Di Nikahi Guru Olahraga

Di Nikahi Guru Olahraga
Part 8 : Lima tahun lalu 1


__ADS_3

Flashback On


Pov Aksa


Hari itu seperti biasanya aku selalu berkunjung seminggu sekali ke lahan pertanian yang aku garap kan kepada pasangan suami istri harmonis Ahmad dan Anisa untuk bermain dengan putri mereka Alika.


Gadis manis yang hoby mengoceh dan menangkap ikan di sungai. Aku sangat menyukai gadis belia tersebut semenjak aku bertemu dengan nya di sungai satu tahun yang lalu hidup ku berubah,aku lebih mengerti apa itu makna kehidupan, bersyukur dan bersabar . Yah gadis itu adalah gadis yang menarik diriku saat aku akan menjatuhkan diri ke sungai.


Setelah dia menyelamatkan ku hari itu aku langsung membeli beberapa hektare lahan dekat sungai yang akan di jual oleh pemiliknya, karena aku tahu orang tua Alika adalah seorang petani dan pembisnis kecil-kecilan. Lalu aku meminta keduanya untuk menggarap lahan milikku tersebut dan memberi mereka modal. Aku tahu mereka tidak memiliki uang sepeser pun untuk mengelola lahan setelah mereka di tipu oleh adik mereka sendiri. Jadi aku putuskan untuk menolong mereka karena jika bukan putri mereka hari aku hanya tinggal nama 1 tahun yang lalu.


Ocehan Alika benar-benar membuat jiwaku tenang dan damai , tidak ada lagi rasa sakit hati dan dendam yang membara di hatiku. Benar-benar gadis ajaib pikir ku. Yang ada di pikiran ku sekarang adalah bagaimana caranya agar waktu segera cepat berlalu dan aku bisa segera mempersunting diri nya sebagai istriku.


Punya istri pintar memasak seperti Alika pasti sangat menyenangkan. Setiap hari aku akan di suguhi dengan makanan lezat yang tiada habisnya. Dan jangan lupakan tempat curhat yang nyaman. Walaupun gadis manis itu tidak mengerti bisnis sama sekali dia selalu saja nyambung ketika aku ajak ngobrol.

__ADS_1


" Ehh...juragan mahendra datang lagi, apa kabar gan? Cari Alika yah " Sapa pak Ahmad yang melihat aku datang ke lahan seluas 4 hektare ini.


"Iyaaa....pak. Aku sehat-sehat aja kok,nih bukti nya aku bisa jalan kemari. Kalau kabar bapak gimana? Alika nya di mana yah di pondok (tempat tinggal tradisional yang biasa di bangun menggunakan bambu atau papan kayu) atau sedang pergi ? " Tanya ku pada pak Ahmad karena takut nyasar lagi seperti beberapa waktu yang lalu.


Sudah payah-payah aku berjalan ke pondok yang berada di tengah-tengah lahan ini ternyata Alika nya pergi kerja kelompok ke rumah temannya dan menginap karena mereka tidak punya kendaraan. Jika naik ojek sedikit mengkhawatirkan karena tempat sekitaran sini masih sepi dan jarang di huni.


Nama nya juga daerah lahan pertanian pasti sepi. Ramai nya saat ada orang yang bekerja mengelola lahan saja. Jika sedang masa panen atau masa tunggu mereka hanya kebun seminggu sekali saja. Hanya lahan ku ini yang selalu di jaga karena memang Pak Ahmad dan istrinya memutuskan untuk tinggal di sini sementara waktu sampai mereka memiliki rumah sendiri.


" Kabar bapak baik juragan , Alika nya ke sungai tadi gan " Jawab pak Ahmad yang sedang mengikat pohon tomat pada lanjaran (tiang bambu untuk tanaman) yang sudah di siapkan.


Sekarang Alika pasti sudah mendapatkan beberapa ekor ikan. Dan tidak butuh waktu lama lagi ikan bakar buatan Alika akan tersaji jika aku membantunya menyiapkan pembakaran.


Kulangkahkan kakiku ke arah sungai dengan cepat karena sudah tidak sabar menemui Alika dan mengecup pipi nya. Tak butuh waktu lama aku sudah sampai di sungai karena aku sedikit berlari tadi. Ku edarkan pandangan ku seluruh area sungai yang terjangkau oleh penglihatan ku namun Alika tidak terlihat sama sekali.

__ADS_1


Aneh sekali batinku biasanya dari anak tangga di tebingan aku sudah bisa melihat Alika. Namun hari ini aku tidak bisa melihat nya walaupun sudah hampir ke tepi sungai. Ku teriakan namanya siapa tahu dia berpindah tempat memancing atau sengaja bersembunyi dariku. Namun hampir sepuluh menit aku memanggil-manggil namanya , Alika tidak kunjung menyahut panggilan ku juga.


Akhirnya aku putuskan untuk menyusuri hulu sungai. Siapa tahu dia sengaja bersembunyi agak jauh. Agar aku tidak bisa menemukan diri nya dengan mudah. Ku teriakan lagi namanya siapa tahu dia menyerah dan mengaku kalah. Tentu saja aku memodifikasi teriakan ku tadinya aku hanya menyebutkan namanya saja. Tapi kali ini aku bumbui sedikit aku bilang aku membawa beberapa kantong permen untuk dirinya.


" Alikaaa.....di....mana kamu....? Daddy bawa permen untuk mu..... Alikaaa.... Ayo keluar.... Jangan bermain-main dengan Daddy.....jika kamu masih mau bermain-main dengan Daddy.... Daddy buang permennya ke sungai yah......" Teriak ku dengan penuh kebohongan biasanya Alika akan langsung menghampiri diriku ketika aku membawa permen tapi hari ini terasa sangat aneh.


Jddddeeeerrrrrr.............


Jantung ku bak tersambar petir ketika melihat sesosok anak perempuan mengambang terbawa arus sungai. Anak perempuan tersebut tak lain dan tak bukan adalah Alika Candra Maya gadis kecil kesayangan ku.


Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung menceburkan diri ke sungai dan mengangkat tubuh gadis mungil itu. Ku letakkan dia di rerumputan hijau lalu ku lakukan pertolongan pertama seperti yang aku pelajari saat menempuh pendidikan kedokteran dulu . Tapi semuanya sia-sia, seperti dugaan awalku jika Alika harus di bawah ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan yang lebih baik.


Ku gendong tubuhnya sambil setengah berlari menuju mobilku yang terparkir di tepi jalan raya. Jalan yang menanjak dan penuh rerumputan sudah tidak ku hiraukan lagi demi gadis kecilku ini. Yang terpenting bagiku sekarang adalah keselamatannya.

__ADS_1


Hanya butuh waktu sepuluh menit aku sampai ke mobilku. Biasanya jika dari sungai menuju mobilku yang terparkir di tepi jalan aku membutuhkan waktu 30 menit untuk berjalan.


Dalam perjalanan ku menuju mobil. Ku panggil Pak Ahmad dan istrinya untuk segera menutup pintu pondok dan menuju ke jalan raya segera karena putri mereka butuh pertolongan medis segera.


__ADS_2