
"Yan, kita ngapain kesini?" tanya Diana
"nguli." ucap Yana singkat.
"yang benar aja kita nguli di restoran mewah ini." ucap Diana tak percaya.
"lagian kamu bego atau apa sih. udah tau kita ke restoran ya menurutmu mau apalagi kalau bukan mau makan."
"wah, wah.. wah.. ini kalimat terpanjang yang pernah aku dengar dari mulutmu." ucap Diana dengan mata berbinar.
Yana mendengus, " ayo masuk. kamu tadi bilang lapar kan jadi ayo."
"iya sih tapi kan gak ke restoran mewah juga." gerutu Diana
Yana tak peduli dengan gerutu Diana, dia terus melangkah ke dalam restoran itu.
"baby, wah.. sepertinya kita memang berjodoh ya. lihat kita ketemu di sini tanpa janjian." ucap Diaz senang ketika melihat Yana berada di hadapannya.
Yana mendengus dan menatap tajam Diaz, "dari sekian banyaknya restoran di kota ini kenapa harus restoran ini yang dia datangi sih, bikin badmood aja." gumam Yana pelan.
ketiga sahabatnya Diaz melongo melihat ekspresi yang saat ini ditunjukkan oleh Diaz karna mereka gak pernah melihat Diaz mengeluarkan ekspresi seperti itu.
"eh bukannya kamu yang waktu itu, ngapain disini?" tanya Diana.
"nguli" ucap Diaz ketus.
Diana yang mendengar suara ketus Diaz pun melongo kaget kemudian dia mendengus, "ternyata kalian emang jodoh, jawabannya pun sama ketika di tanya."
Yana memutar bola matanya dan hendak berlalu tapi Diaz langsung menahan nya.
"mau kemana baby, kita makan dulu ya.. mumpung kita berada di sini. dan anggap aja kalau kita lagi kencan." goda Diaz menaik turunkan alis matanya.
ketiga sahabatnya saling pandang masih merasa tak percaya.
"cih, tadi aja sok ketus gitu ngomong. giliran sama Yana aja kayak kucing yang minta dikasihan makan dia." gumam Diana pelan.
Diaz yang mendengar gumaman Diana langsung menatap tajam Diana. Diana yang di tatap begitu menelan ludahnya kemudian nyengir.
__ADS_1
"aku gak pernah tau kalau Diaz bisa seperti itu." bisik Bryan.
"sama.. aku juga gak pernah tau. tapi itu cewek siapa ya?" bisik Arkana.
Andika menatap malas..
"ayo baby, ini restoran milik sahabatku. kita cari yang private room aja ya. biar lebih nyaman." ucap Diaz menarik tangan Yana menuju ruangan yang biasa ia pakai bersama sahabat-sahabatnya ketika ke restoran ini.
"loh kok aku ditinggalin sih," gerutu Diana
"mbak.. itu tadi teman mbak kan? kalau boleh tau itu siapanya Diaz ya?" tanya Bryan.
"Diaz? siapa Diaz?"
"lah dia gak tau, yang tadi itu namanya Diaz mbak, trus mbak yang tadi itu siapanya Diaz ya?" tanya Arkana.
"oh.. nama cowok itu Diaz toh.. eh, bilang sama teman kamu itu jangan SKSD banget sama sahabatku. kenal kagak malah klaim-klaim orang sembarangan aja." gerutu Diana.
"cerewet."
Diana mendelik mendengar dia di bilang cerewet sama Andika. "mas nya juga sok yes banget jadi orang. sok cool aslinya jumpa sama cewek bucinnya minta ampun." ejek Diana.
orang yang sedang di bicarakan acuh tak acuh dan berlalu.
"dik, mau kemana?" tanya Arkana
"lapar."
"yok lah." Arkana mengikuti Andika ke ruangan mereka.
Di tempat Yana dan Diaz terjadi perdebatan.
"bisa lepaskan tangan saya? anda gak sopan banget jadi orang. main pegang-pegang aja. kenal juga gak." ucap Yana dingin.
Diaz senang mendengar suara Yana, "wah, itu kalimat terpanjang yang pernah aku dengar dari mulutmu baby. dan bukannya kita udah kenal ya, dan keluargamu pun udah kenal sama ku."
"terserah."
__ADS_1
"Woi, gak boleh berduaan sama cewek, ntar Lo khilaf lagi." ucap Arkana yang datang bareng Andika dan disusul Bryan dan Diana.
Diana mendekati Yana, "kamu main ninggalin orang aja," ucap Diana cemberut.
Diaz mendengus, "kalian nganggu aja. kayak gak ada ruangan lain selain ini."
"kita itu sahabat yang baik makanya mau nemenin Lo. siapa tau Lo gak tau cara mendekati cewek." ucap Bryan.
"ck... sana pesanin kita, kan situ yang punya."
"lah, sejak kapan yang punya di jadikan pelayan di restorannya sendiri." ucap Bryan.
"berisik, sana." ucap Andika dingin
"ck... iya iya." Bryan pergi memesan makanan untuk mereka.
"oh ini restoran manusia kurang se ons itu ya. hebat juga dia." ucap Diana.
"don't judge a book by its cover." ucap Arkana ketus.
Diana garuk kepala merasa bersalah karena salah menilai penampilan Bryan tadi. "maaf"
selang beberapa menit, masuklah Bryan dan pegawai nya membawa makanan pesanan mereka.
"silahkan mas."
"makasih putri yang cantik," goda Arkana.
"ganjen amat Lo jadi orang." cibir Bryan. "gak usah di tanggapi put, dia itu liat hewan di dandanin aja pasti di embat juga.
"sialan Lo, jangan di dengar ya putri, itu dia nya aja yang iri, karna gak ada yang mau sama dia." ucap Arkana.
"permisi mas," ucap putri setelah selesai meletakkan semua makanan di meja itu.
"hahaha, di abaikan. gimana enak, dia tau mana cowok yang serius dan mana yang ghosting doang."ucap Bryan.
"diam." ucap Andika dingin.
__ADS_1
seketika Bryan dan Arkana diam, Diana melongo melihat itu, sementara pasangan kita saat ini hanya menatap jengah.
"dia ngomong satu kata, dan itu langsung di turuti loh. hebat banget vibesnya." batin Diana takjub.