Di Mana Kau, Cinta

Di Mana Kau, Cinta
Telat


__ADS_3

Wedding List Sarah & Gio :


▪Baju Pengantin


▪Make Up🆗


▪Catering🆗


▪Cake🆗


▪Gedung🆗


▪Dekorasi🆗


▪Undangan🆗


▪Seragam Keluarga


▪Kesenian dan Upacara Adat🆗


Ah, hanya baju pengantin dan seragam keluarga yang belum OK. Gio anak tunggal jadi tidak perlu repot mengurus seragam keluarga. Sarah menghampiri kedua adiknya, Safana dan Sandrina di ruang keluarga. Mereka sedang asyik menonton acara gosip selebriti di TV berukuran besar.


"Dek, apa mba Nurul sudah menghubungi kalian untuk fitting baju?"


"Mba Nurul yang desainer itu kak?" tanya Sandrina.


"Iya." jawab Sarah


"Sudah koq kak, 2 hari yang lalu mba Nurul meneleponku, dia bilang besok akan fitting baju untuk kami dan juga ayah ibu ditambah calon mertua kakak." jawab Safana.


"Oh, kenapa kamu tidak memberitahuku dek?"


"Aku pikir kakak sudah tahu." jawab Safana enteng."


Sarah hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan ke dapur, kesal terhadap kedua adiknya yang selalu cuek padanya.


Diambilnya sekotak es krim rasa vanilla dari kulkas ditambahkan topping selai strawberry di atasnya. Lalu dilahap sampai tak tersisa.


Ah berat badanku bisa naik drastis nih kalau tiap hari makan es krim begini. Sarah selalu melampiaskan rasa kesal dan sedihnya pada es krim sejak kecil. Jalan menuju kebahagiaan paling pintas, pikirnya.


Setelah puas melahap 1 kotak besar es krim vanilla, Sarah memutuskan kembali ke kamarnya untuk mengecek kalender pernikahannya di buku agenda.


Ia meraih agenda di dalam nakas. Hari ini tanggal 27 berarti 12 hari lagi hari yang ditunggu tiba. Ehmm 27? Sepertinya aku terlambat datang bulan. Biasanya kan datang bulanku setiap tanggal 10. Haduh berarti aku telat 2 minggu lebih!


Sarah mulai dilanda kepanikan. Kesibukan mempersiapkan pernikahan membuatnya lupa tanggal datang bulannya.


Bagaimana kalau aku hamil?

__ADS_1


Tidak... tidak mungkin... tidak boleh hamil sekarang sebelum janur kuning melengkung.


Aku tidak mau jadi gunjingan orang-orang. Aku tidak mau membuat malu keluargaku.


"Halo Sandra"


"Ya ada apa say?"


"Aku telat datang bulan 17 hari, duhhhh bagaimana ini? Aku takut hamil Sandra!" Aku harus bagaimana?


"Ehm tenang saja toh kamu kurang dari 2 minggu lagi akan menikah kan?" Jadi tidak ada yang akan tahu kalau kamu hamil duluan kan. Amannn lah say.


"Eit mana boleh begitu Sandra,,, Aku tidak mau hamil sekarang." Apa yang harus kulakukan?


"Ya sudah pergi ke apotik saja beli alat uji tes kehamilan alias test pack."


"Ah aku takut." Maukah kau membantuku? Rayu Sarah.


"Oke oke nanti aku belikan, sore ini aku antar ke rumahmu ya."


"Sip.. terima kasih banyak sahabatku tersayang."


Sarah termenung di atas sofa cream di sudut kamarnya. Sarah tidak bisa membayangkan kalau dirinya betul-betul hamil sekarang. Tidak sanggup membayangkan wajah-wajah sedih dan kecewa keluarga besarnya. Tidak sanggup membayangkan rasa malu yang harus ditanggungnya seumur hidupnya.


Tak luput dari kecemasan Sarah akan status anaknya yang akan disebut anak haram. Tidak tahan semuanya, Sarah menutup wajahnya dengan bantal sambil berteriak tidakkkkk.


Teringat wejangan ayahnya bahwa ia harus tetap kuliah walaupun sudah menikah. Pendidikan sangat penting di keluarganya, semua anaknya harus menjadi sarjana Strata 1 minimal. Masa depan akan lebih cerah katanya kalau pendidikan kita tinggi.


Baiklah besok aku akan mendaftar ke jurusan psikologi di universitas U sebelum aku telat takut waktu pendaftarannya berakhir... batin Sarah. Karena tidak bisa tidur, siang itu Sarah menyiapkan segala berkas yang diperlukan sebagai syarat pendaftaran kuliah mulai dari Ijazah SMU, Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk, dan pas foto berwarna ukuran 3x4.


Tiba-tiba Sarah teringat akan masa depan Gio . Dia juga kan baru lulus kuliah perhotelan. Apa dia akan bekerja untuk menghidupi aku dan anaknya kelak? Daripada menerka-nerka sendiri, Sarah memutuskan untuk mencari jawabannya sekarang juga.


"Halo sayang, lagi apa?"


"Hai sayang, aku lagi main games nih."


Apakah suamiku kelak akan menghabiskan waktunya bermain games? Sarah khawatir.


"Ehm sayang, apa rencanamu untuk masa depanmu?"


"Maksudmu?" Koq pertanyaanmu serius sekali sih? Gio heran.


" Ya kamu kan sudah lulus apakah kamu akan segera mencari pekerjaan?"


"Oh itu... hahahaha untuk apa aku mencari pekerjaan?"


"Lho, ya untuk mendapatkan uang untuk menafkahiku sebagai istrimu kan?"

__ADS_1


"Sarah sayang, kalau tentang itu tenang saja santai tidak usah kamu pikirkan ya. Walaupun tidak bekerja, aku akan mendapatkan uang dari papih kan."


"Apaaa? Tapi bukankah lebih baik bila kita hidup mandiri ya tidak bergantung pada orang tua?"


"Aku tidak mau punya suami pemalas yang hanya bermain games dan meminta uang pada orang tuanya!" Sarah cemberut.


"Hahahahha baiklah, oke oke kalau kau memaksaku, aku akan minta pekerjaan pada papih yaa."


Hah bukankah itu sama saja ya? Tidak mau berusaha sendiri. Tapi itu lebih baik kan daripada melihat suamiku diam di rumah seharian gumam Sarah.


"Sebetulnya papih pernah menawariku untuk mengurusi bisnisnya di Australia. Kalau kamu mau tinggal di sana bersamaku, aku akan mengiyakan tawarannya."


"Australia? jauh juga yaa... Lalu bagaimana dengan kuliahku?" ucap Sarah.


"Kuliahmu kan belum juga kamu daftarkan. Kuliah di negeri kangguru saja ya?" pinta Gio.


"Hem baiklah aku akan bicarakan dulu tentang ini pada orang tuaku."


"Semoga mereka setuju ya Sarah, jadi kita juga bisa sekalian bulan madu di sana kan?"


"Wah boleh juga itu sayang. Sarah antusias dengan tawaran Gio. Ya sudah, sudah dulu ya nanti aku telepon lagi. Bye muachhh."


Tok tok... ketukan di pintu kamar.


"Ya sebentar."


"Ah syukurlah kamu sudah datang Sandra."


"Mana test pack-nya? Aku akan segera memakainya."


"No jangan sekarang, kamu harus memakainya besok pagi saat bangun tidur supaya hasilnya lebih akurat."


"Oh begitu ya... Yaaa aku masih belum bisa tenang ini harus tunggu sampai besok pagi."


"Memang begitu cara pakainya Sarah sayang, untuk lebih jelasnya kamu baca saja di sini."


"Oke deh. Thanks ya beb. Muahhh Sarah mencium pipi Sandra dan memeluknya."


Malam itu Sarah sulit untuk tidur rasanya ingin segera datang pagi dan melakukan uji kehamilan.


Akhirnya pagi yang dinanti tlah tiba. Matahari menampakan cahayanya di ufuk timur.


Sarah segera bangun, minum air mineral yang ada di atas meja lalu berlari ke kamar mandi untuk membuang hajat. Tak lupa dibawanya alat uji kehamilan yang telah Sarah pelajari cara pakainya.


3 menit Sarah pandangi alat itu lalu muncul 1 garis merah. Dipelototi, ditunggu kemunculan garis berikutnya sambil memejamkan mata berharap tidak bertambah garisnya.


Sarah takut membuka mata... takut menghadapi kenyataan...

__ADS_1


__ADS_2