
Mbok niem menyuapi Diaz, sembari memikirkan jawaban apa yang akan diberikan untuk pertanyaan tuan mudanya. Mbok niem merasa kalo ia gak mungkin nutupin kejadian yang sebenarnya, karena mbok niem tau cepat atau lambat, tuan mudanya pasti bakal tau juga.
"udah mbok, Diaz udah kenyang. dan sekarang mbok harus menjawab pertanyaan Diaz." tegas Diaz.
meskipun dia masih berusia 5 tahun, tapi dia memiliki kemiripan yang sama dengan ayahnya. Diaz sebenarnya tau apa yang saat ini sedang terjadi tapi ia berusaha untuk menolaknya, makanya untuk dia bertanya dan berharap bahwa apa yang saat ini sedang dia pikirkan berbeda dengan jawaban yang akan mbok niem berikan.
Mbok niem menghembuskan nafasnya dan mengusap mukanya dikarenakan dia bingung mau menjawab apa. "mbok anterin piringnya dulu ya den?" mbok niem berusaha mengulur waktu berharap tuan mudanya bakalan lupa dengan pertanyaan yang diajukan.
"nanti saja mbok, sekarang tugasnya mbok menjawab pertanyaan Diaz. Bukannya mbok tadi udah janji bakal menjawab ya, jadi jangan mengalihkan pembicaraan." ucap Diaz dengan nada penekanan.
"bagaimana bisa anak berusia 5 tahun, bisa bersikap seperti orang dewasa, kenapa den Diaz tidak bertindak seperti anak seusianya saja." batin mbok niem.
"mbok, mbok gak lupakan? kok diam. bukannya menjawab." ujar Diaz yang melihat mboknya itu hanya diam saja dan tangannya melambai di depan mbok niem.
"eh, apa tadi den, aden ngomong sesuatu" ujar mbok niem sadar dari lamunannya.
"hah, sudahlah mbok. kelamaan, Diaz udah gak mau dengar lagi. kalo mbok mau nganterin piring yaudah sana." ucap Diaz ketus.
flashback off
"Mbok, mbok..." Titi menggoncang badan mbok niem yang sepertinya sedang melamun, entah apa yang dilamunkan wanita paruh baya itu sampai-sampai dari tadi ketika ia memanggil tidak di respon.
__ADS_1
"eh astaghfirullah titi, mbok terkejut loh kamu goncang-goncang badan mbok," ucap mbok niem tersentak dan merasa kesal.
" ya maaf mbok, habis dari tadi titi panggil-panggil gak ada respon sih makanya titi goncang aja badan mbok, takutnya nanti mbok malah kesurupan kan titi juga yang repot. hehehe maafin titi ya mbok." curhat titi sambil cengengesan.
"hah, sudahlah lagian mbok juga yang salah karena melamun dan jangan di ulangi lagi ya titi, mbok kaget banget tau." ucap mbok niem.
"iya mbok beres, tapi mbok ngelamunin apa sih sampai titi panggil gak ada respon gitu." titi yang memiliki rasa penasaran yang tinggi pun merasa kepo dengan apa yang dilamunkan oleh mbok niem.
" mbok tadi lagi ngelamunin tuan muda ti, waktu pertama kali nyonya meninggal dunia. tuan muda saat itu bertanya sama mbok, tapi mbok gak tau mau menjawab apa jadi mbok mencoba mengulur-ulur waktu berharap tuan muda lupa sama pertanyaannya, tapi lama-lama tuan muda seperti nya kesal sama mbok, akhirnya dia membiarkan mbok pergi tanpa menjawab pertanyaannya. kamu tau ti, saat itu mbok melihat kalo tuan muda sudah seperti orang dewasa yang mengerti apa yang terjadi tapi dia berusaha untuk menolak kenyataan yang ada. mbok jadi kasihan sama tuan muda, yang dituntut dewasa sebelum waktunya." curhat mbok niem sambil meneteskan air mata..
"hiks.. hiks... mbok jangan bikin titi sedih dong." tangis Titi. Titi memang orang yang mudah menangis mendengar cerita yang menyentuh hati bahkan teman sesama art dirumah itu sering menyebut kalo ia sangat cengeng.
"ok cut... bagus, sekarang kita istirahat sejenak ya." teriak seorang kepada kru yang sedang melakukan tugasnya.
"hah akhirnya istirahat juga, aku pikir kita gak bakal istirahat. semua ini karena model pendatang baru yang amatiran itu. kita sampai beberapa kali mengulang adegannya." omel seorang gadis karena kesal dari tadi panas-panasan mengulang-ulang adegan yang menurutnya begitu mudah.
"sabar Yun, mending kita istirahat aja yuk. biarin aja model itu pasti nanti juga bakal di panggil oleh pak Galen. ngapain kamu capek-capek ngomel begini." nasihat Dinda, sahabat sekaligus manajernya.
"lagian kamu juga ngapain ngambil job iklan tanpa tau siapa lawan main ku, nambah pr lagi kan jadinya. harusnya sebelum kamu tanda tangan kontrak, kamu harus tau dengan siapa aku harus beradu akting." ucap Yuna yang masih kesal karena baru kali ini ia beradu akting disebuah iklan produk kecantikan dengan artis pendatang baru, dan artis tersebut membuat pekerjaannya menjadi lama karena ada beberapa adegan yang harus diulangi.
"iya, aku tau aku salah tapi ini juga kesempatan buatmu karena bisa melebarkan karirmu menjadi artis dan produk ini bisa menjadi salah satu tangga menuju kesuksesan mu karena produk ini disponsori perusahaan besar." ucap Dinda menjelaskan maksudnya mengambil job tersebut.
__ADS_1
"terserahlah, aku gak peduli." Yuna berjalan meninggalkan Diana.
Diana menghembuskan nafas melihat kelakuan sahabatnya itu, karena ia orang yang paling tau seberapa egois dan bossynya Yuna, tetapi tetap saja ia tidak ingin meninggalkan Yuna seorang diri di saat yang lain pada gak tahan dan pergi ninggalin Yuna, saat mereka tau bagaimana sifat dan kelakuan sahabatnya itu. Dia dan Yuna sudah bersahabat dari mereka masih sekolah di sekolah menengah atas. Dia juga sangat menyayangi Yuna dan dia adalah orang yang paling mengkhawatirkan kesehatan Yuna.
"Mana Yuna diana, kok tumben kamu sendirian." ucap pak Galen sutradara mereka.
"eh pak su, Yuna lagi di ruangan dan keliatannya di sedang tidak enak badan." Dinda menggaruk kepala karena ia merasa segan diajak bicara oleh salah satu sutradara kondang kebanggaan tanah air.
"pak su? siapa? saya maksud kamu?" ucap pak Galen menunjuk dirinya.
"hehehe, maaf pak. pak su itu kependekan dari pak sutradara." ucap Dinda merasa tidak enak.
"Oalah saya kira apaan tadi, hehehe ternyata kamu lucu juga ya. Oia tadi kamu bilang kalo Yuna tidak enak badan, kok bisa bukannya tadi baik-baik saja ya?" ucap pak Galen heran karena tadi dia melihat kalo artisnya baik-baik saja, lalu kenapa tiba-tiba menjadi tidak enak badan.
"iya pak, Yuna memang memiliki daya tahan tubuh yang berbeda dengan yang lainnya, tapi bapak tenang saja kami akan tetap profesional kok. jadi bapak jangan khawatir ya." jelas Dinda
"ya sudah, saya percaya kalau kalian emang profesional, karena saya tau dari produser yang mengontrak kalian." ucap pak Galen..
"hehehe gitu ya pak, ya sudah kalau begitu saya permisi ya pak, saya mau melihat kondisi Yuna dulu." Dinda berpamitan dengan pak Galen dan langsung dibalas anggukan kepala oleh pak galen. Kemudian Dinda berlalu pergi menuju ruangan yang telah disediakan untuk para artis ketika break syuting.
Sesampainya di dalam ruangan itu, ia melihat Yuna yang sedang berbaring dan menutup matanya. Dinda yang melihat itu hanya bisa membiarkan begitu saja karena ia tau kalau Yuna saat ini sangat membutuhkan tidur. apalagi beberapa hari ini jadwal mereka memang sangat padat. Sebenarnya ia sangat mengkhawatirkan kesehatan Yuna, tetapi Yuna sendiri yang meminta mencarikan job yang banyak karena Yuna memiliki ambisi menjadi artis yang sangat terkenal di dalam maupun luar negeri.
__ADS_1