
brakkkkkkk......
"aduh..duh..duh... sakit banget lagi." ucap seorang wanita yang terjatuh akibat tabrakan dengan seseorang, kemudian dia berdiri sembari memegang pantatnya yang sakit.
"kalau jalan itu, matanya juga di pake kali, jangan hanya untuk pajangan aja itu ma.." omel wanita itu kepada orang yang menabraknya tapi ketika ia melihat siapa yang menabraknya, dia malah terdiam karna yang menabraknya adalah dokter yang telah menyelamatkan nyawa ibunya. "aduh, malunya aku. mana udah marah-marah lagi sama dia." gumam wanita itu pelan.
Yusuf bukan tidak mendengar apa yang di omongin wanita itu, hanya saja ia tidak ingin membuat wanita itu bertambah malu, "maafin saya ya, saya yang salah karna saya terburu-buru sehingga nabrak anda." ucap Yusuf ramah.
"zizah... kamu ngapain masih di sini bukannya kamu harus buru-buru pulang, kasihan adik-adikmu udah pada nungguin kakaknya." tanya seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
ya wanita itu Azizah.
Azizah garuk kepala mendengar penuturan Yusuf, ia merasa tak enak. "eh dokter gak salah kok, ini salah saya karena saya juga lagi buru-buru sampai gak liat jalan. maafin saya ya dok" kemudian ia melihat kearah wanita paruh baya itu, " Bi Siti, ini zizah juga mau pergi, cuman tadi ada sedikit insiden kecil bi." ucap Azizah cengengesan.
"iya saya juga minta maaf, yaudah kalau begitu saya pamit dulu ya." ucap Yusuf mengangguk kepala kepada Azizah dan Bi Siti dan berlalu pergi.
"nduk? kenapa masih di sini katanya tadi mau pergi dan kenapa kamu liatin dokter itu sampai segitu." ucap Bi Siti lembut.
Azizah tersentak kaget kemudian ia merasa malu karna ketahuan liatin Yusuf, "eh iya bi ini mau pergi, zizah pergi ya bi."
"hati-hati dijalan nduk."
"iya bi.." Azizah berjalan tergesa-gesa dengan wajah yang memerah, "aduh, kenapa bisa ketahuan bibi sih, bibi pasti mikir yang nggak-nggak nih, tapi dokter Yusuf kenapa tampan banget ya, mana berkharisma dan auranya itu bikin.. eh astaghfirullah kok aku mikir kemana-mana sih. aduh zizah bangun jangan mikir ketinggian nanti jatuh sakit tau." gumam Azizah.
......................
"loh Bu Celine bukan?"
__ADS_1
"Pak Johan, maaf pak silahkan ambil saja. saya bisa nyari yang lain kok." ucap Celine ketika mereka mengambil barang yang sama yang ingin di beli.
"tidak.. tidak.. ini buat Bu Celine aja, saya gak jadi beli itu." Johan tersenyum ramah kepada sekretaris kliennya.
"serius pak, ini boleh buat saya?" tanya Celine berharap karna ia memang sedang menginginkan barang tersebut.
Johan yang melihat ekspresi Celine merasa gemas, "iya, buat Bu Celine aja."
"terima kasih Pak Johan"
"eits, tapi dengan satu syarat." ucap Johan mengambil barang itu sebelum Celine mengambil nya.
"eh, syarat? apa syaratnya pak?"
"panggil nama saya tanpa embel-embel pak di depannya, bagaimana?" tanya Johan.
"tapi pak.."
"baik lah pak eh Johan. begitu kan?"
"nah kan enak di dengar, di banding kamu manggil bapak, saya serasa tua banget padahal kan kita seumuran." ucap Johan senang dan memasukkan barang yang dipegangnya ke keranjang belanja Celine.
"kalau begitu saya permisi dulu pak eh Johan maksudnya." ucap Celine masih belum terbiasa memanggil Johan dengan nama saja.
"silahkan."
Sementara disisi lain terlihat tiga orang sedang berbicara serius. mereka sedang membicarakan tentang anak-anak mereka.
__ADS_1
"aku gak nyangka kalau Yana dan Diaz menjalin hubungan, syukurlah.. aku juga ingin putraku itu berjodoh dengan anakmu. ternyata kita bisa besanan tanpa campur tangan kita ya." ucap Dimas senang.
"aku juga gak nyangka, ketika kami makan siang, anakmu itu ikut dan dia menyebut namanya dengan penuh percaya diri, ternyata kepercayaan dirimu itu kau turunkan pada anakmu itu ya." cibir Adrian.
Dimas tertawa mendengar perkataan sahabatnya, "hahaha... itu sudah pasti. dia kan duplikat ku. lihatlah wajahnya saja mirip banget ketika aku masih muda, tampan dan berwibawa. iya gak ren?" ucap Dimas menaikkan turunkan alis matanya.
Adrian yang melihat Dimas menggoda istrinya langsung menutup mata sang istri. Dimas yang melihat itu tertawa keras.
"mas kenapa mata Irene di tutupin sih."
"ada tua-tua keladi yang gak sadar umur sayang, nanti kamu gak bisa tidur melihat dia." ucap Adrian.
"ck.. posesif amat." Dimas memutar bola matanya.
"gak pernah berkaca kah? situ juga begitu.. ketika Tiara masih ada, gak boleh ada yang melihat dia lebih dari 1 detik. apa-apaan coba itu, kalau gak mau istrimu di lihat di kurung aja dia di rumah." omel Adrian.
Dimas langsung terdiam,
Irene merasa bersalah melihat ekspresi Dimas, "maafin mas Adri ya dim, dia gak sengaja menyinggung tentang Tiara."
Adrian tersentak kaget dan dia menyadari kalau ia telah salah bicara, "aduh.. sorry banget dim. tadi itu aku niatnya bercanda bukan ingin membuat mu mengingat kesakitan kamu karna kehilangan Tiara."
Dimas yang melihat kedua sahabatnya panik karna takut menyinggungnya pun tersenyum tipis, "aku udah gak masalah mendengar nama Tiara lagi kok. dia tetap selalu di hati jadi walaupun dia udah gak ada lagi."
"syukurlah kalau begitu. aku merasa gak enak."
"jadi gimana kalau di resmikan aja hubungan putra-putri kita ke jenjang pernikahan" ucap Adrian.
__ADS_1
"wah boleh itu. nanti kita tentukan tanggal agar kita bisa membahasnya, nanti kita ajak Yana dan Diaz juga." ucap Irene antusias.
"Pernikahan Diaz? aku senang bila memang aku bisa melihat momen itu tapi bagaimana aku mengatakan kepada putraku itu tentang rencana ini. belum juga membicarakannya, aku datang aja dia sudah terlihat tak suka kehadiran ku. yah... itu memang salahku sih.. seandainya waktu bisa di putar kembali lagi, aku ingin lebih memperhatikannya. hahhhh..." batin Dimas sendu.