
Mata Sarah terbuka saat sang mentari menampakan sinarnya masuk melalui jendela kamarnya. Ah pagi yang sangat cerah, secerah hati Sarah. Bangun di hari yang cerah selalu membuat mood siapa pun jadi baik di hari itu.
Sarah bergegas bangkit dari tempat tidurnya ketika melihat jam menunjukkan pukul 8. "Wah jangan sampai aku terlambat gumamnya".
Di lantai bawah, terdengar suara ibu berteriak memanggilnya untuk segera bangun.
"Ah ibu sampai kapan membangunkanku dengan teriak begitu sih, suaranya lebih bisa membangunkanku dibanding alarm." Ucap Sarah sambil menyabuni tubuhnya di bawah kucuran shower.
Selain geram karena Sarah bangun terlambat, ibunya juga khawatir akan terlalu siang berangkat ke pusat perbelanjaan untuk membeli barang-barang seserahan. Padahal mall juga belum buka kan jam 8 pagi begini kan.
Setelah memakai celana jeans dan kaos lengan panjang berwarna biru tosca, Sarah turun menghampiri ibunya yang sedang asyik bertelepon ria entah dengan siapa.
"Iya iya aku juga tidak menyangka anak gadisku akan menikah semuda ini, tapi bukan karna hamil duluan lho anakku kan masih perawan Hehehehe, pokonya tenang saja, pasti aku undang nanti yaa" .
Obrolan ibu terdengar menakutkan bagi Sarah yang statusnya sebetulnya sudah menjadi tak perawan lagi. Aduh semoga aku tidak hamil sebelum pernikahan ini terjadi pinta Sarah dalam hati. Sarah sangat takut akan mengecewakan orang-orang tersayangnya dan membuat mereka bersedih.
Seketika semangat Sarah untuk mencari seserahan sirna tertutup kegelisahan akan dirinya. Sinar matahari pagi yang cerah seketika tak terasa lagi tergantikan mendung di pikiran Sarah.
"Ayolah Sarah berpikir positif. Singkirkan kegelisahanmu itu. Walaupun aku hamil kan aku akan segera menikah dengan Gio, jadi tenang sajalah. Semangatttt!" Sarah berkata dalam hati menghibur diri sendiri.
Setelah sarapan bubur ayam spesial dan segelas hot kapucino Sarah kembali ke kamarnya mengambil tas selempang berwarna biru navy dan sepatu flat berwarna navy. Kemudian bergegas ke halaman rumah dimana sudah ditunggu ibunya di samping mobil.
"Ayo mang Dana kita berangkat sekarang" perintah ibu kepada supirnya.
"Baik nyonya". Jawab mang Dana sambil membukakan pintu mobil untuk nyonyanya.
Di sepanjang perjalanan, Ibunya Sarah banyak memberi arahan perihal barang yang boleh dibeli dan tidak. Sarah hanya menanggapi dengan ala kadarnya karena selama ini seleranya memang berbeda dengan sang ibu.
"Waduh bagaimana ini jadinya kalau ibu memaksakan kehendaknya di mall nanti" batin Sarah gelisah.
Sesampainya di tempat tujuan, mall sepertinya baru buka. Masih terlihat beberapa petugas cleaning service yang sedang membersihkan lantai dan mengelap kaca. Duh sepertinya Sarah dan ibunya pengunjung pertama di sana.
Toko pertama yang didatangi adalah toko perhiasan. Sarah berniat membeli seperangkat perhiasan mulai dari cincin, gelang, kalung, anting dan gelang kaki bila perlu. Mata Sarah bersinar memandang sekeliling ruangan yang dipenuhi perhiasan mewah nan indah seperti emas putih dan berlian yang juga bersinar disana.
Setelah meminta pendapat nyonya Leni sang ibu, dan beradu argumen sebentar, akhirnya terpilihlah 1 set perhiasan emas putih bertahtakan berlian kecil yang cantik. Ibu berjalan ke kasir untuk membayar perhiasan itu tapi dikagetkan oleh Sarah yang mendahuluinya dengan menyodorkan kartu kredit unlimited berwarna hitam.
"Lho Sarah, kartu siapa itu yang kamu pegang?"
"Koq bisa kartu yang kamu pegang lebih bagus dari punya ibu?" Ibu kaget.
"Eh.. iya ini kartu pemberian papihnya Gio." "Katanya aku harus menggunakan ini untuk semua pembayaran seserahan."
"Lho jangan begitu."
"Ibu dan ayah masih mampu koq membayar semuanya."
"Iya Bu, Sarah juga sudah bilang begitu dan menolaknya... tapi Gio memaksa bu."
__ADS_1
"Kasir di depan mereka hanya bengong sambil menoleh ke arah Nyonya Leni dan Sarah menunggu kedua wanita di depannya itu berdebat".
"Aduh bagaimana ini ya?"
"Ibu harus menelepon ayahmu dulu meminta pendapatnya tentang ini."
"Tunggu sebentar ya mba, ucap ibu kepada kasir."
Untung saja pagi itu toko masih sepi, tidak ada pengunjung lain selain mereka jadi tidak membuat pembeli lain kesal karena harus berlama-lama di kasir.
Ibu menjauh dari kasir untuk menelepon suaminya.
Sarah hanya memperhatikan dari jauh.
Beberapa menit kemudian, Ibu kembali.
"Ya sudah ibu mendapat persetujuan ayahmu untuk menggunakan kartu itu."
"Ternyata Papihnya Gio sudah menelepon ayah semalam, memaksanya agar mereka membiayai semuanya."
"Walaupun ayah awalnya keberatan, tapi akhirnya setuju juga. Nyonya Leni menjelaskan."
"Ya bu." Ucap Sarah sambil menyerahkan kartu hitam itu ke kasir yang sepertinya sudah mulai kehilangan kesabaran.
Keluar dari toko perhiasan, Sarah dan nyonya Leni berpindah ke toko pakaian dalam yang letaknya berada 3 toko di sebelahnya.
"Boleh kan bu aku beli yang ini?"
"Hemmm, apa tidak terlalu seksi?"
"Iya sih memang sangat seksi tapi kan ini untuk suamiku seorang bu, jadi boleh ya?" Sarah tersipu malu...
"Hemmm ya belilah sesukamu jawab ibu."
Sarah memeluk ibunya kegirangan. Lalu memilih 3 set bra dan celana dalam berwarna merah, pink, dan biru navy.
"Oke sepertinya cukup untuk sekarang bu." Sarah menggandeng ibunya ke meja kasir.
"Ah pasti Gioku sayang akan terpesona melihatku dalam lingerie seksi begini saat malam pertama", batin Sarah. Seperti kontak batin, terdengar HP Sarah berbunyi, Gio meneleponnya.
"Halo calon istriku yang cantik, lagi di toko lingerie ya?" "Aku sangat suka dengan pilihanmu itu sayang."
"Hah?" "Bagaimana kamu tahu aku ada di toko dengan lingerie seksi?" "Apa kamu memata-matai aku sayang?"
"Iya, ada pengawal yang kusiapkan untukmu agar tidak ada yang mengganggumu."
"Apaaaaa???"
__ADS_1
"Pengawal?" "Dimana?"
Sarah melihat sekelling dan matanya berhenti saat melihat seorang lelaki bertubuh kekar berpakaian serba hitam dan memakai kaca mata hitam, terlihat tampan namun seram hiiii berdiri mematung 5 meter jauhnya.
"Jadi sejak tadi aku dan ibu diikuti?"
"Iya sayang, dia mengikutimu sejak keluar rumah."
"Jangan takut, dia disana hanya untuk melindungimu agar tidak ada yang berani mengganggu calon istriku."
"Tapi aku tidak mau dan tidak perlu pengawal, aku kan bukan artis".
Ibu hanya diam sambil serius mendengarkan Sarah berbicara dengan Gio.
"Tenang sayang, ini semua perintah dari papih." "Dia mengirim pengawalnya tadi malam khusus untuk melindungimu dan keluargamu."
"Sampai kapan?" "Hari ini saja kan?"
"Tentu tidak."
"Lalu sampai hari pernikahan kita kan?"
"Tidak sayang, pengawal akan selalu berada di dekatmu selamanya, selama kamu menjadi istriku."
"Apaaa??" "Tapi apa perlu?" "Apa kamu tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu sayang, ini semua dilakukan papih aku hanya untuk keselamatanmu dan keluargamu."
"Sudah ya aku mau meneruskan fitness."
"Kamu bersenang-senanglah bersama ibu. I Love You!" Muaahh....
tuttt telepon ditutup...
Sarah dan ibu terdiam seribu bahasa sambil mengamati pengawal di belakang mereka.
"Bu, bagaimana ini?" "kita dikawal, serasa artis atau pejabat saja ini bu, aku tidak nyaman."
"Ya sudah biarlah sayang, ini sebagai tanda cinta dari calon mertuamu, terimalah."
"Biarkan saja pengawal itu melakukan tugasnya." "Apa kita bisa menyuruh dia membawakan barang-barang belanjaan kita ini?" hahahaha ibu dan sarah tergelak.
Selanjutnya Ibu dan Anak itu beralih keluar masuk toko pakaian, make-up, sepatu, tas, dan skin care ternama yang biasa dipakai Sarah.
Tak lupa Sarah membelikan seperangkat pakaian untuk Gio. Kemeja berwarna biru muda lengan panjang dan setelan jas berwarna biru navy warna favorit Gio.
Sesuai adat mereka, apabila calon mempelai pria memberikan seserahan berisi semua keperluan calon mempelai wanita dari ujung kaki hingga ujung kepala, maka calon mempelai wanita memberikan seperangkat pakaian untuk calon mempelai pria sebagai balasan kebaikan.
__ADS_1
Haus belanja Sarah terpuaskan hari itu. Hanya ibunya yang terlihat sedikit kelelahan.