
Pov Anisa (Ibu Alika)
Begitu terkejutnya aku ketika Juragan Mahendra berteriak memanggil namaku dan nama suamiku. Apalagi saat dia meminta kami menutup pintu pondok dan menguncinya. Dan hal yang paling membuat aku terkejut adalah saat dia bilang Alika terbawa arus sungai.
Jeedeeeerrr........
Hatiku bagai tersambar petir ketika mendengar nya bagaimana bisa putri kesayangan kami bisa terbawa arus sungai. Setahu ku putri kecil kami sudah pandai berenang sejak kecil. Lagi pula Alika juga sering pergi sungai tapi kenapa baru kali ini dia mendapatkan masalah.
Seketika itu juga aku langsung meninggalkan pucuk ubi (daun singkong muda) yang baru selesai aku petik. Rencana nya tadi pucuk ubi ini akan kami nikmati bersama ikan bakar hasil tangkapan putri kami. Tapi rencana tinggal rencana putri kami mendapatkan masalah saat menangkap ikan. Sebenarnya aku sudah sempat merasa heran karena Alika tidak kunjung kembali setelah satu jal pergi. Biasa setelah satu jam pergi Alika akan kembali dengan enam ekor ikan .
__ADS_1
Beruntung aku belum sempat menyalahkan api jadi aku tidak perlu repot- repot menyiram nya dengan air. Karena memang kami harus menggunakan timba untuk mendapatkan air dari sumur karena di sini tidak ada listrik. Lagi pula jika listrik sudah masuk ke daerah pertanian ini , sayang rasanya jika kami memasang listrik di pondok yang kami bangun di tanah orang ini.
Sebenarnya saat kami pertama kali bertemu dengan juragan Mahendra satu tahun yang lalu. Juragan Mahendra menawarkan untuk menyewakan sebuah rumah untuk kami selama beberapa tahun. Dan membelikan kami sebuah kendaraan roda dua untuk kami gunakan. Namun kami menolak nya karena merasa tidak enak. Sudah di beri garapan yang luas ini saja kami merasa sangat beruntung. Karena orang yang tidak kami kenal sama sekali mau membantu kami. Sedangkan saudara kami saja tidak ada yang peduli dengan kenyataan pahit yang menimpa keluarga kecilku ini. Padahal dahulu kami selalu siap sedia membantu saudara kami yang kesusahan. Namun sekarang saat kami susah mereka pura-pura tidak mengenal kami sama sekali.
Sambil berlari ke arah mobil yang jaraknya kira-kira 200 meter dari pondok. Ku ingat lagi kejadian satu tahun yang lalu. Seorang pria muda, tinggi, dan berwibawa mengenakan kemeja putih dan celana dasar hitam menghampiri gubuk satu ruangan kami, yang kami bangun di tengah kebun ilalang dekat sungai. Pria itu memperkenalkan dirinya kepada kami dan menawarkan sebuah lahan seluas 4 hektare untuk kami garap. Awalnya kami pikir pria itu hanya main-main saja atau ia hanyalah orang suruhan iparku Michael untuk menghina kami. Dugaan kami salah besar pria tersebut memang benar-benar ingin menolong kami dengan alasan yang tidak masuk akal bagi kami katanya putri kami Alika mempunyai banyak jasa dalam hidup nya . Dan akhirnya kami sampai di titik ini titik di mana perekonomian keluarga kecil kami mulai bangkit dan membaik.
Tampak raut wajah juragan Mahendra sangat marah kepada seseorang. Semoga saja orang itu bukan aku atau suamiku. Aku akui dalam kejadian mengenaskan yang menimpa putri kami ini aku juga turut bersalah. Karena aku telah membiarkan putri kami satu-satunya pergi ke sungai sendirian. Seharusnya aku menemani nya karena bencana/masalah bisa datang kapan saja dan di mana saja.
Suamiku duduk di kursi depan sebelah kursi supir yang di tempati oleh Juragan Mahendra tentu saja. Dan aku duduk di kursi belakang tempat putriku berada. Begitu terkejutnya aku ketika melihat keadaan putri kami yang terbaring mengenaskan di kursi mobil mewah ini. Tubuhnya basah kuyup , kulit nya terlihat pucat, terdapat beberapa luka lebam dan memar di tubuhnya. Dan tidak kening dan sudut bibir nya berdarah. Sudah pasti ada seseorang yang berusaha mencelakai putri kami entah apa salahnya sehingga orang tersebut tega mencelakai putri kami.
__ADS_1
Air mataku tumpah begitu saja saat aku menutup pintu mobil dan mobil mulai berjalan. Baru saja kami berhasil melewati satu cobaan berat dalam hidup kami sekarang ada lagi cobaan berat yang menghampiri kami.
"JANGAN DI SENTUHHH....." Teriak juragan Mahendra ketika melihat aku yang ingin menyentuh pipi putriku dari kaca mobil.
Ku urungkan niatku menyentuh Bali kami karena teriakan juragan Mahendra. Seketika itu juga juragan Mahendra meminta maaf kepada kami karena telah membentak diriku.
"Hufffff.....maafkan...aku , aku hanya terlalu khawatir saja. Ada orang yang berusaha mencelakakan nya tetapi aku datang dan orang itu mendengar suara teriakanku lalu kabur. Kemungkinan besar Alika terdorong saat berusaha menyelamatkan dirinya " Ucap Juragan Mahendra setenang mungkin. Dan kami hanya siam saja karena bingung harus menanggapi apa .
Memaki pelaku yang mencelakai putri kami pun tidak ada gunanya. Pelaku tersebut tidak akan tertangkap hanya dengan makian kami saja. Putri kami juga tidak akan terbangun dan pulih begitu saja ketika mendengar makian kami. Jadi lebih baik kami diam dan berdoa di dalam hati semoga putri kami di beri kesembuhan.
__ADS_1