
"Dad, mommy merasa kalo Yana seperti menjauhi kita, dan mommy juga merasa telah menjadi mommy yang buruk terhadap Yana. mommy bahkan gak tau makanan kesukaannya." suara Irene sendu.
Ya emang dia merasa kalau putrinya itu sangat tertutup dan tidak pernah mengatakan apa yang sedang di alami. Mungkin ini akibat perbuatan mereka dulu tapi dia ingin di berikan satu kesempatan untuk bisa dekat dengan sang putri yang selama ini selalu mereka abaikan.
"Ini semua salah daddy mom, daddy yang meminta mommy untuk fokus kepada kesehatan yuna, daddy juga membuat mommy mengabaikan yana karena daddy merasa kalau yana lebih kuat dibanding yuna yang sering sakit tanpa tau kalau putri kita yang satu lagi juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang kita. maafin daddy ya mom." Adrian merasa sangat menyesal melakukan hal tersebut kepada putrinya sehingga saat ini ia dan istrinya merasa begitu jauh dan merasa seperti ada tembok yang begitu besar yang menghalangi mereka.
"Dad, ini juga kesalahan mommy jadi jangan menyalahkan diri sendiri. harusnya mommy sebagai ibunya lebih mengerti perasaan anaknya tapi mommy malah mengabaikannya. Dad, kita masih memiliki kesempatan untuk menebus semuanya kan? yana gak membenci kita kan?" Irene merasa takut kalau sang anak akan membenci mereka. Dia bahkan tidak pernah melihat ekspresi di wajah sang anak selain ekspresi datar doang.
"kita akan berusaha mom, kita akan menebus semuanya saat ini. daddy yakin putri kita tidak mungkin m membenci orang tuanya." ucap Adrian meyakinkan sang istri.
"tapi bagaimana..."
"hustttt... udah ya mom, gak usah mikir yang macem-macem. kita fokus aja memperbaiki semuanya ya. kalau perlu daddy bakal sewa orang untuk mencari tahu tentang semua hal yang berkaitan putri kita itu." Adrian berusaha menenangkan kekhawatiran sang istri. "ya sudah daddy berangkat dulu ya sayang, kamu di rumah aja dulu tidak usah ke butik, tenang diri kamu dulu.oke sayang." ucap Adrian sembari mengecup kening sang istri..
"iya dad, daddy hati-hati dijalan ya dan jangan lupa buat istirahat dan makan karena daddy kebiasaan kalau udah kerja pasti melupakan semuanya. untung aja gak lupa kalau punya istri dan anak." omel Irene karena kebiasaan buruk suaminya kalau sudah berjumpa dengan pekerjaan pasti lupa istirahat dan makan.
"mommy kalau begitu tambah cantik deh," ucap Adrian menggoda sang istri.
"ya sudah sana nanti mas terlambat ke kantornya." mendorong suaminya untuk segera melangkahkan kakinya karena kalau ia meladeni sang suami pasti gak bakalan selesai.
"akhirnya panggilan itu terdengar lagi, kangen banget mendengar kamu memanggil mas dengan panggilan itu sayang, ya sudah mas berangkat ya sayang.. assalamualaikum cantiknya mas." Adrian mencolek hidung sang istri dan langsung berlari ke arah mobilnya. dia takut istrinya bakal menyemburkan amarahnya karena telah menggoda sang istri yang saat ini sedang sensitif.
Adrian memasuki mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah bergaya klasik modern itu. sedangkan Irene menjawab salam sembari menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang suami yang seperti anak kecil.
__ADS_1
......................
POV Diaz
Namaku Diaz Ananda Wiguna, Putra dari pasangan Dimas Arya Wiguna dan Dewi Arum Wiguna. Aku adalah anak tunggal. Ketika aku berusia 5 tahun, ibuku meninggal dunia dan saat itu juga aku merasa kalau aku anak yatim-piatu karena sesaat ibuku meninggal, ayahku tidak pernah lagi memperhatikan dan memperdulikan aku. Sejak saat itu, aku di asuh oleh seorang art yang bernama mbok niem hingga kini aku tumbuh menjadi seseorang yang dingin kepada siapapun dan ketika aku remaja, aku memilih untuk tinggal di apartemen daripada di rumah yang sunyi seperti kuburan.
Saat ini aku menjabat sebagai CEO di perusahaan Wiguna karena ayahku memilih berada diluar negeri mengurus cabang perusahaan.
begitulah sekilas kisah tentangku..
POV author
"tok...tok...tok..." pintu ruangan CEO diketuk oleh seorang gadis.
"masuk..." ucap Diaz tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya
"Oke, kamu sudah menyiapkan berkas presentasinya Celine?" tanya Diaz dengan nada dingin.
"Sudah Pak, saya sudah menyiapkan semua berkasnya." ucap Celine.
"Oke kita langsung saja ke ruangan meeting." Diaz langsung berjalan menuju ruang meeting karena dia tidak ingin membuat klien yang akan bekerjasama dengan perusahaannya menunggu terlalu lama dan dia juga termasuk orang yang disiplin jika menyangkut soal waktu.
Celine mengikuti langkah Diaz dengan membawa beberapa berkas yang nantinya akan di presentasikan. Sesampainya di depan ruang meeting mereka bertemu dengan Toni asisten Diaz.
__ADS_1
" silahkan masuk bos, di dalam sudah menunggu pak Johan beserta asisten dan sekretarisnya." Toni membukakan pintu ruangan tersebut.
"maaf membuat anda menunggu pak Johan." ucap Diaz ketika berada di dalam ruangan.
"ah tidak apa-apa pak Diaz, santai saja jangan terlalu kaku. saya melihat seperti kita seumuran." ucap Johan berusaha mencairkan suasana..
"bisa jadi pak, tapi apakah bisa kita mulai meeting kita saat ini. soalnya habis ini saya harus keluar kota." seperti biasa Diaz langsung to the point dan tak suka bertele-tele.
"oh begitu, baiklah kita mulai aja, karena sepertinya pak Diaz sangat sibuk ternyata. silahkan di mulai aja." ucap Johan memaklumi kesibukan Diaz karena ia juga terkadang seperti itu.
Meeting pun diambil alih oleh Celine, dia mempresentasikan produk yang akan mereka luncurkan. Selang beberapa menit akhirnya meeting telah mencapai kesepakatan bahwa perusahaan Adikarya menyetujui kerjasama ini.
"saya sangat puas dengan presentasi yang dilakukan oleh sekretaris anda pak Diaz, senang berbisnis dengan anda." Johan menjabat tangan Diaz sebagai tanda kerjasama diantara mereka dimulai
"terimakasih banyak kalau anda memang merasa seperti itu dan senang juga berbisnis dengan anda." ucap Diaz.
Johan beserta asisten dan sekretarisnya meninggalkan ruang meeting.
"Lani, kamu sudah mencatat poin penting dari presentasi tadi kan, sepertinya kamu harus banyak belajar dari sekretarisnya Diaz. Dia sangat mengagumkan dan sepertinya dia juga telah menguasai dan memahami materi yang ia presentasikan." ucap Johan sembari tersenyum membayangkan bagaimana wajah serius Diana tadi ketika presentasi tadi.
"iya pak, saya sudah mencatatnya dan saya juga akan belajar bagaimana cara presentasi yang baik." ucap Lani, sekretaris Johan.
"tumben pak Johan bisa tersenyum seperti itu, biasanya juga wajah datarnya yang selalu menghiasi itu wajah. apa jangan-jangan pak Johan menyukai sekretaris pak Diaz ya? karena selama aku bekerja dengan tidak pernah sekalipun aku melihat dia tersenyum begitu tulusnya, yang biasa dia hanya tersenyum sebagai sebuah formalitas saja." batin Fandi, asisten Johan.
__ADS_1
"Fan, kamu kenapa ngeliatin saya sebegitunya. apa ada yang aneh dengan wajah saya atau bagaimana,," ucap Johan yang merasa risih diliat begitu intens oleh sang asisten.
"eh, gak ada pak. maafkan saya yang sudah membuat bapak tidak nyaman." ucap Fandi.