Di Mana Kau, Cinta

Di Mana Kau, Cinta
Liburan penuh air mata


__ADS_3

Sejak hari Gio mengantarnya pulang, Sarah resmi dengan sebutan pacar walaupun Sarah pernah bilang "pikir-pikir dulu" tapi Gio memperlakukannya sangat spesial.


Ah memang sejak SMP Sarah tak pernah lama menyandang status jomblo, paling lama 3 bulan itu pun bukan karena tidak ada yang menawarkan diri mengajak Sarah jadian, namun beberapa lelaki sering ia tolak karena tidak sesuai kriterianya.


Sarah selalu jatuh cinta pada lelaki yang 3-4 tahun lebih tua darinya. Seperti saat ini, Sarah jatuh di pelukan Gio anak kuliahan Perhotelan ternama di Bandung yang usianya 3 tahun di atasnya.


Kasih sayang Gio semakin hari semakin membuat Sarah nyaman dan bahagia. Hampir setiap hari kecuali ada jam kuliah, dengan setia Gio mengantar jemput Sarah sekolah layaknya supir pribadi. Keluarga mulai khawatir melihat kedekatan mereka berdua dan sering memperingatkan Sarah tentang itu.


Pagi itu Jam 6.35 Gio sudah parkir di depan rumah Sarah. Sarah terlambat tumben biasanya 6.30 dia sudah masuk ke mobil. Gio berniat keluar mobil mengetuk pintu rumahnya saat didengar ada kaki bergegas setengah berlari ke arahnya.


"Maaf aku telat sahutnya."


"Iya kenapa tumben sayang?"


"Nanti aku ceritain di mobil."


Mobil melaju dan Sarah hanya terdiam.


"Ada apa sayang? Kenapa wajahmu sedih tak ceria seperti biasanya?"


"Aku sedih... sedih sekali karena kakek sakit."


Sepertinya sakit parah karena kakek jadi tak banyak bicara hanya terdiam menatapnya sambil meneteskan air mata bila Sarah menjenguknya.


Rumah Sarah dan Kakek sangat dekat. Rumah kakek terletak di belakang rumah Sarah, hanya terhalang 1 bangunan rumah saudaranya.


"Semalam aku menjenguk kakek, kakek sakit tapi tidak mau dibawa ke RS." Seketika air mata berjatuhan di pipi Sarah yang mulus.


"Tenang sayang, kakekmu akan baik-baik saja..." Ujar Gio sambil mengusap air mata Sarah dan mencium lembut kepala Sarah saat berhenti di lampu merah.


"Beb, Kakek itu sudah seperti ayah bagiku. Sejak kecil kakek sering memelukku saat aku membutuhkan ketenangan, kakek sering bermain denganku. Kakek selalu membuatku tertawa di kala aku sedih dan kakek setia menjaga dan melindungiku saat ada bocah-bocah nakal menggangguku."

__ADS_1


"Aku tidak akan sanggup kehilangan kakek, beb..." Tangis Sarah meledak.


"Sssstttt tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja..." kata Gio sambil mengelus tangan Sarah.


*****


Liburan akhir tahun tiba. Sarah menyambutnya dengan hati tak ceria seperti biasanya. Rencana liburan ke ibu kota yang selalu disusun ibunya kali ini tidak membuatnya senang mengingat kakek yang sangat dicintainya masih terbaring sakit tak berdaya.


"Bu, Sarah tidak ikut ke Jakarta tidak apa-apa ya? Kali ini aja bu, Sarah tidak mau meninggalkan kakek di saat kakek sedang sakit begitu" Pinta Sarah.


Ibunya terlihat kecewa karena telah mempersiapkan liburan ini bersama adiknya di Jakarta. Sarah tahu ia tak bisa membatalkan kepergiannya untuk berlibur karena tidak ingin mengecewakan keinginan ibunya.


"Tidak bisa Sarah, tantemu sudah menyiapkan segalanya disana bahkan ia mengambil cuti 3 hari untuk mengurus liburanmu dan adik-adikmu di rumahnya."


"Besok pagi kamu harus tetap pergi sesuai rencana. Tenang saja, Kakek tidak akan kenapa-kenapa. Semuanya akan baik-baik saja. Kita doakan saja supaya kakek segera sembuh ya sayang." Ibu mengelus kepala Sarah menenangkan.


Tangis Sarah bergenang di pipinya. Sarah mencuci piring sambil menangis sesekali ia mengusap pipinya dan busa dari sabun pencuci piring hijau itu menempel di pipinya. Sarah tak peduli. Sarah melanjutkan mencuci piring karena setelah itu ia masih harus mencuci pakaian.


Kebetulan pelayan di rumah Sarah sedang pulang kampung karena kakaknya menikah. Sebagai anak sulung, Sarahlah yang diberi tugas mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga di saat ibunya bekerja mengajar di sebuah Sekolah Menengah Atas.


*****


Tantenya sudah menginap sejak semalam untuk menjemput ketiga keponakan cantiknya ke rumahnya. Ayo-ayo mandi semuanya lalu sarapan kita harus segera pergi ke Jakarta sebelum jam 8 ya! Pinta tantenya. Dengan terpaksa Sarah melangkahkan kakinya ke kamar mandi lalu keluar membawa peralatan mandinya dan memasukan ke dalam tas yang akan dibawanya liburan.


Setelah semuanya siap berangkat, Sarah memohon untuk pamit menemui kakeknya. Sambil menangis dan mencium punggung tangan nenek dan kakeknya.


"Sarah pamit ya Kek, Nek, Sarah tidak mau pergi di saat kakek sakit seperti ini tapi Sarah tidak sanggup melawan keinginan Ibu."


Kakek hanya menatapnya sedih dan meneteskan air matanya. Dipeluknya cucu kesayangannya itu lama sekali tidak seperti biasanya seakan-akan itu adalah pelukan terakhirnya untuk Sarah.


Diusapnya rambut Sarah lembut dan berbisik "Jaga diri baik-baik ya nak di saat kakek tidak bisa menjagamu."

__ADS_1


Suara itu membuat tangisan Sarah semakin deras. "Sarah akan segera pulang dan kita akan tertawa bersama lagi. Betul kan Kek?"


Kakek hanya terdiam menatapnya.


"Pergilah Cu, mereka menunggumu." Dengan desakan dari sang nenek, Sarah pun pergi melangkahkan kaki keluar rumah dengan lemas.


Siang itu mereka sudah tiba di rumah tante Liana yang besar dengan setiap ruangannya dipasang AC sehingga panasnya ibu kota tak terasa saat di dalam rumah.


"Ayo solat dzuhur duluan tante akan menyiapkan makan siang."


Tante Liana yang tak pandai memasak itu memesan makanan dari luar atau paling tidak hanya menggoreng sosis dan kentang seperti tahun sebelumnya. Kali ini, ia memilih delivery sekotak pizza daging besar dan sekotak pizza keju besar sebagai makan siang.


Om dan Tante Liana selalu memanjakan ketiga keponakan perempuannya itu saat berlibur karena mereka hanya memiliki 2 anak laki-laki.


Malamnya, setelah mandi dan solat, Sarah memilih menyendiri di kamarnya di lantai 2. Sarah melewatkan makan malam karena tiba-tiba kehilangan selera makannya. Semakin malam, Sarah semakin ingin tidur tapi pikiran Sarah terus saja terbang ke Kakeknya di Bandung. Ya Tuhan, ada apa ini? kenapa Sarah ingat kakek terus.


Sarah tak bisa tidur saat dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 12 lewat 10. Sarah sangat ingin meminjam telepon tantenya untuk menelepon ke Bandung mencari kabar tentang kakeknya tapi dilihatnya telepon rumah dikunci tidak bisa melakukan panggilan jarak jauh...


huhhh... Sarah ke dapur membuka kulkas dan meminum air mineral dingin berharap dapat menyejukkan pikirannya dan segera tidur.


Sarah akhirnya tertidur sebentar dan terbangun saat mendengar suara telepon rumah berdering. "Kapan meninggalnya"?


Terdengar suara tante Liana panik di telepon, setengah loncat Sarah turun dari kasur dan berlari ke lantai 1 menemui bibinya. "Tante, siapa yang meninggal tante, siapa?"


Sarah panik karena takut akan mendengar kabar bahwa kakeknya lah yang meninggal. Tante berkata pelan setelah menutup telepon "Kakek bisiknya."


Seketika tangis Sarah meletup dan ia memaksa tantenya untuk mengantarnya segera pulang ke Bandung.


"Tak bisa Sarah, tenaga tante belum pulih setelah menyetir kemarin tapi ayahmu sudah mengirim sepupunya untuk menjemputmu kemari."


"Tunggu saja beberapa jam lagi akan sampai, bersiap-siaplah."

__ADS_1


Oh Tuhanku, hal yang paling kutakutkan akhirnya terjadi. Laki-laki tua yang sangat dicintainya telah pergi tanpa didampinginya. Padahal kakek selalu ada untuk Sarah tapi kenapa kakek harus pergi saat Sarah tak di samping kakek? batin Sarah


Kakek, Sarah ingin ketemu kakek... Sarah ingin meluk kakek... Sarah sadar ternyata kemarin itu adalah pelukan terakhir kakek untuknya. Oh Gio, aku membutuhkanmu beb. Aku membutuhkanmu... Gio yang saat itu sedang KKN di salah satu restoran besar di Bandung tak mungkin ditemuinya dan menenangkannya.


__ADS_2