
Lima hari telah berlalu Lily sudah bisa rawat jalan di rumah. Dengan penuh pertimbangan Handi memutuskan untuk membawa Lily pulang.
Handi membereskan semua barang-barang milik Lily sendiri dan memasukannya ke bagasi mobil terlebih dahulu. Setelah selesai membereskan barang-barang Lily, Handi baru membawa Lily keluar dari ruangan rawat inap nya.
Lily menekuk wajahnya karena Mama dan Papa nya tidak ada saat dirinya mau pulang ke rumah. Malah mereka berdua menjemput Angga dan Rina yang baru pulang dari Bali.
"Sudahlah jangan cemberut seperti itu Ly ! Kan ada saya yang bisa jagain kamu siang dan malam " Ucap Handi santai sambil terus mendorong kursi roda Lily ke parkiran.
"Bapak ini menyebalkan " Ketus Lily yang sedang kesal dan iri kepada Rina.
"Kamu iri sama Rina yah? " Tanya Handi tiba-tiba saat mereka hampir sampai.
"Tidak tuh " Lily berbohong kepada suaminya.
"Kalau tidak kenapa kamu tampak sangat kesal ketika mendengar Papa dan Mama lebih memilih menjemput mereka dari pada mengantarkan kamu pulang? " Tanya Handi lagi agar Lily mengakuinya.
Menurut Handi jika rasa iri terus di pendam di dalam hati, tanpa menceritakan nya kepada orang yang tepat, maka rasa iri itu akan menjadi rasa benci. Makanya Handi mendesak Lily menceritakan seberapa besar rasa iri yang dimiliki Lily terhadap Rina.
"Iya iya! Aku ngaku tahu! Masa Papa dan Mama lebih memilih jemput Rina di bandingin anaknya sendiri! " Ucap Lily ketus.
"Papa dan Mama kan gak hanya jemput Rina tapi jemput Mas Angga kamu! Biar mereka bisa cepat-cepat ketemu sama kamu Lily! " Handi Menasehati istrinya.
"Isshhh.... Bapak ini bukannya belain istri sendiri! Malah belain orang lain! " Lily semakin menekuk wajahnya.
"Kamu iri yah sama Mas Angga? Atau jangan-jangan kamu benci sama Mas Angga? " Tanya Handi lagi.
"Yah gak mungkin lah! Aku benci sama Mas aku sendiri! Bapak ini ngadi-ngadi " perasaan iri Lily kepada Rina mulai menyusut perlahan.
"Yah udah ayo kita pulang! Ayah dan Ibu saya sudah menunggu di rumah " Membuka pintu mobilnya. Lalu menggendong Lily dan mendudukan Lily di kursi penumpang.
*****
Lily sangat kagum ketika melewati sebuah pintu gerbang setinggi 5 meter dan bangunan rumah yang sangat megah dan luas. Rumah itu bagaikan istana, halaman rumahnya sangat luas dan di tumbuhi berbagai jenis pohon bunga dan buah-buahan.
Apa ini? rumah ini seperti istana. Apakah mulai hari ini dirinya dan keluarganya akan tinggal di sebuah istana? Apakah Papa dan Mamanya membeli istana ini untuk menyambut dirinya yang baru sadar dari koma? Lily sangat penasaran akan bangunan megah dan luas ini.
__ADS_1
"Wauuu... rumahnya mewah sekalii..." Ucap Lily kagum melihat tempat tinggal barunya.
"Kamu suka? " Tanya Handi sambil memarkirkan mobilnya di garasi mobil yang luas.
"Iya " melihat ke arah luar garasi.
"Seharusnya kamu bisa pindah kesini sejak sebulan yang lalu tapi karena kelakuan mu itu tertunda sudah! " Handi sedikit menjelaskan jika ini adalah rumah milik Handi.
Lily tidak mendengarkan Handi dan malah asyik mengamati taman yang lebar dan luas. Dan Lily langsung buru-buru membuka pintu mobil dan berlari keluar ketika melihat pohon mangga yang sedang berbuah lebat.
"Lily tunggu! Kamu belum benar-benar pulih dari sakitmu " Handi yang panik langsung mengejar istrinya.
****
Skip
Sekarang Lily sudah berada di bawah pohon mangga yang sedang berbuah sangat lebat. Lily menatap buah mangga dengan tatapan penuh harapan.
Sepertinya Lily sangat menginginkan buah mangga tersebut karena memang buah mangga nya sudah pada banyak masak di pohon.
"Lily kamu ini. Jangan lari-lari seperti itu tahu! Keadaan kamu belum pulih sepenuhnya Lily! " Handi memarahi Lily yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
"iya maaf " Lembut.
*Tumben ini anak lembut kalau di ajak ngomong! Biasanya ngegas dan jutek. Pasti ada maunya ini anak! " Batin Handi curiga kepada Lily.
Pasti ini anak mau buah mangga itu. Manfaatin ah " Batin Handi melihat sekilas ke atas pohon mangga*.
"Kamu ngapain disini? Ayo masuk! " Handi mengajak Lily masuk ke dalam rumah.
"Gak! Gak mau! Bapak aku mau buah mangga itu?! " Lily menunjuk buah mangga yang sudah masak di atas pohon.
"Tidak! Tidak boleh kamu masih belum pulih sepenuhnya Lily! " Handi menolak keinginan Lily dengan alasan Lily belum sehat seperti sedia kala.
"Bapak....? Ayolah aku mohon?Aku ingin buah mangga itu! Tampaknya buah mangga itu sangat manis. Bapak ayolah kumohon? Sekali ini saja!? " Lily berusaha membujuk Handi agar mau mengambilkan buah mangga yang ada di atas pohon.
__ADS_1
"Yah baiklah! dengan satu syarat " Handi mengajukan satu syarat kepada Lily.
"Apa syaratnya? " Lily menatap Handi penuh harapan.
"Cium pipi saya "
Tentu saja Lily sangat terkejut mendengar persyaratan yang diajukan oleh Handi. Sekarang Lily sedang berada dalam kebingungan antara mau memenuhi syarat dari Handi dan mendapatkan buah mangga atau tidak. Baiklah Lily akan mencoba menawar syarat yang di berikan oleh Handi.
"Bapak?Bisa tidak syarat nya di ganti saja? " Tanya Lily menawar.
"Tidak! Jika tidak mau yah sudah tidak apa-apa Bapak tidak rugi juga " Ucap Handi santai.
"Bapak ini , Banyak maunya" Lily menyalahkan Handi karena tidak mau mencium Handi suaminya sendiri.
"Yang banyak maunya kamu kok bukan saya " Handi mengelak.
"Baiklah! Aku mau " pasrah Lily karena sangat menginginkan buah mangga yang ada di atas pohon.
"Ayo cium! " Handi menyodorkan pipinya untuk Lily cium.
Cup.....Desa terpaksa Lily mencium pipi Handi sekilas.
"Gitu dong " Handi senang.
"Sebentar yah! Saya panggilin tukang kebun dulu buat ngambilin mangga nya! " Handi mau pergi memanggil tukang kebun.
"Loh kalau bapak panggil tukang kebun? apa gunanya saya cium pipi bapak tadi?! seharusnya tadi saya langsung panggil saja tukang kebun dong? " Protes Lily karena masih mengira jika rumah tersebut + isinya dan pagarnya milik kedua orang tuanya.
"Yah ini mangga kan punya saya! Jadi kamu kalau mau makan ini mangga dan apapun yang ada di rumah ini harus izin sama saya terlebih dahulu Lily! Kamu tahukan cara minta izinnya gimana?! " Smirk.
"Loh bukannya ini rumah punya Mama dan Papa? " Lily tetap melanjutkan protes.
"Ini rumah saya Lily Herlambang! Bukan rumah Papa dan Mama kamu! Kamu kira mereka akan beli rumah lagi untuk menyambut kamu yang baru pulih dari koma?! " Handi mengetahui apa yang di pikirkan oleh istrinya melalui gerak tubuh istrinya.
***
__ADS_1
**