Di Mana Kau, Cinta

Di Mana Kau, Cinta
Maukah Kau Menjadi Istriku #2


__ADS_3

Jalanan ramai padat merayap jumat siang ini. Gio berharap mamihnya tidak marah karena Gio akan terlambat berada di hotel P.


Tak lama, handphone Gio berdering...


"Sayang kamu dimana?" "Mamih sama papih sudah sedari tadi menunggu di kamar." "Kamu masih lama?"


"Iya maaf mih, jalanan macet sekali, sebentar lagi Gio sampai."


"Mamih papih tunggu saja di restoran YM di lantai lima hotel itu, pesan makanan duluan yaa mih."


"Sebelum makanan itu datang ke meja mamih, Gio sudah di sana." Gio meyakinkan ibunya.


"Ah ya sudah kalau begitu." Kata mamih sambil menutup teleponnya.


Mamih memesan sop buntut goreng dan nasi. Papih memesan nasi dan sate ayam. Jus belimbing dipilih keduanya sebagai minumnya.


Setelah nyonya Vika dan tuan Adam memesan, Gio datang dengan nafas ngos-ngosan karena berlari dari pintu lift.


"Mih, senang melihat mamih disini sambil mengecup pipi dan memeluk mamihnya erat."


"Pih, papih sehat kan?" Tanya Gio sambil mencium punggung tangan papihnya.


"Ya, papih sehat... duduklah Nak, kamu mau pesan apa?" Si papih menjentikan jarinya untuk memanggil pelayan restoran.


"Aku minta Fish and chips 1 sama es kapucino 1 ya mba, makasih."


"Baik mas, mohon menunggu." Ucap si pelayan.


Ahhh kalau ingat es kapucino, aku langsung ingat Sarah, batin Gio. Aku sangat merindukanmu Sarah, sudah 2 minggu kita tak berjumpa. Apakah kamu merindukanku Sarah?


Mamih mengibas-ngibaskan jemari cantiknya di hadapan wajah Gio untuk menyadarkan Gio yang tak bergeming diajak ngobrol.


"Eh eh maaf mih Gio melamun."


"Aduh nak, ngelamunin apa sih siang bolong begini?"


" Ya siapa lagi kalau bukan Sarah mih." Jawab Gio.


"Ehmm sepertinya anak mamih ini tidak bisa mengalihkan pikirannya walau sekejap dari gadis bernama Sarah itu ya?"


"Mamih jadi penasaran... Seperti apa sih gadis pilihanmu itu Gi?"


"Apa dia lebih cantik dibanding Risma gadis pilihan mamih?"


"Aduh mih, kenapa mamih masih menyebut nama itu mih?" "Mamih kan tahu Gio tidak akan pernah mau menikah dengannya." "Mendengar namanya saja Gio tidak sudi." Ucap Gio


"Coba sebutkan alasanmu Gi, sampai-sampai kamu sangat membenci Risma!" "Yang mamih tahu dia anaknya baik koq dan berasal dari keluarga terpandang seperti kita."


"Oke mih, Gio akan buka semuanya pada mamih dan papih."


"Sebenarnya Risma itu perempuan murahan pih, dia sering ke club malam dan tidur dengan lelaki yang gonta-ganti setiap minggunya."


"Apaaaa?"


"Masa sih?"


"Ah pasti kamu mengarang semua ini agar mamih mau merestui hubunganmu dengan Sarah dan melupakan Risma."

__ADS_1


"Mamih harus percaya sama Gio." "Sahabat Gio yang bernama Helmi juga pernah jadi teman tidurnya mih."


"Apaaaa?" Mata mamih melotot lagi mendengarnya... Sepertinya kali ini mamih percaya.


"Lalu, apa hebatnya si Sarah ini?" "Apa dia sederajat dengan kita, Gi?" "Apa pekerjaan orang tuanya?"


"Sarah baru lulus SMA mih, pih dan orang tuanya berprofesi sebagai guru di Sekolah Menengah Atas."


"Baru lulus SMA?"


"Apa mamih tidak salah dengar?" "Kenapa kamu memaksa kami untuk melamar ABG untukmu!?"


Orang tuanya juga cuma guru. Gajinya kan kecil, tidak sederajat dengan kita Gio. Menyesal mamih datang kesini.


"Mih, sabar dulu mih, walaupun orang tua Sarah cuma guru tapi ayah Sarah berasal dari keluarga kaya mih."


"Kakek neneknya dan kakek buyutnya adalah tuan tanah di daerah utara mih jadi otomatis Sarah sudah kaya dari sononya."


"Apa yang dilakukan gadis itu sehingga kamu bernafsu sekali ingin segera menikahinya di usia mudah begini?"


"Sarah tidak melakukan apapun pada Gio mih." "Justru Giolah yang melakukan sesuatu padanya..." Seketika Gio menundukkan wajahnya.


"Apa kamu menghamilinya?" Lalu orang tua gadis itu meminta pertanggungan jawab darimu?" "Begitu?" Teriak si mamih.


"Ti Tidak mih gadis itu belum hamil." "** ta tapi Gio sudah menghancurkan masa depannya mih."


"Maksudmu?" Desak si mamih...


"Gio sudah merenggut kesuciannya dengan paksa mih."


"Apppaaaa??!"


"Lihat papih Gio dan katakan yang sebenar-benarnya!"


"I iyaaa pih maafkan Gio." "Gio memberinya barang haram yang membuatnya tidak sadar lalu Gio melakukan itu padanya menikmati kesuciannya." "Itu Gio lakukan karena Gio sangat mencintainya pih, mih."


"Gio ingin memilikinya selamanya."


"Gio tak sanggup kehilangannya walaupun sedetik."


"Tapi karena dia sangat jual mahal hanya akan memberikan kesuciannya pada suaminya, maka Gio memaksanya pih."


"Sampai sekarang sepertinya orang tua Sarah tidak mengetahui hal ini pih."


Plakkkkkk


Tangan besar itu mendarat di pipi Gio yang langsung memerah. "Papih tidak membesarkanmu menjadi lelaki bajin*** seperti ini!" Gio dibentak tuan Adam!


"Kamu memang sudah seharusnya segera menikah dengannya dan mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" Lanjut tuan Adam yang disambut dengan anggukan nyonya Vika.


"Maafkan Gio, Mih Pih..."


Setelah makan siang dan percakapan menegangkan itu selesai, Gio ingin segera menemui Sarah dan membawakan berita baik untuk gadis impiannya itu. Di belokan rumah Sarah, tiba-tiba Gio ingat kata-kata Sarah


"Jangan pernah menghubungiku apalagi menemuiku apabila bukan untuk melamarku".


Gio menekan bel rumah berkali-kali dengan dalam saking semangatnya. Gio tak sabar ingin menemui pujaan hatinya. Seketika wajahnya menjadi sendu ketika yang datang malah pembantunya bi Ika.

__ADS_1


Oh Tuan Gio, mau ketemu nona Sarah ya?" "Sebentar saya panggilkan."


Muka Gio bertambah sendu karena setelah beberapa menit menunggu yang datang tetap bi Ika bukan nonanya itu.


"Maaf tuan, nona sedang tidak mau bertemu dengan tuan." "Silahkan tuan titip pesan saja sama saya ada perlu apa tuan datang kesini?"


"Ya sudah bi sebentar yaa..."


Gio mengeluarkan buku dan pulpen dari dalam tasnya lalu menuliskan surat untuk Sarah.


***Dear Sayangku Sarah,,,


Persiapkan dirimu besok malam pukul 7 aku dan orang tuaku akan datang untuk melamarmu.


I Love You cantik muahhh***.


Bi, tolong berikan surat ini pada nonamu sekarang juga ya bi. Aku permisi dulu.


Tok tok tok...


Non, ini pesan dari tuan Gio. Bibi menyerahkan surat cinta itu. Ya bi makasih yaa.


Sarah membuka dan membaca surat itu. Surat cinta pertama yang diberikan Gio padanya setelah hampir setahun mereka berpacaran.


Whatttt? Apa ini serius yang dituliskannya? Kenapa dia melamarku dadakan begini? Apa yang harus kupersiapkan? Bagaimana dengan keluargaku?


Sarah keluar kamar hendak mencari ibu dan ayahnya. Lalu saat menemukan mereka ada taman belakang, Sarah memberikan surat di tangannya.


"Wahh sungguh kejutan yang menyenangkan, sahut ayah."


"Apakah Sarah mau dilamarnya?" Tanya Ayah yang dijawab dengan anggukan Sarah.


"Tapi bagaimana mungkin kita mempersiapkan segalanya untuk acara lamaran hanya dalam waktu sehari yah?" sahut ibu.


*****


Dengan persiapan yang sederhana dan super kilat akhirnya sebentar lagi acaranya akan segera dimulai.


Keluarga besar Sarah, Gio dan orang tuanya sudah berkumpul di taman belakang di tempat acara akan berlangsung. Lampu-lampu warna-warni berkilauan dan aroma bunga mawar menyeruak terbawa angin.


Sarah menatap dirinya di cermin memandangi riasannya, merapikan kebaya salemnya dan mengecek sanggul kecilnya. Kegiatannya diganggu oleh suara ketukan di pintu kamarnya dan suara cempreng tak asing di telinganya, Sandra.


"Sarah apakah kamu sudah siap say?"


"Ayo kita turun ke taman, semua sudah menunggumu."


Sambil berjalan bergandengan, Sarah berkata pada Sandra bahwa dirinya sangat gugup dan Sarah mencoba menenangkannya.


Suara musik dimainkan oleh band ketika melihat kemunculan Sandra dan Sarah di ujung taman. Lagu cinta mengalun merdunya mengiringi Sarah berjalan ke kursi yang telah disediakan panitia.


Gio seolah tak berkedip menatapnya sejak di ujung taman hingga kini Sarah duduk di hadapannya. "Oh Sarah sungguh cantik dan mempesonanya dirimu. Aku sudah tidak tahan ingin segera memilikimu." batin Gio


Nyonya Vika melirik calon menantunya itu. Oh dia memang cantik, tinggi dan menarik. Sesuai dengan selera Gio gumamnya dalam hati.


Setelah MC membuka acara dan ada beberapa sambutan dan perkenalan dua keluarga besar maka inilah saat yang ditunggu-tunggu Sarah.


"Sarah Alifia Senja, maukah kamu menjadi istriku?" "Menjadi pendampingku sampai maut memisahkan dan menjadi ibu dari anak-anakku?"

__ADS_1


Panjang amat bisik Sandra mendengar lamaran yang tak biasa itu.


Sarah menjawab "Ya, aku mau" disambut tepuk tangan semua orang di taman itu dan senyum bahagia Gio dan orang tuanya.


__ADS_2