Diam-diam Akad

Diam-diam Akad
episode 10


__ADS_3

Akhirnya disini lah mereka di restoran milik salah satu sahabat Diaz, Bryan khiel. Yana melihat ke arah tangannya yang di genggam oleh Diaz. Dia heran kenapa ada orang yang SKSD dengannya, padahal ia tak mengenal pria itu.


"mommy senang akhirnya kita pada ngumpul semua, makasih ya udah meluangkan waktu kalian buat terlaksana rencana mommy ini." ucap Irene tersenyum bahagia.


Yusuf mengangguk kepalanya sembari tersenyum lembut.


sedang Yuna tersenyum melihat sang mommy yang bahagia, "selama itu bisa membuat mommy bahagia, Yuna bakalan ngusahainnya kok, tapi dia siapa ya mom?" Yuna heran melihat ada orang lain yang ikut dengan rencana makan siang keluarganya.


"dia pacar saudarimu nak." ucap Irene.


Yusuf tersedak mendengar ucapan ibunya dan Yuna melongo seakan tak percaya kalau saudarinya itu mau memiliki hubungan dengan seseorang. yang ia tau kalau saudarinya tidak mudah menerima orang untuk berada di sisinya.


"Yana adalah milik saya, oh maafkan kelancangan saya yang belum memperkenalkan diri dengan benar. baik lah nama saya Diaz Ananda Wiguna. senang bertemu dengan mertua dan kakak ipar." ucap Diaz dengan penuh percaya diri.


Yana mendengus dan menatap malas Diaz yang menurutnya sudah tidak waras, sedangkan yang lainnya tercengang melihat kelakuan pria aneh itu yang bahkan sudah menganggap kalau dia adalah menantu di keluarga mereka.


"tunggu, tadi nama mu siapa?" tanya Adrian, ia merasa kalau nama pria itu familiar baginya.


"Diaz Ananda Wiguna dad." jawab Diaz


"Wiguna? apa kamu putra Dimas Arya Wiguna?" akhirnya Adrian tau kenapa nama pria itu terasa familiar karna sahabat nya juga memiliki nama belakang seperti pria tersebut.


"wah apa benar kamu putra Dimas dan Tiara nak?" tanya Irene senang karena bisa bertemu dengan anak dari sahabatnya yang telah tiada, yah Irene adalah sahabat dari Mutiara Baskoro yang merupakan ibunda Diaz. kemudian Irene memeluk putra sahabatnya seakan ingin menyalurkan kasih sayang seorang ibu karena ia tau kalau Diaz pasti kekurangan kasih sayang itu.


Diaz yang mendengar nama ayahnya di sebut mendadak merubah ekspresi nya menjadi dingin dan datar, Yusuf dan Yuna yang melihat itu heran, "bagaimana seseorang bisa merubah ekspresi dan auranya sekejap mata begitu." batin Yusuf dan Yuna bersama.


"kenapa diam nak? bukankah tadi begitu percaya diri menyebutkan nama lengkapmu." Adrian jadi tau, apa yang di alami sahabatnya hampir sama dengan apa yang ia dan keluarganya alami. Kemudian ia tersenyum sendu melihat Yana dan Diaz, "kalian tidak bersalah nak, karena keegoisan kami lah kalian akhirnya menjadi seperti ini." batin Adrian.


"kenapa anda bisa mengenal nya?" tanya Diaz dingin.


Adrian dan Irene saling pandang.


"kami adalah sahabat orang tua nak, Adrian sahabat Daddy mu dan aku sahabat mommy mu." jawab Irene lembut.


Diaz hanya mengangguk kepala mendengar jawaban Irene.


"mom, bisakah kita makan terlebih dahulu. nanti aja kita bahas yang lain, bukannya rencana kita berkumpul untuk makan siang bersama." Yusuf berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"eh maaf.. iya kamu benar nak, maafkan mommy dan Daddy yang membuat suasananya jadi tak enak." ucap Irene merasa tak enak.


Yana yang sedari tadi diam tiba-tiba berdiri dan pergi karena ia merasa terlalu banyak basa basi yang basi menurutnya. Diaz yang melihat Yana pergi berusaha menyusul setelah berpamitan dengan keluarga Yana. sedangkan Adrian dan yang lain hanya bisa menatap sendu.


"*Yana, seperti sangat membenciku, aku merasa ibu yang tak berguna." batin Irene.


"kamu sangat membenci kami nak, harus seperti apalagi agar kamu mau berbaur dengan keluarga kita." batin Adrian*.


drttttttt....drrttt...


"ada apa Din?" jawab Yuna begitu mengangkat telponnya, "baiklah aku akan kesana sekarang." ucap Yuna menutup telponnya.


"kenapa nak? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Irene khawatir.


Yuna tersenyum melihat kekhawatiran ibunya, "gak ada apa-apa mom, cuman Yuna di suruh segera kesana."


"kamu serius gak ada masalah kan dek. kalau ada jangan sungkan ngomong sama kakak. kakak pasti akan bantu." ucap Yusuf.


"iya kak.. tenang saja, gak terjadi apapun kok."


"kalau gitu, Yusuf juga harus kembali ya mom dad. soalnya habis ini Yusuf ada operasi." pamit Yusuf.


sedangkan di sisi lain Diaz masih mengikuti Yana, meskipun dari tadi Yana hanya acuh dengan keberadaan Diaz.


"baby... jalannya jangan cepat-cepat bisa kan? emangnya kita mau ngejar apa sih?" ucap Diaz.


"baby.. kita mau kemana sih?"


"baby.. kita..."


"Lo bisa diam gak, dari tadi berisik banget. kayak cewek aja mulutnya." potong Yana ketus.


bukannya marah, Diaz malah senang karna ia telah berhasil menarik atensi Yana padanya, "akhirnya kamu ngomong juga sama aku dan kamu belum jawab pertanyaan ku loh baby."


"ke neraka, Lo mau ikut?" ucap Yana ngegas.


"mau.. mau.. kemana pun baby pergi aku pasti ikut." ucap Diaz antusias.

__ADS_1


Yana geleng kepala, "sakit kayaknya Lo."


Diaz yang dikatain begitu tidak marah melainkan senyum-senyum sendiri.


......................


"akhirnya kita berada di kota yang sama, setelah sekian lama kita berpisah. baik dulu dan sekarang, kamu tetap gak bakal bisa buat ku gapai ya. tapi melihatmu bahagia walaupun dari jauh, itu sudah membuatku bahagia." batin seorang pria sambil menatap sebuah foto.


"kak..."


"eh... astaghfirullah Ais, kamu bikin kaget aja." ucap pria itu sembari menyembunyikan foto yang ada ditangan nya.


Aisyah cengar-cengir melihat kakaknya kaget, "yah.... lagian kakak ngapain melamun, berarti bukan salah Ais dong. Ais kan tadi cuma manggil kakak. emang apa yang sedang kakak pikirkan?"


"anak kecil gak boleh kepo urusan orang dewasa."


"Ais bukan anak kecil lagi tau. lagian mana ada anak kecil yang sudah kuliah bahkan mau wisuda juga." ucap Aisyah cemberut.


Zain tersenyum melihat tingkah sang adik, "yaudah kamu ada apa manggil kakak?"


"dihh.... kakak mengalihkan pembicaraan. kakak di tungguin di meja makan juga gak datang-datang, eh gak taunya malah melamun disini." omel Aisyah.


"baiklah ayo kita kesana."


"loh umi kok ada di sini?" tanya Zain bingung ketika melihat ibunya ada di depan pintu kamarnya.


Umi Hamidah tersenyum, "umi dengar suara Ais yang sedang ngomel, makanya umi nyusul kesini. umi pikir kalian lagi bertengkar. ini lagi anak perempuan umi cerewet banget,"


Aisyah yang dikatain cerewet langsung cemberut, lalu menghentakkan kakinya dan pergi. Umi Hamidah dan Zain yang melihat itu geleng-geleng kepala.


"umi tadi dengar kalau kamu melamun nak, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya umi Hamidah lembut.


"tidak ada umi, Zain tidak memikirkan apapun. tadi Zain hanya mengingat kehidupan Zain waktu di Kairo aja." ucap Zain.


"benar hanya itu?"


"iya umi benar.. Zain tidak pernah berbohong sama umi." ucap Zain tersenyum.

__ADS_1


"baiklah kalau begitu."


"maafin Zain umi, ini kali pertama Zain berbohong pada umi. tapi Zain gak bisa jujur sama umi. maafin Zain ya?" batin Zain.


__ADS_2