Di Mana Kau, Cinta

Di Mana Kau, Cinta
3 Minggu Sebelum Hari "H"


__ADS_3

Sarah berlari keluar kamar Gio meninggalkan 2 manusia yang baginya perbuatan mereka sangat memalukan. Air mata rak sanggup lagi dibendung. Sambil terisak terus berlari keluar gerbang kosan itu. Dia lupa bahwa dia datang bersama Mang Dana supirnya.


"Eh itu nona Sarah kan yang berlari di belakang mobilnya" Mang Dana bingung.


Mang Dana memberanikan diri bertanya pada Gio yang mengejar nonanya hingga keluar gerbang.


"Ada apa ini tuan?" "Mengapa nona berlari sambil menangis begitu?"


Gio dengan polosnya mengatakan semua yang terjadi kepada mang Dana dengan nada panik dan penuh penyesalan.


Buggggg. Sebuah kepalan tangan mendarat di perut Gio. Dilanjutkan dengan tendangan di selangkangannya.


"Aduhhh kenapa mang Dana memukul dan menendangku begini"?


"Tuan, anda telah menyakiti nona saya yang saya sayangi dan jaga sejak beliau kecil." "Anda pantas mendapatkan yang lebih dari ini. Saya akan laporkan pada Tuan dan Nyonya besar."


Mang Dana pergi meninggalkan Gio yang terkulai lemah di lantai parkiran. Lalu menghidupkan mobil dan menyusul kepergian nonanya.


Non Sarah, nona dimana? Kenapa larinya cepat sekali. Aku mohon nona berhentilah berlari agar aku bisa segera menemukan anda.


Bagaimana ini bila aku tidak berhasil menemukan nona, pasti aku yang akan mendapatkan hukuman dari Tuan Andre. "Mang Dana berbicara pada dirinya sendiri sambil menoleh sekeliling jalan mencari jejak keberadaan nonanya."


Mang Dana sibuk menyetir sambil menoleh ke kiri dan kanan dan tangannya menelepon nonanya.


HPnya tidak aktif...


Haduh bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada tuan dan nyonya di rumah?


Setelah beberapa kali putaran di jalan yang sama, akhirnya mang Dana memutuskan untuk pulang dan berharap nonanya sudah tiba di rumah dengan selamat.


Di kosan Gio, Risma tersenyum puas sudah bisa menghancurkan hubungan mantan yang masih dicintainya itu. Risma yakin pernikahan Gio dan Sarah akan batal dan Gio akan kembali menjadi miliknya.


"Kalau Gio tidak bisa menjadi milikku, maka tidak ada seorang wanita pun yang bisa memilikinya." Gumam Risma.


"Enak sekali Sarah direnggut kesuciannya lalu akan dinikahi Gio, sedangkan aku yang sudah sejak 3 tahun lalu memberikan kesucianku pada Gio tapi malah ditinggalkan begini."


"Bagaimana mungkin aku yang sudah lama menjalin hubungan malah dicampakan tapi Sarah yang baru 8 bulan menjadi pacarnya sudah akan dinikahi." Risma mengumpat dalam hati.


*****


Di tempat lain, di kedai roti pertigaan termenung seorang diri...


Sarah berusaha menghentikan tangisnya. Sekarang ia duduk di tempat yang sama saat dulu pertama kali berjumpa dengan Gio. Di kedai roti inilah perjalanan cintanya dimulai.


Sarah teringat semua kenangan indah bersama Gio dan segala perlakuan Gio padanya. Ada suka dan duka, manis dan pahit. 3 minggu lagi tanggal pernikahan mereka. Undangan sedang dicetak, baju pengantin sedang dijahit, catering dan gedung sudah dibooking.


Terjadilah pergolakan dalam hati..


Bagaimana ini?


Apakah aku harus membatalkan pernikahanku setelah apa yang dia perbuat dengan Risma?


Ataukah aku tetap menikah dengannya dan melupakan rasa sakit atas pengkhianatannya?


Apakah aku mampu bertahan dalam hubungan yang telah dinodai perselingkuhan di dalamnya?

__ADS_1


Aku bisa dengan mudah memaafkan kesalahan Gio tapi apakah akan mudah juga melupakannya?


Oh Tuhan, aku harus bagaimana?


Air matanya berlinang lagi...


Gio mengapa kamu lakukan ini? 3 minggu sebelum hari "H" kamu hancurkan hubungan kita.


Kamu rusak kepercayaanku begini. Sarah menelungkupkan wajahnya di meja.


Jemari itu lembut membelai kepalanya Sarah. Ketika mengangkat wajahnya dari atas meja, betapa terkejutnya ia mendapati Gio ada di hadapannya.


"Bagaimana kamu tahu aku ada disini"?


"Aku tak ingin melihatmu... pergilah!*


Sarah menjauhkan tubuh Gio darinya.


"Sayang, kekuatan cinta yang membawaku ke sini."


"Aku tahu kamu ada di sini mengenang hubungan kita."


"Aku tidak mau berpisah denganmu karena Risma."


Gio menjatuhkan tubuhnya, berlutut di lantai kedai yang dingin.


"Aku mohon jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku sayang."


"Aku tak akan sanggup kehilanganmu."


Gio meneteskan air mata.


"Risma terus saja menggodaku."


"Apalagi di saat ia tahu aku akan menikahimu, tingkahnya semakin gencar mendekatiku."


"Tadi malam dia sudah ada di depan kamarku saat aku pulang."


"Bodohnya aku yang tak mampu mengusirnya." "Bodohnya aku yang terbuai godaan wanita iblis itu."


"Aku terpaksa melakukan ini karena Risma berjanji apabila aku menuruti kehendaknya memuaskan nafsunya malam tadi, maka ia akan pergi jauh dariku, menjauh dari hubungan kita."


"Aku mohon maafkan aku, maafkan calon suamimu ini sayang." Gio memeluk tubuh Sarah.


"Hentikan menyentuh tubuhku!"


"Aku tak sudi kau menyentuhku setelah kau sentuh tubuh wanita itu semalaman."


"Lebih baik lupakan aku, lupakan rencana pernikahan kita."


"Kembalikan HPku."


"Itu saja yang kuminta padamu."


"Tidakkkk jangan katakan itu sayang!"

__ADS_1


" Aku tidak bermaksud menyakitimu."


" Aku tidak bermaksud menghancurkan rencana pernikahan kita."


"Berilah aku kesempatan, aku mohon."


"Aku sangat mencintaimu."


"Risma adalah masa laluku."


"Aku berjanji tidak akan ada Risma lagi dalam hubungan kita."


Gio menggenggam erat jemari Sarah terus saja memohon. Namun Sarah memilih melepaskan jemari itu lalu pergi meninggalkannya.


Sesampainya di rumah, Sarah disambut mang Dana yang sangat khawatir akan nonanya. Apabila boleh, ingin sekali ia memeluk Sarah seperti anaknya sendiri. Dia tahu saat ini yang Sarah butuhkan hanya sebuah pelukan hangat yang menenangkan.


Tapi ada daya, mang Dana hanya bisa menenangkan nonanya lewat kata-kata. "Non, yang sabar ya jangan bersedih, tadi mamang sudah memberi pelajaran pada tuan Gio."


Ya Sarah tahu mang Dana yang jago bela diri itu tidak akan membiarkan Sarah dan keluarganya disakiti.


"Terima kasih ya mang.. mamang tidak usah bilang pada siapa pun masalah ini ya." Pinta Sarah


Ya lebih baik aku pendam sendiri masalah ini. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang tentang apa yang harus kulakukan jadi lebih baik menyimpan dulu semuanya ini.


Sarah berjalan lemas ke kamarnya. Baru saja ia menutup pintu, sudah ada yang mengetuk dari luar.


"Ya ada apa bi?"


"Ini non, ada kiriman bunga dari tuan Gio. Bunganya besar dan cantik sekali ya non, seperti non Sarah."


"Iya bi makasih yaa."


"Aku mau istirahat, tolong tahan semua telepon dan tamu ya bi."


"Baik non, bibi permisi."


Sarah melihat bunga itu dengan perasaan hampa. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk menyentuhnya. Tapi Sarah penasaran melihat isi kartu berbentuk hati warna merah muda yang terselip di sana.


Kartu itu bertuliskan :


*Aku tahu aku memang lelaki tak setia.


Aku juga bukan lelaki yang menghargaimu*.


*Saat kau sedih aku malah memanfaatkan situasi dengan menodai kesucianmu.


Saat kau bahagia mempersiapkan hari pernikahan kita, aku malah menodainya dengan dusta dan air mata*.


Sejuta kata maaf tak akan mampu menggantikan air matamu yang telah mengalir karenaku.


Ribuan mawar tak akan sanggup menyatukan kembali hatimu yang telah hancur berkeping-keping.


*Aku bukan seorang kekasih yang sempurna, tapi ijinkanlah aku menjadi suami paling sempurna karena mempunyai istri sepertimu.


I Love You Sarah

__ADS_1


Forever and One


💖*


__ADS_2