Di Mana Kau, Cinta

Di Mana Kau, Cinta
2 Minggu Sebelum Hari "H"


__ADS_3

Uhuk.. uhuk.. Mang Dana pura-pura batuk ketika melewati ruang tamu hendak keluar rumah untuk mencuci mobil. Batuk jadi-jadian yang hanya terjadi bila melihat sepasang kekasih bermesraan di hadapannya.


Begitulah nasib jomblo apabila melihat hal romantis di sekitarnya


Sontak Sarah dan Gio kaget mendengar suara batuk lelaki itu tapi setelah mengetahui yang memergoki mereka adalah mang Dana, mereka tidak melepaskan pelukannya bersikap acuh. Beda halnya bila yang memergoki adalah ibu atau ayahnya Sarah, pasti Gio langsung loncat menjaga jarak dengan Sarah.


"Sayang, kamu sudah siap?" Tanya Gio


"Memangnya kita mau kemana"?


"Wah wah kamu lupa ya kita kan ada janji dengan pihak catering untuk mencoba menu yang akan dihidangkan di pernikahan kita nanti."


"Lalu kita juga akan mencoba cake pernikahan sore ini sayang."


"Oh begitu, pantas saja kamu datang ke sini." "Aku kira kamu datang karena rindu padaku."


Hahaha Gio tergelak...


"Tentu saja aku rindu padamu sayang, rinduku tak pernah padam."


Muachhh kening Sarah dikecupnya.


"Ya sudah, tunggu sebentar ya aku ganti pakaian dulu."


"Ikuttttt" rayu Gio.


Uhuk.. uhuk... Mang Dana yang melintas ke arah dapur kembali batuk dadakan.


"Bercanda mang" Sahut Gio yang dibalas tatapan tidak suka dari mang Dana.


Sepertinya mang Dana menyimpan dendam karena mengetahui perselingkuhanku... batin Gio.


Dalam keadaan yang sedikit kikuk, Gio duduk di sofa sambil membaca majalah flora dan fauna.


Beberapa menit kemudian, ada yang menutup matanya yang sedang asyik membaca "Cara Buaya Berkembang Biak"


"Sayang, kamu sudah siap yaa.."


"Iya, ayo kita berangkat."


Sore itu sebelum masuk ke mobil, Gio memandang Sarah di hadapannya yang mengenakan rok jeans sepaha dengan kaos lengan panjang berwarna hitam.


"Ah kamu selalu terlihat menawan sayangku." Muachhh bibir Gio mendarat di pipi Sarah.


Uhukkkk... Mang Dana yang akan membukakan pintu gerbang kembali batuk melihat sikap calon suami nonanya itu.


"Tenang mang, nanti aku belikan obat batuk ya..." Sahut Gio datar.


Mang Dana hanya menggelengkan kepala.


Mobil melaju pelan sore itu karna seperti biasa jalanan padat merayap di jam pulang kantor


"Sayang, aku lupa membawa minum, aku haus sekali."

__ADS_1


"Baiklah kita mampir di minimarket di depan sana ya."


Mereka berdua berjalan bergandengan ke arah minimarket tanpa tahu ada sepasang mata yang mengintainya.


Tak jauh dari mobil Gio terparkir, Risma sedang berdiri mengantri di depan mesin ATM di samping minimarket itu. Ia melihat sepasang kekasih yang dimabuk cinta itu lalu memutuskan untuk keluar dari antrian.


Awww Sarah meringis kesakitan saat rambutnya dijambak dari arah belakang. Gio langsung menoleh dan betapa terkejutnya ia melihat Risma di sana.


"Hey lepaskan tanganmu dari Sarah!"


"Beraninya kamu menyentuh rambut istriku, beraninya kamu menyakiti calon istriku."


"Lepaskan ku bilang!"


"Jangan membuatku hilang kesabaran dan menghabisimu."


Risma tetap menjambak rambut Sarah berulang sambil berujar


"Kenapa kamu masih menerimanya, bukannya malah meninggalkannya!"


"Seharusnya lelaki ini menjadi milikku bukan milikmu."


"Apa kau tidak merasa jijik melihat calon suamimu tidur denganku?"


Risma merasa aksinya merusak hubungan mereka telah gagal.


Gio menjentikkan jari ke atas. Lalu dua orang lelaki berbadan besar dan berotot segera menghampiri mereka. Kedua lelaki itu menarik tubuh Risma, menjauhkannya dari Sarah.


Gio mengelus-elus kepala Sarah dan merapikan rambutnya dengan jari.


"Aku tidak apa-apa, tidak ada yang luka koq." Ucap Sarah menenangkan Gio walaupun rambutnya masih terasa sakit.


"Risma, kamu harus tahu bahwa tidak ada seorang pun yang akan memisahkan kami selain maut."


"Sikap rendahan yang kau lakukan itu tidak akan mampu membuatku berpaling dari Gio."


"Cinta yang kami miliki cukup kuat untuk menopang hubungan ini." Ucap Sarah.


"Hey gadis jal***, aku tidak akan mengotori tanganku dengan menyerang perempuan, Bawa dia!" Perintah Gio pada pengawalnya.


Risma meronta-ronta


"Lepaskan aku, lepaskan tanganku."


"Ini tidak adil, tidak seharusnya kalian memperlakukanku seperti ini, aku kan hanya mempertahankan laki-laki yang aku cintai." Teriak Risma.


"Maaf nona, kami hanya menjalankan perintah tuan muda."


"Kami hanya melindungi perempuan yang tuan muda cintai." "Jadi lebih baik anda diam dan ikut kami."


Risma dimasukan ke dalam mobil jeep berwarna hitam. Dibawa menjauh dari tempat itu dikembalikan ke asalnya.


Setelah kepergian Risma, Sarah dan Gio kembali berjalan ke minimarket sesuai rencana awal untuk membeli air minum. Selain air mineral, Sarah membeli beberapa bungkus coklat dan es krim untuk dilahapnya di mobil agar dirinya menjadi tenang dan hatinya menjadi sejuk.

__ADS_1


Setelah masuk ke mobil, Sarah langsung memakan es krim vanilla favoritnya. Tak lupa ia menyuapi Gio yang sedang serius menyetir. Kedua insan ini belum tertarik sepertinya membahas Risma.


Setelah es krimnya habis, dibukanya cokelat lalu dilahapnya sampai habis.


"Sayang, apa yang akan dilakukan para pengawalmu terhadap Risma?"


"Risma tidak akan disakiti kan?"


"Ah sayangku, untuk apa kamu masih peduli pada perempuan sialan itu?"


"Sudahlah, tak usah dipedulikan, yang penting dia akan jera menyakitimu dan mengganggu hubungan kita."


Jera?


"Bukankah dia pernah berjanji untuk tidak mengganggu hubungan kita lagi setelah tidur denganmu?"


"Tapi buktinya mana, dia masih saja menyakitiku kan?"


"Walaupun dia menyakitiku berulang kali, aku tidak tega kalau sampai ia disakiti para pengawalmu, kasihan dia."


"Dia hanya belum bisa merelakanmu untukku."


"Apa sebaiknya kita sudahi saja hubungan kita dan kamu kembali bersamanya?"


"Apa yang kau katakan sayang, jangan ngaco begitu."


"Aku tidak akan pernah mau hubungan kita berakhir apalagi untuk kembali padanya."


Kekasihku ini memang berhati mulia, sudah disakiti begitu masih saja mempedulikan lawannya. Batin Gio


"Apa kamu masih mencintainya? Sarah bertanya sambil mengusap pipi Gio.


"Tentu tidak."


Hubungan kami sudah berakhir sebelum aku manjadi pacarmu. Di antara kami tidak ada kecocokan. Selama berpacaran dengannya 3 tahun, banyak sekali pertengkaran di dalamnya.


"Ehmmm apa kamu merenggut kesuciannya juga seperti yang kamu lakukan padaku?"


Air muka Gio berubah kecut mendengar pertanyaan itu


"Ya." Gio menjawab dengan singkat dan sejelas-jelasnya.


Oh sekarang aku tahu mengapa Risma tidak bisa merelakan Gio untuk perempuan lain. Risma juga menginginkan Gio untuk menikahinya, bertanggung jawab atas perbuatannya yang sudah merenggut kesuciannya. Kasihan sekali nasibnya ditinggalkan oleh Gio setelah digauli selama 3 tahun. Apakah nasibku akan sama sepertinya bila aku tidak dinikahi Gio? Sarah berbicara dalam hati.


Pembicaraan terhenti saat mereka tiba di perusahaan catering.


Kedatangan mereka disambut manajer dengan senyum ramahnya.


Kedua sejoli itu dihidangkan banyak makanan di atas sebuah meja panjang. Makanan terdiri dari beberapa vendor catering, ada makanan Indonesia dan Western. Di meja sebelahnya ada beberapa contoh wedding cake beraneka warna dan rasa.


"Sayang, aku mau langsung ke sana." Sarah menunjuk meja wedding cake sambil merangkul lengan Gio manja.


"Ah bagaimana mungkin aku sanggup menolakmu tuan putri?"

__ADS_1


__ADS_2