
Hari ini Dion memiliki janji temu dengan Yana, karna kemarin mereka telah sepakat untuk saling mengenal terlebih dahulu.
"mana sih ni orang, udah lewat 30 menit gue nunggu, belum datang juga. dia pikir waktu ku hanya buat bertemu dia aja." gerutu Dion sembari melihat jam tangannya. "loh itu kan Ayesha, sama siapa dia disini? tunggu itukan Andika. bukannya mereka udah lama putus ya. kok bisa mereka berdua ada di mall ini."
"maaf.."
"astaga... bisa gak, gak usah ngagetin. untung aja gue gak memiliki riwayat penyakit jantung. kalau punya mungkin udah modar kali gue." omel Dion.
Yana memutar bola matanya, kemudian menatap malas laki-laki di depannya, "gak usah lebay. lagian salah situ sendiri gak fokus."
"ck.. inilah kekuatan wanita yang tak mau di salahkan dan selalu beranggapan benar. males lah. lagian ini udah jam berapa. bisa gak sih jadi orang on time. waktuku bukan hanya untuk menemui Lo aja kali." cerocos Dion.
"bawel kayak wanita." ucap Yana dingin.
"cih." Dion mendecih. "jadi hari ini apa agenda kita nona"
"terserah."
"hah.. kata khas seorang wanita, ditanya apa jawabnya terserah giliran di ajak ke suatu tempat nanti ngambek bilang kalau cowok gak peka." ucap Dion.
sementara dilain tempat.
"dik, bisa tidak kasih aku satu kesempatan buat memperbaiki semuanya" ucap Ayesha dengan puppy eyes nya.
__ADS_1
Andika menatap malas Ayesha, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak terpengaruh, karna selalu mereka berhubungan, ia selalu luluh dengan raut wajah Ayesha yang saat ini ia tunjukkan.
"Dika, bisa kan. aku benar-benar menyesal. ternyata aku hanya berkhayal kalau aku bisa mendapatkan kasih sayang orang tua ku dengan membuktikan kalau aku bisa membanggakan mereka bahkan sampai aku mengorbankan satu-satunya orang yang menyayangi dengan tulus. Dika, aku tau aku salah. aku benar-benar menyesal dan aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita. bisa kan kasih aku satu kesempatan, hanya satu kesempatan saja jika di kesempatan itu aku mengecewakan mu lagi, aku gak apa-apa kalau kamu membenciku seumur hidupmu." ucap Ayesha menatap sendu.
Andika menyeringai sinis, "kesempatan? kesempatan apa yang anda maksud nona muda Wiguna. jangan membuat saya tertawa mendengar itu. bukannya waktu itu anda mengatakan kalau anda hanya berpura-pura selama menjalin hubungan dengan saya, dan anda juga sudah muak dengan kepura-puraan itu. anda tidak sedang amnesia kan nona." ucap Andika dingin dengan tatapan tajamnya.
Ayesha menunduk, kemudian mengangkat kepala menatap penuh harap pada Andika, "itu aku lakukan agar kamu membenciku, karna aku pikir bakal mendapatkan kasih sayang yang selama ini aku inginkan, tapi.. hiks..hiks..."
"jadi maksud dari perkataan anda itu kalau saya itu cadangan begitu. kalau anda mendapatkan kasih sayang yang anda inginkan Anda pasti tidak akan berada di sini saat ini, begitu kan?" ucap Andika dingin.
"Dika aku.."
"saya tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni basa basi yang sudah basi ini. jangan pernah menemui saya lagi dan jangan pernah memanfaatkan orang lain agar mendapatkan apa yang anda inginkan nona." potong Andika berdiri dan berlalu pergi.
Ayesha menatap sendu kepergian Andika, "apa yang harus aku lakukan Dika, aku hanya berusaha untuk berjuang dengan meminta kak Diaz berbicara kalau ia ingin bertemu disini, apakah aku salah ya berjuang untuk memperbaiki semua yang telah aku rusak. bego banget sih Lo yesha, udah tau meluluhkan hati Andika itu susah ketika sudah dapat malah di lepaskan begitu saja hanya karena ingin merasakan kasih sayang orang tua. bodoh.. bodoh.. bodoh..." batin Ayesha mengusap keras mukanya.
"apakah gadis ini gak capek apa dari jalan gak ada berhenti nya." gumam Dion melirik Yana sekilas.
Yana mendengar suara gumaman Dion pun mendengus kemudian berhenti di restoran yang ada di mall itu.
"itu bukannya adekmu ya?" ucap Yana menunjuk ke salah satu bangku di restoran itu, "dia nangis."
"loh, mana si Andika. bukannya tadi dia berdua sama manusia es itu. terus kenapa pula ni anak pake nangis segala. apakah si manusia es itu nyakitin dia. kurang ajar banget tuh orang." batin Dion mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Yana melirik Dion, keningnya berkerut heran melihat reaksi Dion. "kenapa Lo?"
"eh gak apa-apa kok, kita cari tempat lain aja yuk." ucap Dion.
"gak. gue mau makan di sini. terserah Lo mau kemana, yang penting jangan ajak gue." ucap Yana memasuki restoran dan duduk ditempat Ayesha karna hanya bangku itu yang saat ini sedang kosong.
"gue duduk di sini gak apa-apa kan" ucap Yana dingin.
Ayesha tersentak kemudian melihat siapa yang saat ini berada di hadapannya, kemudian ia tersenyum, "silahkan. Lo kesini bareng siapa? kak Diaz ya." ucap Ayesha dengan nada menggoda di akhir kalimatnya.
"gak. dia kesini bareng gue." Dion menghampiri kedua gadis itu. "apa ada masalah dengan itu" ucap Dion ketus. ya Dion memang gak tau bagaimana ia harus berkomunikasi dengan adiknya ini karena mereka tidak sedekat hubungan kakak adik pada umumnya.
Ayesha mendengus, menatap malas Dion, "oh."
Yana mengerti hubungan kedua orang yang di hadapannya sama seperti dirinya dengan saudaranya kemudian dia mengangkat bahunya tanda bahwa ia tak peduli.
"dek, kamu udah selesai belum?" tanya seseorang yang baru datang.
Ayesha tersenyum senang, "udah kak. kakak kesini ada perlu sama ku atau...." ucap Ayesha berusaha menggoda Diaz. ya yang barusan datang itu Diaz.
Diaz menatap malas adik sepupunya itu, "ayo kamu mau pulang kan."
sementara Dion dan Yana hanya melihat interaksi Diaz dan Ayesha, Yana merasa ada yang berubah dari laki-laki yang selama ini menganggu nya itu. entah mengapa ia merasa sedikit sakit ketika Diaz acuh terhadap bahkan Diaz tidak mengalihkan pandangannya dari Ayesha.
__ADS_1
"ayo kak, aku juga udah selesai kok kak. males banget jadi nyamuk di sini." Ayesha dan Diaz pergi tanpa mengatakan apapun pada Yana dan Dion.
"kenapa ada rasa sakit di sini. apakah.. tidak. itu tidak mungkin. ya mungkin saja aku hanya merasa terbiasa kalau dia menganggu hari-hariku. iya mungkin itu, jangan mungkin dengan apa yang aku pikirkan." batin Yana.