
"bagaimana? apa kamu sudah dapat apa yang saya inginkan?" tanya Diaz kepada Toni.
"sudah bos, ini.. semua yang bos inginkan ada di situ." Toni memberikan map yang berisi informasi yang di inginkan Diaz.
Diaz pun tersenyum tipis lalu mengubah wajahnya kembali datar, "bagus, saya tau kalau kamu tidak akan pernah mengecewakan saya. ok kamu bisa keluar."
"saya permisi bos, kalau bos perlu sesuatu lagi, saya siap melaksanakannya." ucap Toni.
Setelah Toni keluar dari ruangannya, Diaz langsung membuka map yang diberikan Toni padanya tadi. ia tidak sabar ingin mengetahui siapa orang yang telah menyelamatkannya.
"Yana kamila," gumam Diaz setelah membaca semua tulisan yang tertera disitu lalu tersenyum lembut dan jika ada yang melihat itu pasti mereka akan tercengang gak percaya karna Diaz tidak pernah menunjukkan itu pada siapapun. lalu dia menatap foto Yana, dia merasa kalau Yana itu mirip seseorang tapi ia lupa siapa.
"mine." ucap Diaz tegas.
drrrrtttttt..... drrtttttttt
"ada apa?" jawab Diaz ketus.
"buset dah ni anak, orang basa basi dulu lah ini langsung to the point amat." ucap Bryan ketika suara ketus Diaz menyapa telinganya.
"kalau gak ada yang penting, gue tutup!"
"eh eh eh,,, tunggu dulu. main tutup-tutup aja, orang belum selesai ngomong juga." ucap Bryan cepat mencegah Diaz menutup telponnya.
"yaudah ada apa?"
"kita mau ngadain reuni, Lo mau ikut gak?" tanya Bryan.
"gak, gue sibuk."
Bryan memutar bola matanya mendengar alasan Diaz, dia tau kalau sahabatnya itu pasti akan mengatakan itu, "sayang sekali, padahal nanti Nisa bakalan datang loh?" goda Bryan.
Diaz hanya diam tak menanggapi godaan Bryan. Bryan yang tak mendapat tanggapan apapun dari Diaz menghela napas, "jadi benar ni Lo gak ikut?" tanya Bryan serius.
"iya." jawab Diaz singkat.
"baiklah tuan muda, maaf kalau saya sudah menganggu waktu berharga anda." ejek Bryan menutup telponnya.
Diaz mendengus mendengar itu, lalu mengalihkan perhatiannya kepada foto Yana dan kemudian tersenyum lembut.
tok.. tok...tok...
"masuk."
"permisi pak, di luar ada ayah anda." ucap Celine.
Diaz terdiam, ia tidak pernah menyangka kalau sang ayah bakalan datang kesini, kemudian Diaz menghembuskan napasnya yang terasa sesak, "ada perlu apa dia datang kemari" ucap Diaz dingin.
"katanya beliau ingin bertemu dengan anda pak," ucap Celine.
"bilang padanya kalau saya sedang sibuk dan tidak bisa menerima tamu, lain kali aja kalau ingin .."
"ingin apa? ingin bertemu? tapi yang ku lihat kamu tidak sesibuk itu sampai menolak untuk bertemu denganku." potong Dimas ketika memasuki ruangan sang anak. Ia sudah memprediksi apa yang akan di katakan sang anak itu makanya ia langsung masuk aja tanpa menunggu sekretaris anaknya datang menghampiri nya yang sedang menunggu di luar.
Diaz hanya mendengus sinis melihat wajah sang ayah, meskipun di sudut hatinya ada setitik rasa rindu namun ia menepisnya.
"kamu bisa tinggalin kami berdua Celine" ucap Dimas tanpa mengalihkan pandangannya dari sang anak.
__ADS_1
"baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Celine berlalu meninggalkan ayah dan anak yang terlihat sangat canggung itu.
"apa kabar?" tanya Dimas setelah sekian lama tak ada yang memulai pembicaraan.
Diaz menyeringai mendengar basa basi sang ayah, "seperti yang anda lihat, kabar saya baik-baik saja."
Dimas menatap sendu sang putra, "bagus lah kalau memang seperti itu."
"berhentilah basa basi, ada keperluan apa anda kemari?" Diaz muak melihat sikap sok peduli ayahnya.
"apakah Daddy tak boleh kemari, ini masih perusahaan Daddy dan kamu tau soal itu," ucap Dimas sarkas.
Diaz mendengus, "oh baik lah anda boleh datang ke perusahaan ini tapi jangan memasuki ruangan orang sebelum di izinkan yang punya ruangan, saya juga tau kalau ini perusahaan anda tapi anda jangan lupa juga kalau selama ini saya lah yang mengurusnya selama anda melarikan diri." sindir Diaz.
Dimas terdiam.
"kamu gak ingin menanyakan kabar Daddy?" tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.
"bisa to the point aja, ada perlu apa anda menemui saya?"
"apakah seorang ayah tidak boleh menemui putranya sendiri?" tanya Dimas sendu.
"putra? siapa yang anda maksud dengan putra anda? jangan membuat saya ingin tertawa mendengar perkataan anda tuan?"
"nak, apa..."
"sudahlah jangan terlalu banyak omong kosong, anda tau saya sangat muak mendengarnya." ucap Diaz memotong perkataan Dimas kemudian dia berdiri dan berlalu dari hadapan Dimas.
Dimas yang melihat kepergian putranya hanya menunduk sedih, ia tau kalau ia telah melakukan kesalahan, "maafkan Daddy nak. Daddy tau, kalau kesalahan yang Daddy lakuin padamu itu sangat fatal, Daddy hanya ingin menebus semua kesalahan Daddy padamu." perkataan ini yang ingin Dimas sampaikan pada anaknya tapi tak tersampaikan dengan baik.
......................
"maafkan Daddy ya mom, Daddy juga gak tau harus melakukan apalagi untuk menebus kesalahan kita padanya." ucap Adrian mengelus punggung istrinya untuk menenangkan sang istri.
"mommy mau pergi dulu dad, mommy mau ke tempat kerja Yana dan mengajaknya makan siang bersama, bagaimana menurut Daddy?" usul Irene meminta pendapat Adrian.
"bagus mom, ayo kita kesana bersama, biar kita bisa makan siang sama-sama. oh Daddy juga akan nelpon Yusuf dan Yuna siapa tau mereka mau ikut," ucap Adrian menyetujui usul sang istri.
"baiklah ayo kita berangkat sekarang dad, mommy udah gak sabaran, membayangkannya aja udah sangat indah dad." Irene sangat antusias.
"sabar sayang, Daddy nelpon Yusuf dan Yuna dulu."
"kan bisa sambil jalan dad, ayo lah dad mommy udah gak sabar" rengek Irene.
"baiklah sayang, untuk istri tercinta apa yang gak bisa seorang Adrian lakukan." goda Adrian.
Irene yang mendengar itu tersipu malu, walaupun mereka telah lama menikah tetap saja ketika sang suami menggodanya, ia tetap merasa malu. Adrian yang melihat wajah sang istri memerah, tersenyum lembut, "kamu kenapa sayang, kok wajahnya merah, kamu gak lagi sakit kan?" ucap Adrian jahil.
"mas.. udah sih jangan godain aku terus,"
"hahaha... kamu lucu sayang, padahal kita udah lama menikah tapi kamu tetap aja malu setiap aku goda," ujar Adrian tertawa melihat muka sang istri yang bertambah merah.
"udah ah, mending aku pergi kalau meladeni mas ngomong gak bakal selesai dan kita gak bakal jadi buat makan siang bersama" ucap Irene.
"lah kok mas di tinggal sayang, tungguin dong." ucap Adrian mengejar Irene.
Sementara di sekolah TK Sky Internasional School, terlihat seorang pria tampan yang sedang menunggu seseorang. ia tersenyum lembut ketika melihat orang yang di tunggu akhirnya terlihat oleh matanya, kemudian ia menghampiri sang pujaan hatinya. "akhirnya kamu keluar juga."
__ADS_1
Yana dan Diana bingung melihat pria asing menghampiri mereka dan berbicara seolah mereka telah mengenal lama.
"kenapa diam, ayo kita makan siang bersama."
Yana hanya diam sedangkan Diana melihat Yana kemudian melihat pria asing itu, "maaf tuan, anda sedang bicara dengan siapa? saya atau teman saya?" tanya Diana heran.
"dengan Yana kamila."
Yana tersentak mendengar namanya di sebut, kemudian dia menatap pria itu, ia merasa heran kenapa pria itu berbicara seolah mereka telah mengenal lama.
"Yan, kamu kenal sama dia" tanya Diana.
"gak." ucap Yana singkat.
"kalau gitu kita kenalan aja dulu, bagaimana?"
Yana mengangkat alis.
"ternyata benar ya. baiklah nama ku Diaz dan mulai saat ini kamu milikku." klaim Diaz terhadap Yana.
Yana yang mendengar itu berkerut keningnya kemudian ia meninggalkan pria yang menurutnya aneh itu, sedangkan Diana melongo mendengar ucapan Diaz. "ehmm... emang tuan kenal sahabat saya darimana, eh kok gue di tinggalin sih." ucap Diana.
Diaz terus mengikuti Yana membuat Yana merasa jengah, "mau anda apa sih?"
"makan siang bersama."
Yana mendengus, "saya tidak kenal dengan anda dan anda ingin mengajak saya makan siang, anda sedang melawak atau bagaimana?"
"tapi kan kamu udah mengenalku bukankah tadi aku menyebut namaku, dan aku tidak sedang melawak, aku serius ingin mengajak makan siang bersama." ucap Diaz mantap.
Sementara di parkiran Adrian dan Irene melihat sang putri sedang berbicara dengan seorang pria yang mereka tidak tau siapa.
"mas, itu Yana sama siapa ya? apakah itu pacar putri kita? tanya Irene penasaran.
"mana mas tau sayang, tapi dari informasi yang mas terima putri kita sedang tidak menjalani hubungan dengan siapapun." jawab Adrian.
"terus siapa ya mas.. kita kesana yuk mas." Irene mendekati sang putri. "nak, kamu mau makan siang kan? kita makan siang bersama ya, Yusuf dan Yuna juga ikut." ucap Irene ketika di hadapan sang putri.
Yana dan Diaz tersentak kaget, kemudian mereka mengubah ekspresi wajah mereka, Yana menjadi datar sedangkan Diaz tersenyum, "Tante mau makan siang bareng Yana? kalau saya ikut tidak apa-apa kan? tanya Diaz tidak tau malu.
"eh.. boleh kok. tapi kamu siapanya Yana ya?" tanya Irene.
"Yana milik saya Tante."
sedangkan Yana hanya diam melihat mereka.
"maksud kamu Yana pacarmu? iya nak dia pacarmu?" ucap Irene tersenyum lembut.
"tidak."
"iya."
ucapan Yana dan Diaz berbarengan. sedangkan Irene bingung mendengar nya.
"mom, kata Yusuf mereka udah nunggu di tempat janjian kita, kita langsung kesana aja dan kamu boleh ikut." ucap Adrian
"siapa yang bilang kalau aku mau makan siang dengan kalian? aku memiliki agenda lain." ucap Yana dingin.
__ADS_1
"tapi nak, kakak dan saudarimu sudah menunggu kita disana. kasian mereka yang sudah meluangkan waktunya untuk rencana ini." Adrian berusaha membujuk sang putri. sedangkan Yana mendengus mendengarnya.