
Masih dalam kebingungannya memikirkan perbedaan cinta dan nafsu, Sarah memutuskan untuk segera mandi karena air hangatnya telah siap.
Rumah Sarah memiliki fasilitas yang cukup mewah, dari AC, air panas, dan mushola yang mampu menampung 10 orang. Walaupun orang tua Sarah hanya guru dengan penghasilan yang dibilang kecil tak sebanding dengan jasanya, tapi Nenek Kakek Sarah adalah tuan tanah yang terpandang di lingkungannya.
Rumah besar beserta fasilitasnya adalah pemberian kakek neneknya Sarah sejak ayahnya memutuskan menikah.
Sarah menikmati waktu berendam di bath tub yang sanggup menampung 2 orang itu. Dipejamkan matanya sambil membayangkan adegan di mimpinya dua hari yang lalu. Oh kenapa aku terus berharap mimpi menikah dengan Gio menjadi kenyataan?
Sarah tersadar dari lamunannya ketika suara ibunya terdengar menggelegar menyebut namanya menyuruhnya segera makan.
Sarah beranjak dari bath tub dan bergegas memakai handuknya. Setelah berpakaian Ia pun setengah berlari ke meja makan, disana sudah ada personil lengkap.
Capcay, ayam goreng chrispy, tahu, sambal dan kerupuk terlihat menggoda lidah Sarah. Mereka sekeluarga makan dengan lahapnya.
Setelah makan, percakapan dimulai dengan pertanyaan dari ayahnya
"Sarah, kapan kamu akan mendaftar ke universitas?" "Sudah sepuluh hari sejak hari kelulusan kamu tapi kamu lebih banyak menghabiskan waktu di kamar."
"Euh... eh ya Ayah nanti Sarah segera daftar."
Jauh di lubuk hati Sarah, dia enggan meneruskan pendidikannya. Sarah hanya ingin menikah dengan Gio. Tapi orang tua Sarah ingin semua anaknya jadi sarjana minimal S1 lah.
Aduh harus bagaimana ini?
Sarah yakin orang tuanya tidak akan mengijinkan menikah muda seperti ini. Apalagi Gio juga baru lulus kuliah, belum punya pekerjaan.
Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuanya bahwa Gio telah menggagahinya yang membuat anak kesayangannya kini tak suci lagi?
Mengetahui hal itu orang tuanya akan sangat kecewa dan sedih tapi pasti mereka akan memaksa Gio menikahiku untuk bertanggung jawab.
Memaksa Gio menikahiku? Sarah mengernyitkan dahinya... Hhmmm Nooooo aku tidak mau dinikahi secara terpaksa!
Siang itu panas terik. Sarah menyalakan AC kamarnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang yang dibungkus sprei hijau lumut. hhhmmm ademnya... lalu kantuk menyerang.
Baru Sarah memejamkan matanya, terdengar HPnya memanggil... ahhhh Gio? angkat tidak ya?
"Haloooo cantik"
"Apa sih gombal di siang bolong begini?"
"Aku kangen kamu sayang, ketemuan yuk sore ini?"
"Ah sudahlah aku males berbicara denganmu apalagi harus bertemu!"
"Jangan pernah menghubungiku lagi atau berani datang ke rumahku kecuali untuk melamarku!"
tuuuut.... telepon terputus...
Gio bengong, sibuk mencerna ucapan terakhir Sarah. Melamarnya??? hahhh? serius???
__ADS_1
Yaaa, aku memang mencintainya apalagi setelah merasakan keperawanannya. Belum pernah Gio merasakan kenikmatan sedahsyat itu seumur hidupnya. Tapi untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya dengan menikahi Sarah tak pernah terlintas di pikirannya. Aku lebih suka **** bebas batinnya.
Hari demi hari berlalu, Gio semakin merindukan Sarah. Bukan hanya tubuh Sarah yang ia rindukan tapi juga gelak tawanya, tangisnya, manjanya... ahhhh Sarah kamu meruntuhkan duniaku!!
Gio memainkan HPnya di kursi kayu di depan kamar kosannya. Okelah aku akan menghubungi mereka gumamnya.
"Pih, apa kabarnya?
"Papih sehat, begitu pun mamih, Kamu bagaimana disana Gi?"
"Baik pih... tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi Gio membutuhkan papih dan mamih segera ke Bandung menemui Gio."
"Lho, ada apa Gi?" seru lelaki tua itu khawatir.
"Temani Gio melamar seorang gadis pih"
"Apaaaaaaaa??"
"Gio apa mamih tidak salah dengar? Apa kamu mabuk siang bolong begini?" Suara mamihnya yang sejak tadi menguping di depan papihnya terdengar agak kesal dan kaget.
"Iya mih, Gio serius." "Gio sangat mencintai perempuan ini." "Hidup Gio tak berarti tanpanya Mih."
Tuttt... Gio menutup teleponnya sepihak.
"Pih, bagaimana ini?"
"Apa yang terjadi sama anak kita satu-satunya Pih?"
"Apa yang dilakukan perempuan itu sehingga Gio bertekuk lutut sampai ingin menikahinya segala?" "Apakah perempuan itu mengguna-gunanya?"
Nyonya Vika, mamihnya Gio menunjukan amarahnya. Dia memang ingin anak semata mayangnya menikah tapi satu-satunya calon menantu yang menurutnya pantas adalah Risma, anak sahabatnya sekaligus rekan bisnisnya.
Tuan Adam, papihnya Gio mencoba memeluk nyonya Vika dari belakang mencoba menenangkan istrinya yang terus saja mengomel.
"Sudahlah Mih, kita turuti saja permintaan Gio." "Gadis yang dipilih Gio pasti terbaik untuk anak kesayangan kita itu."
"Kebahagiaan Gio lebih penting dari harta bukan?"
"Bukan begitu Pih, kita kan belum kenal siapa perempuan itu bibit bebet bobotnya bagaimana kan pih?"
"Kalau Risma sudah pasti bibit bebet bobotnya jelas kan Pih."
"Sudah lama tidak telepon kita, sekalinya telepon malah minta kawin anak papih tuh!"
Setiap 2 jam sekali Gio menelepon mamih dan papihnya untuk memastikan mereka setuju untuk segeran datang ke Bandung dan melamar Sarah.
__ADS_1
Nyonya Vika pikir anak tampannya itu tidak akan berhenti meneleponnya sampai ia bilang oke.
Sampai tengah malam Gio masih melancarkan aksinya membujuk mamih papihnya agar mau mengantarnya melamar Sarah.
"Ya kalau papih sih setuju kamu menikah dengannya asalkan kamu bahagia, tapi ini si mamih belum memberikan restunya."
"Ayolah mih, restui Gio untuk menikah dengannya."
"Kalau mamih tidak setuju, Gio akan tetap menikah."
Gio merengek merayu mamihnya itu seperti dia merayunya agar dibelikan mainan sewaktu kecil.
Ahhh Gio kamu memang keras hati. Kalau sudah menginginkan sesuatu akan terus berupaya untuk mendapatkannya.
"Apa kamu akan terus menelepon dan tidak membiarkan mamih dan papih tidur malam ini?"
"Tentu mih!"
"Gio tidak bisa tidur memikirkan semua ini." "Gio akan berhenti menelepon mamih kalau mamih bilang Oke, lalu tidur."
"Ahhhh, Oke okeeee mamih restui. Besok mamih dan papih ke Bandung!"
"Ah akhirnya! Makasih mih pih, selamat tidur".
tutttt telepon terputus...
*****
"Pagi begini terasa sudah panas saja ya pih kata mamih."
"Hahaha mungkin hatimu yang panas mih."
"Pak Yayan, tolong besarkan ACnya ada yang kepanasan pagi ini." Perintah tuan Adam pada supirnya
Mobil melaju dalam kecepatan tinggi di jalan tol menuju Bandung.
"Pih, menurut papih seperti apa wanita itu?" "Apakah kecantikannya mengalahkan dewi kecantikan Yunani sehingga bisa menaklukan anak kesayangan kita?"
"Pih, Gio kan baru lulus kuliah, seharusnya dia mengurusi bisnis mebel kita bukannya malah mengurusi istri dan rumah tangga." "Bagaimana sih ini koq bisa begini anakmu itu Pih?"
"Pih, pih,,, apa ya bisnis calon besan kita? Apakah status sosialnya sama seperti kita?"
Si mamih kesal karena semua pertanyaannya tak satu pun dijawab papih yang ternyata tertidur lelap di sampingnya... "Aah papih!! mamih pun bertambah kesal dibuatnya.
Sesampainya di hotel, mamih langsung menelepon anak kesayangannya.
"Gi, mamih sama papih sudah ada di hotel "P" kamar 415." "Kita makan siang disini ya, mamih tunggu!"
"Baiklah mamihku tersayang, Gio kesana sejam lagi." muaahhh
__ADS_1