengan 2 wanita sekaligus sampai tidak sempat mengurus hal penting begini."


"Ssttt jaga bicaramu!"


"Jangan sampai Sarah mendengar aku masih berhubungan dengan Risma, sampai tadi malam kami masih tidur bersama."


"Haha takut tapi nekad kamu, bro!"


"Ah sudahlah hentikan... aku hanya minta kau urus masalah souvenir ini."


"Dapatkan souvenir yang bagus, unik dan berkelas sebanyak 500 buah."


"Aku transfer sekarang untuk dananya."


"Harus sudah siap 'H' min 3.. Ok bro?!"


"Ah your wish as my command, Boss!" (Keinginan Anda sebagai perintah bagi saya, Bos) sahut Helmi yang selalu mematuhi kehendak sahabatnya itu.


Gio kembali masuk ke dalam ruang keluarga untuk laporan bahwa souvenir beres.


"Souvenir sudah diatur, om dan tidak perlu khawatir."


"Saya pamit pulang dulu, sudah malam."


"Giii lupa ya aku ingin makan kebab sedari tadi?"


"Oh aku kira kamu sudah kenyang makan malamnya dan tidak menginginkan kebab lagi."


"Aku masih mau... antar aku sekarang juga ke jalan Mangga!"


"Baiklah calon istriku." Gio berkata sambil membungkukan badannya ke arah Sarah. Ayah, ibu dan kedua adiknya tertawa geli melihatnya.

__ADS_1


Sambil berjalan ke arah mobil, Gio berbisik dalam hati Apa memang wanita hamil makannya sebanyak itu ya? Bagaimana kalau tubuh Sarah jadi gendut dan tak menarik lagi di mataku?


__ADS_2