
"Huammm" Lia menguap baru bangun tidur.
"Egghh...... " Merasa ada sesuatu yang menimpa badannya. Apakah Mbak Charlie? Itu tidak mungkin karena ini sangat berat. Lia membuka matanya perlahan dan begitu dirinya terkejut ketika melihat sosok yang menindihnya adalah seorang laki-laki bertubuh kekar dan sedang bertelanjang dada.
"Aaaahhhhhh........... ! " Teriak Lia . Membuat Handi terbangun karena terkejut.
"Ada apa teriak-teriak pagi-pagi gini? " Handi belum sadar kalau badan nya menindih Lia.
"Bapak ini pura-pura gak bersalah ya?! Jelas-jelas Bapak nindih saya! " Bentak Lia.
"Kamu ini cuman gitu aja sewot! " Handi bangkit dan pindah ke sebelah Lia.
"Bapak tahu saya masih perawan tahu! Atau Bapak udah ambil keperawanan saya ya! " Sergah Lia.
"Santai aja kali! Jika memang saya akan bertanggung jawab! " Menarik hidung Lia.
"Iiiss sudik amat jadi istri situ! Udah tua bangka masih doyan yang perawan aja! " Sergah Lia lagi Handi hanya terdiam. Sekarang Handi makin yakin yang ada di tubuh Lia itu adalah Lily Herlambang istrinya dulu.
"Tua-tua gini bisa bikin kamu tepar dalam 10 menit loh? Kamu mau nyoba sama saya ya? " Seringai Handi membuat Lia ketakutan dan langsung kabur ke dalam kamar mandi.
"Aaaa.... Pak Handi Mesummm! " Teriak Lia tapi tidak ada yang bisa mendengar nya selain Handi dan Lia.
Lia menyalahkan kran bathup dengan air hangat lalu menuangkan bebarapa tetes aroma terapi kesukaan nya yang kebetulan ada disana. Di kamar mandi itu sudah ada Handuk dan Pakaian yang akan di gunakan lengkap dengan pakaian dalam nya.
Handi memang sengaja menyiapkan semua ini dia ingin pujaan hati nya bahagia untuk sesaat. Karena ketika mereka bersama lagi hanya ada pertengkaran panjang. Jadi mau dari mana dia bahagia jika tidak saat menikmati mandi nya hari ini.
Handi tahu jika Lily Herlambang ada di tubuh Lia atau Lia itu karena sifatnya yang sangat sama. Dan kalian tahu yang bikin itu semakin sama yaitu ketika Lia memanggil "Om" Pada Handi di hari pertama masuk. Hanya Lily yang berani memanggilnya dengan sebutan Om.
__ADS_1
Handi ingat dulu ketika dia berkunjung ke rumah Lila beberapa bulan sebelum dia menikah Lila tidak berani memanggilnya "Om" Walaupun sudah di ajarkan berkali-kali. Sedangkan Lia langsung gamblang nya memanggilnya dengan sebutan "Om" atau juga julukan tua yang membuat semua orang marah tetapi Handi masih bisa menertawai apa yang di lakukan Lily. Bukan hanya sekali itu saja dia berkunjung setidaknya dia sudah berkunjung sebanyak 15 kali ke rumah itu tetapi tetap saja Lila memanggilnya dengan sebutan Bapak.
Lia masih asyik menyiapkan mandi nya dengan memadukan beragal aroma terapi dab memasukkan beberapa kelopak mawar yang di sediakan sebagai hiasan malah beralih fungsi karena ulah Lia.
Masuk perlahan ke dalam bathup sambil menghirup aroma terapi. Kira-kira 45 menit Lia berendam akhirnya dia selesai juga dan menggantikan pakaian yang sudah basah.
Lia keluar kamar mandi dengan keadaan rambut basa dan menggunakan jeans denim yang membuat Handi menelan salivanya kasar. Tapi apalah daya Lia adalah murid nya dia tidak boleh berbuat macam-macam pada murid nya itu. Ini juga salah nya karena telah memutuskan untuk tidur satu kamar dengan Lia.
"Bapak" Panggil Lia dengan santai tapi tidak kunjung mendapatkan respon.
"............ " Handi melamun.
"HOYY PAK HANDII!! " Lia berteriak di telinga Handi.
"Liaaa...... Apa-apaan kamu teriak di telinga saya?! Emangnya saya budek apa?! " Bentak Handi karena terkejut.
"Maaf ya Pak! " Nyengir.
"Iya, ngapain kamu manggil saya? " Tanya Handi dingin.
"Ehhh Pak Handi! Mbak Charlie mana? " Tanya Lia malu-malu karena Handi sudah mengetahui maksud nya.
"Palingan lagi berenang" Jawab Handi singkat. Sebenarnya Handi tadi melihat keluar jendela dan melihat Charlie di tepi kolam renang lagi sama cowok bule.
"Makasih Pak" Keluar dari kamar.
★★★★
__ADS_1
Lia hanya duduk termenung di tepi kolam memikirkan hidup nya yang rumit ini. Dulu dia bunuh diri karena tidak ingin bertemu dengan Handi sahabat kakaknya di kehidupan nya yang dulu. Tapi sekarang dia harus bertemu lagi dengan Handi dengan tubuh yang jauh berbeda dan usia yang lebih tua 2 tahun dari dia di kehidupan sebelum nya. Bukan keluarganya yang memaksa dia untuk dekat dengan Handi. Bukankah Keluarga nya yang sekarang ini tidak peduli dengan kehidupan nya dan tidak mau tahu dengan urusan nya. Kekuasaan Handi lah yang membuat ia akan terus dekat dengan Handi. Jika Lia melawan Handi yang penuh dengan kekuasaan itu maka bisnisnya bisa hancur seketika. Pada akhirnya juga dia tidak akan bisa jauh dari Handi.
"Lily... Lily..... kamu ini bodoh sekali! Kenapa kamu bunuh diri dulu? Seharusnya kamu bersyukur punya keluarga yang mencintai dan menyayangimu Lily! Sekarang kamu punya keluarga yang membencimu dan tidak peduli dengan mu! Dan kau tetap bertemu dengan Om Handi di kehidupan mu sekarang Lily! Betapa bodoh nya dirimu Egghhh! " Keluh Lily di tepi kolam renang. Tak ada yang mendengar nya selain Handi. Tadi nya Handi ingin mengajak Lia berenang bersama tapi ketika melihat wajah Lily yang murung dia hanya diam saja disana dan merekam kejadian itu takut nya akan terjadi hal yang tidak di inginkan lagi.
Setelah sepuluh menit kira-kira Handi mengejutkan Lia. Lia yang terkejut itu langsung terjungkal ke kolam dan basa kuyup.
"Darrr...! " Teriak Handi sambil memegang pundak Lia yang tengah melamun.
" Pak Handiii....! " Teriak Lia kesal. Lantas teriakan Lia itu mengundang mata para pengunjung untuk tahu lebih lanjut apa yang terjadi. Mereka bubar ketika sorot mata tajam Handi melihat ke arah mereka yang kepo abis.
"Haaahaaa sukurin! Siapa suruh melamun di pinggir kolam! Kalau ke sambet tahi rasa kamu! " Ejek Handi.
Charlie yang melihat kejadian itu langsung bergegas menolong Lia dan meninggal kan teman bule nya. Untung saja Lia ke cebur di tempat yang dangkal.
"Kamu enggak papa Lia? " Tanya Mbak Charlie.
"Enggak Papa dari mana? Lihat nih aku basah tahu! " Lia ngegas.
"Ehh dah bocah udah di tolongin malah marah-marah bukannya terimah kasih! Enakan gue lanjut ngobrol aja tadi sama pacar baru eyke! " Ucap Mbak Charlie agak alay di ujung kalimat dan ngegas di awal.
"Ye maaf Mbak! Khilaf tahu gara-gara pak Handi ! " Ketus Lia.
"Makasar ya Mbak Cantik! " Sambung Lia lagi sambil merangkul Mbak Charlie.
"Iya sama-sama! Mbak juga terimah kasih karena kamu udah mau main sama Mbak dan jadi sahabat Mbak selama ini! " Ucap Mbak Charlie meneteskan air matanya karena terharu.
"Jangan nangis dong! Kita akan tetap jadi sahabat selamanya kok! " Ucap Lia tak kalah terharu mendengar ucapan Mbak Charlie.
__ADS_1
Persahabatan yang luar biasa untuk mereka karena bisa menerima kekurangan sahabat nya dan saling menutupi kekurangan sahabat nya. Bukan sebaliknya saling membongkar aib sesama sahabat dan menikam dari belakang.