Di Nikahi Guru Olahraga

Di Nikahi Guru Olahraga
Bunuh diri (Revisi)


__ADS_3

Kini Lily sedang di rias oleh para penata rias salon. Wajahnya masih saja di tekuk. Sepertinya Lily memang tidak terima dengan perjodohan itu.


Seminggu telah berlalu dari hari pernikahan Angga dan Rina. Hari ini Rina dan Lily akan mulai sekolah lagi seperti biasanya. Mereka masih tinggal di rumah keluarga Herlambang. Angga akan membawa pindah istrinya ke apartemen miliknya nanti siang. Begitu juga Handi dia akan membawa Lily pindah ke rumah nya nanti siang.


Rina sangat ceria seperti biasanya kalau Lily jangan di tanya dia masih menekuk wajahnya itu. Handi hanya bisa pasrah dengan keadaan itu.


"Pagi semuanya" Teriak Rina ketika sampai di ruang makan.


"Pagi sayang" Mama Mira.


"Pagi" Yang lainnya.


"Lily mana? " Tanya Handi pada Rina.


"Bukannya kalian tidur sekamar? " Tanya Pak Ivan.


"Iya! Tapi pas saya bangun dia sudah tidak ada! " Jawab Handi.


"Kemana tuh anak? " Pak Ivan mulai khawatir.


Semuanya hanya diam membisu karena tidak tahu keberadaan Lily. Mereka memutuskan akan mencari Lily jika sampai makan pagi selesai Lily belum muncul.


"Rin kenapa leher kamu merah-merah gitu? " Mira yang sadar kalau leher Rina merah.


"Hhhhh" Bingung.


Angga langsung mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan menutupi leher Rina untuk sementara waktu.


"oo tahu deh kalau gini tadi malam kalian ngapain aja! " Pak Ivan.


"ngga kamu jangan lupa pakai pengaman ya! jangan sampai Rina hamil sebelum lulus SMA! " Perintah Mira.


"Iya deh Ma" Angga malu.


"Ma Rina cari Lily dulu ya! " Alasan Rina untuk menutupi malunya.


Sebenarnya dia tidak berniat cari Lily karena akhir-akhir ini Lily sering mendiamkan nya. Tapi bagaimana mana pun Lily adik iparnya. Jadi dia wajib melindungi Lily. Dia juga tahu kalau Lily begitu karena pernikahan nya dengan Handi. Pernikahan itu terjadi juga karena Rina.

__ADS_1


Rina sangat syok melihat Lily yang terkapar di pinggir kolam renang dengan mulut mengeluarkan busa. Di tangan Lily terdapat botol racun bertulis 'Sianida' .


"LILYYYYY! MASS MASSS ANGGA LILY MAS! LILY BUNUH DIRI MASS! CEPATANN SINI MAS! " Teriak Rina Histeris.


"Lily" Semua orang langsung berlari ke asal sumber suara.


" LILYYY " Teriak Handi langsung mengendong Lily ke mobil dan membawanya ke rumah sakit. Hanya butuh waktu 5 menit mereka sampai. Biasanya dari rumah Lily ke rumah sakit itu butuh waktu 30 menitan. Mungkin itu karena Handi yang terlalu ngebut.


Handi sangat menyayangi Lily oleh karena itu Handi selalu berusaha melakukan hal yang terbaik untuk istri tercintanya. Seperti tidak memaksa Lily melayaninya di atas ranjang, dan memberikan fasilitas hidup seperti kartu ATM limited edition.


Setelah 1 bulan koma akhirnya Lily bangun dengan keadaan lemas tak berdaya. Lily hanya bisa melihat warna putih plafon samar-samar.


Kemampuan melihat Lily berkurang untuk sementara waktu. Penglihatan nya akan kembali normal setelah beberapa jam sadar.


Beberapa jam telah berlalu Lily telah sadar sepenuhnya. Kemampuan bicara, mendengar, dan melihat Lily sudah sepenuhnya normal. Yang belum normal adalah kemampuan mengendalikan emosinya.


Lily tampak sangat kesal ketika melihat Handi duduk di dekat brankar tempat dia beristirahat. Apakah tidak ada orang yang lain yang bisa menemaninya? Dari tadi Lily hanya melihat Handi saja di ruangan tersebut.


"Bapak " Lily memanggil Handi dengan nada yang dingin.


"Kenapa sayang? " Lembut Handi kepada istrinya.


"Mas Angga sama Rina yang sedang pergi bulan madu" Jawab Handi setengah-setengah.


"Papa dan Mama? " Tanya Lily lagi dengan sabar.


"Mereka masih di rumah. Kamu kan sadarnya sudah jam 22:00 coba lebih awal satu jam saja. Saat kamu sadar mereka masih disini. Tapi tak apalah, Bapak akan selalu menjaga dirimu sayang! " Mengeluarkan gombalannya di akhir kalimat.


"Bapak! Gak usah gombal deh! Jelek gak sesuai sama image guru killer nya! " Ketus Lily.


"Oh yah udah!" Handi menjawab Lily dengan dingin.


"Bapakkkk?! " Kesal Lily.


"Kenapa lagi? " Kesabaran Handi mulai habis. Bagaimana tidak? istrinya ini sangat menyebalkan dan menjengkelkan.


"Kenapa bapak tidak beri tahu mereka saat aku sadar? Kan jika bapak langsung memberi tahu mereka saat aku bangun, Pasti mereka akan langsung kemari untuk melihat diriku. Bapak tahu aku sangat merindukan mereka? " Ujar Lily panjang lebar tanpa memikirkan perasaan Handi.

__ADS_1


"Kamu tidak merindukanku Lily? " Batin Handi sedih.


"Kamu ini tidak punya hati nurani yah?! Kamu pikir orang tuamu itu bolak-balik kesini tidak lelah apa? mereka juga butuh istirahat Lily Herlambang! " Sedikit membentak Lily yang kelewatan. Dasar manusia bumi ingin menang sendiri.


*****


Pukul 08:00 pagi.


Ivan dan Mira baru datang ke rumah sakit karena bangun kesiangan. Dan Handi baru mengirim pesan singkat kepada mereka pukul 07:00 pagi.


"Hai, anak Mama! Akhirnya kamu bagun juga yah nak!" Mira berlari dari luar ruangan penuh semangat dan langsung memeluk Putrinya yang sudah sadar selama ± 10 jam.


"Mama..... " Lily membalas pelukan Mama nya.


"Akhirnya kamu bangun juga sayang " Ucap Mira dengan sangat bahagia.


"Iya! Aku rindu Mama! " Lily mulai menyesali perbuatan buruknya.


Seharusnya Lily tidak pernah melakukan percobaan bunuh diri walaupun dia tidak bisa menerima pernikahan dirinya dengan Handi. Seharusnya Lily memikirkan perasaan kedua orang tuanya juga.


"Sama papa gak rindu? " Pak Ivan baru datang karena harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


"Rindu dong Pa " Lily tersenyum bahagia melihat Papa dan Mama nya menyambut dirinya dengan penuh kebahagiaan. Hebatnya lagi kedua orang tuanya dapat memaafkan kesalahan dirinya yang sangat besar.


"Kalau gitu, sini peluk Papa dulu dong?! " Pak Ivan memeluk putrinya hangat.


"Papa..... Mama... maafkan Lily yah?! Lily sudah berbuat salah kepada kalian selama ini. Seharusnya Lily tidak pernah melakukan perbuatan buruk ini hikss..... hiksss...! " Tangis Lily pecah saat meminta maaf kepada kedua orang tuanya yang sedang memeluk dirinya hangat.


"Iya sayang kami maafkan kamu kok! Kami sudah memaafkan dirimu jauh dari sebelum kamu meminta maaf sayang. Ini juga salah kami yang terlalu memaksakan kamu menikah dengan Handi " Ucap Mira penuh kesedihan ketika mengingat semua hal yang sudah terjadi dalam kehidupan dirinya dan keluarganya.


"Iya nak! Kami sudah memaafkan dirimu sayang " Pak Ivan membenarkan ucapan istrinya.


"Dimana suamimu sayang? " Tanya Mira kepada Putrinya untuk mengetahui apakah Lily masih membenci Handi atau tidak?


"Sudah berangkat kerja dari tadi pagi " Jawab Lily ketus.


"Isshh... Gak boleh gitu yah anak Mama! Harus sopan sama suami walaupun kamu tidak menyukai suamimu! " Nasehat Mira kepada Lily.

__ADS_1


****


__ADS_2