
"din, apa jadwalku setelah ini." tanya Yuna kepada manajer nya, Dinda.
"setelah ini kita ada project ke luar kota, kita akan di sana 2 hari dan kamu bakalan colab sama Chelsea lagi. gak apa-apa kan?" Dinda menjelaskan schedule Yuna dan dia menanyakan tentang kerja sama antara Yuna dan Chelsea. karna dari gesture dan perilaku Yuna, terlihat kalo Yuna tidak menyukai Chelsea. entah apa yang terjadi di antara mereka.
"oh artis pendatang baru itu ya, hahhh... yaudah lah, siapkan aja semuanya yang mau dibawa." Yuna memang tidak pernah menyukai Chelsea, bukan karna dia masih baru di industri hiburan tapi karna sebuah alasan yang cukup dia yang tau.
"baik lah, kamu istirahat aja dulu." ucap Dinda.
"hmmm..." Yuna memejamkan matanya yang sejak tadi terasa begitu berat tapi karna profesional dia berusaha senatural mungkin untuk tetap terjaga dan tak selang berapa lama, ia pun tertidur.
"kamu kecapean banget ya yun, aku sebenarnya gak tega liat kamu yang seperti ini. tapi karna ambisimu yang begitu besar ya semua ini harus dilakukan bukan?" batin Dinda melihat Yuna yang terlelap begitu nyenyaknya.
drttt...ddrrrrtttt....
"halo iya kak?" jawab Dinda mengangkat telpon Yuna, bukan karena ia lancang tapi karna ia tak ingin suara dering itu membangunkan Yuna.
"loh kok kamu yang jawab telponnya Din? Yuna kemana? dia gak kenapa-kenapa kan? dia baik-baik saja kan?" tanya Yusuf bertubi-tubi.
Dinda yang mendapatkan pertanyaan itu gelagapan, ia bingung mau menjawab pertanyaan yang mana dulu.
"kok kamu diam aja Din. Yuna gak kenapa-kenapa kan? trus kenapa kamu yang ngangkat telponnya?" tanya Yusuf lagi tidak sabaran.
"hmmmm... kak bisa gak pertanyaan nya jangan beruntun gitu. saya nya yang bingung mau jawab yang mana dulu." ucap Dinda.
"ya tinggal jawab saja kok bingung sih. kalau gak jawabnya terserah kamu mau yang mana dulu."
"hmmm,,, baiklah kak. kenapa telpon kakak, saya yang jawab, jawabnya karna Yuna lagi tidur. eitzz jangan dipotong dulu, Yuna tidak kenapa-kenapa, dia baik-baik saja. dia cuma kecapean dan tertidur. apakah sudah puas dokter Yusuf?" jawab Dinda panjang lebar.
"kamu gak bohong kan? Yuna beneran gak kenapa-kenapa kan?"
"gak loh kak, Yuna kakak baik-baik saja." ucap Dinda greget. "ya ampun kak Yusuf ini ternyata perhatian banget ya sama adiknya. seandainya aku punya pacar seperti kak Yusuf pasti bahagia banget ya." batin Dinda, kemudian ia tersadar " eh aku tadi mikir apa sih" gumam Dinda pelan.
"apa Din? barusan kamu ngomong apa?" tanya Yusuf karna dia samar-samar mendengar Dinda berbicara sesuatu.
"gak kok kak, aku gak ngomong apa-apa?" jawab Dinda kikuk.
"baik lah kalau memang seperti itu. sampaikan saja pesanku buatnya, jaga kesehatan dan jangan terlalu di forsir tenaganya."
"siap kak nanti pasti saya sampaikan. apakah ada lagi?" tanya Dinda.
"gak.. itu aja kok." Yusuf langsung menutup telponnya.
......................
__ADS_1
"apalagi yang harus aku lakukan untuk membuatmu melihat kearah ku sih. kenapa susah sekali untuk meraih hatimu itu." batin Diaz.
tok tok tok....
Diaz tersentak kaget kemudian wajahnya langsung berubah menjadi datar. " masuk."
"permisi pak, di luar ada pak Dimas, beliau ingin bertemu dengan anda. apakah ..."
"ck... biarkan dia masuk." potong Diaz dingin.
"baik pak. permisi pak." ucap Celine.
"ada perlu apa anda kemari." tanya Diaz langsung to the point ketika melihat Dimas sudah berada di hadapannya.
"apakah kamu tidak menyuruh Daddy duduk dulu gitu. kenapa langsung to the point banget sih nak."
Diaz mendengus, "tidak perlu banyak basa basi. katakan saja ada perlu apa."
Dimas menghela napas, " Daddy mau ngajak kamu dinner dengan teman Daddy besok malam. apakah kamu bisa?"
"tidak, saya sibuk."
Dimas kelihatan kecewa dengan jawaban putranya. ia tau kalo ini tidak akan mudah, tapi ia tetap harus berusaha bukan? agar putranya itu melihat usaha yang dilakukannya untuk memperbaiki semuanya.
"apa ada lagi yang mau di sampaikan. kalau tidak ada, silahkan keluar karna saya banyak kerjaan yang harus dilakukan. jangan buang waktu saya." ucap Diaz dingin.
Diaz menatap tajam dan dingin kearah Dimas, "jangan pernah bermimpi kalau anda bisa melakukan itu. Yana itu milikku dan selama akan tetap begitu."
Dimas tersenyum sinis, " milikmu? sejak kapan? setau Daddy kamu tidak pernah terlibat hubungan dengan siapapun. kenapa tiba-tiba dia jadi milikmu saja."
Diaz muak melihat senyum Dimas, ia menyeringai licik, "emangnya anda pernah tau apa tentang saya? jangan bicara seolah anda paling tau segalanya. urus saja urusan anda, jangan pernah ikut campur dengan urusan saya."
Dimas terdiam.
"dimana?" tanya Diaz.
"dimana apanya?"
"ck.... dimana tempat dinnernya?" tanya Diaz ketus.
"di restoran milik sahabatmu."
"udah kan, apa ada lagi?" tanya Diaz dingin.
__ADS_1
"tidak itu saja, Oia jangan sampai terlambat ya nak, kamu gak mau kan kelihatan jelek dimata calon mertua." goda Dimas.
Diaz hanya diam.
"ingat jam 8 harus sudah disana ya?"
Sementara dilain tempat, Adrian dan Irene saling pandang.
"mau sampai kapan kalian diam." ucap Yana dingin.
"besok kamu gak sibuk kan nak?" tanya Irene lembut.
Yana mengangkat alisnya.
"besok bisa ikut dengan kami nak, besok ada orang yang ingin bertemu dengan mu." ucap Adrian.
"siapa?"
Adrian tersenyum lembut, "kamu akan tau besok. bisa kan nak?"
"dimana?" tanya Yana singkat.
"restoran bkhiel, jam 8 sudah disana." ucap Irene.
Yana diam.
"itukan restoran sahabat orang aneh itu. kenapa harus di sana sih. kayak gak ada restoran lain aja." batin Yana.
"kenapa nak? kok kamu diam aja." tanya Irene penasaran.
Yana tersentak kemudian menatap malas Irene, "baiklah. apa ada lagi?"
"gak ada. Oia kamu mau pulang kan? kita barengan aja ya?" tanya Irene lembut.
"tidak, terima kasih. saya bawa mobil sendiri dan saya juga ada urusan lain." ucap Yana.
"urusan apa nak?" Irene berusaha untuk memberikan perhatian kepada putrinya itu. dan ia ingin kalau putrinya tau kalau mereka juga sayang kepadanya.
Yana hanya diam.
Irene terlihat sedih karena respon Yana begitu dingin dan Adrian berusaha menghibur istrinya dengan mengusap punggung Irene.
"sabar sayang, setidaknya putri kita mau ikut dinner besok." bisik Adrian.
__ADS_1
"iya mas, tapi kan aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengannya." bisik Irene.
Yana mengangkat alis melihat orang tuanya yang sedang berbisik-bisik di depannya. kemudian mengangkat bahunya dan berlalu pergi.