
POV Yana
Memang selama ini aku merasa kalau orang tua ku pilih kasih, aku selalu diminta untuk mengalah dengan alasan saudariku itu lebih lemah tubuhnya di bandingkan aku. selama ini apa yang saudariku minta sudah pasti akan ia dapatkan, sedangkan aku hahhh jangan pernah berharap.
ketika Yuna sekolah di sekolahku pun, aku dijadikan penjaga nya agar ia baik-baik saja bahkan tak jarang ia menyuruhku untuk melakukan apapun yang ia inginkan dan ketika aku tak mau, ia pasti akan mengadu pada orang tua kami dan berakhir aku dimarahi dan di hukum.
Pernah waktu aku dan Yuna pulang sekolah, kebetulan hari itu jemputan kami telat datang. karna Yuna sudah lapar kamipun berjalan kaki, siapa tau di jalan nanti kami berjumpa dengan taxi atau mobil jemputan kami. ketika kami melewati taman, ada seekor anjing yang sedang tertidur. Yuna tersenyum jahil kemudian dia mengambil batu dan melempar anjing itu padahal aku sudah melarangnya karna jika anjing itu bangun, sudah pasti kami akan di kejar. namun karna selama ini apa yang dia inginkan selalu ia dapat maka ia tidak pernah mendengar apa yang aku bilang. anjing itupun bangun dan mengejar kami, kami pun berlari. Yuna tertinggal di belakangku karna ia larinya sangat lambat, ia pun berlari sambil memegang dadanya. melihat itu aku berhenti dan menghampirinya, "kamu kenapa? hei kamu baik-baik saja kan? yang mana yang sakit?" tanyaku panik, dan ketika aku melihat kebelakang anjing itu sudah berada di belakang kami, aku bingung harus bagaimana, tapi untungnya ada orang yang membantu kami mengusir anjing itu.
"kalian gak apa-apa kan dek, itu kembaran kamu kelihatannya kesakitan, apa perlu di bawa ke rumah sakit." tanya orang yang bantu kami.
"iya pak, boleh bantu saya membawa saudari saya ke rumah sakit. tapi maaf sebelumnya pak kalau saya dan saudari saya merepotkan bapak." ucapku sungkan karna waktu bapak itu pasti terbuang sementara jualan bapak itu kelihatannya masih banyak.
bapak itu tersenyum, "tidak merepotkan kok nak, bentar bapak ambil motor bapak dulu. tapi gak apa-apa kan kita naik motor, karna kendaraan yang bapak punya itu hanya ini."
"gak apa-apa kok pak, malah saya yang berterima kasih kepada bapak, tapi jualan bapak gimana?"
"itu udah bapak titipin sama yang lain kok. kamu gak usah mikir itu ya. ayo naik." ucap bapak itu
sesampainya di rumah sakit, suster langsung membawa brankar dan bapak itu meletakkan Yuna di atasnya kemudian suster membawanya ke IGD.
"maaf dek, kamu tidak bisa masuk." ucap suster.
"tapi sus, saudari saya bagaimana?" tanyaku
suster itu tersenyum, "ini kami akan menolongnya, tapi kamu tidak bisa masuk, lebih baik hubungi orang tua kalian."
akupun menghubungi orang tua kami, selang berapa lama mereka pun datang dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi, ketika aku menjelaskan mereka malah menyalahkan aku padahal yang salah itu sebenarnya Yuna.
ah sudahlah itu hanya masa lalu, aku menghela napas, terkadang aku merasa kalau aku sudah kelewatan kepada keluargaku. aku juga tau kalau merasa sedang berusaha memperbaiki hubungan kami. sebenarnya aku juga ingin hubungan keluarga kami membaik tapi ketika mengingat apa yang telah mereka lakukan, membuat ku merasa tak nyaman berada di antara mereka.
POV author
tok...tok ...tok.....
Yana tersentak kaget, kemudian wajahnya berubah datar ketika melihat ibunya.
"nak, kamu sudah selesai? kita pergi bersama ya?" tanya Irene lembut.
"loh, kok belum bersiap nak? ini udah jam berapa? gak enak sama mereka kalau kita terlambat."
__ADS_1
Yana mendengus, "bawel."
Irene berusaha tersenyum, "kamu sangat benci sama kami ya nak. kamu belum bisa memaafkan kami."
Yana menyeringai sinis, "memangnya sejak kapan seorang Kusuma melakukan kesalahan."
"nak kami...."
"mom, Yan, udah siap belum, udah di tungguin dari tadi." Yusuf datang dan memotong ucapan Irene. sontak keduanya melihat Yusuf, "bentar nak, adikmu belum selesai. nanti kalau sudah kami bakalan nyusul, kamu duluan aja kedepan." ucap Irene.
Yana beranjak sedangkan Yusuf dan Irene bingung melihat itu.
"loh katanya kamu belum siap, kok udah malah pergi dek. apa kamu begitu saja?" ucap Yusuf lembut.
Yana mengangkat alisnya, "kenapa rupanya? ada yang salah dengan itu?"
"eh... gak sih. yaudah kalau kamu nyaman begitu. kita berangkat saja, lagian ini sudah jam berapa. nanti kita terlambat, gak enak sama mereka." ucap Yusuf kikuk.
"yaudah ayo kita berangkat, kasihan Daddy udah nungguin kita dari tadi." Irene menggandeng tangan Yana, Yusuf mengikuti mereka dari belakang.
di restoran BKhiel, ruangan VIP terlihat 4 orang yang sedang menunggu tamu mereka. ya kalian benar, mereka adalah keluarga Wiguna. Dimas Arya Wiguna, Diaz Ananda Wiguna, Dion Ferdinand Wiguna dan Dewi Ayesha Wiguna, sepupu Diaz.
"kenapa lama sekali sih uncle. kok gak tepat waktu banget." omel Ayesha cemberut.
"emang kita mau bertemu siapa sih uncle. kenapa aku harus ikut sih." ucap Dion.
"udah nanti kamu juga akan tau, jadi sabar aja nunggu."
selang beberapa menit..
"waduh maaf ya Dimas, kami terlambat." Adrian dan keluarganya baru saja sampe di tempat yang di janjikan.
"santai aja, kami yang terlalu cepat datangnya." ucap Dimas.
Yana yang melihat ada Diaz disitu pun mendengus, "ck harusnya aku tau, kalau ini rencana para orang tua itu ketika mereka mengenal ayah dari orang aneh itu." batin Yana.
"kenalkan ini putra dan putri kami. Oia sebenarnya anak kami ada 3 tapi karna yang satunya lagi gak bisa ikut karna kesibukan, makanya yang kami bawa cuma 2." Irene tersenyum bahagia memperkenalkan anak-anaknya.
"Yusuf om.. Yusuf bro dan Lo udah tau kan siapa gua?" ucap Yusuf memperkenalkan dirinya kepada Dimas, sepupu Diaz dan Diaz sendiri.
__ADS_1
"Yana."
Irene yang melihat itu, tersenyum kikuk merasa tidak enak karna sikap putrinya. sementara Dimas tersenyum lembut melihat wajah Yana yang datar sama seperti putranya. Ayesha dan Dion saling pandang seolah mereka sedang berbicara di dalam hati.
"ah iya saya juga mau mengenalkan mereka, mereka anak dari adik saya, yang cowok namanya Dion dan yang cewek Ayesha." ucap Dimas.
Ayesha dan Dion tersenyum ketika semua mata memandang mereka.
"Oia Yana sekarang kerja apa nak?" tanya Dimas membuka pembicaraan setelah mereka selesai makan.
"guru om"
"wah.. itu pekerjaan yang mulia, Oia kamu gak ingin nerusin Daddy mu ngurus perusahaan?" tanya Dimas lagi seolah ia ingin mengetahui apa yang di inginkan Yana.
"gak om."
"Oia kamu mau gak om jodohin dengan anak om, itu si Dion." ucap Dimas jahil.
"uhuk..uhuk..." Diaz tersedak.
semua mata memandang Dimas dan Diaz bergantian. sementara Dimas tersenyum jahil kepada putranya dan Diaz membalas menatap tajam.
"bagaimana menurutmu Yana?" Dimas semakin semangat menggoda putranya.
"jangan berani macam-macam, dia milikku." ucap Diaz dingin dan ketus.
Yana memutar bola matanya mendengar ucapan Diaz. kemudian dia melihat ke arah Dion, seketika dia menemukan ide lalu menyeringai licik, "saya setuju om. keliatan nya dia lebih baik daripada putramu itu."
Diaz menatap tajam Yana, ia merasa begitu terluka mendengar ucapan Yana, namun ia masih bertahan menunjukkan wajah datarnya.
"wah kamu serius nak, bagaimana Dion? apa kamu setuju." Dimas sebenarnya bingung, ia hanya berniat menggoda putranya.
Dion melihat Yana kemudian dia mengangguk kepala seakan ia mengerti apa yang saat ini ada di kelapa gadis itu. "hahhh, kenapa aku yang harus di korbankan. dia bukan tipe ku dan saat ini Diaz sudah menatap ku seakan ingin menghabisiku saja." batin Dion mengusap mukanya.
"kak. kakak, kok malah melamun sih. dari tadi uncle indah manggil kakak loh." omel Ayesha.
"oh iya uncle, apa tadi yang uncle bilang?
Dimas menghembuskan napas, "kamu mau di jodohkan dengan Yana?"
__ADS_1
"aku gak mau di jodohkan uncle. udah kayak jaman Siti Nurbaya aja. tapi kalau untuk mengenal lebih jauh tidak masalah asal tidak ada embel-embel perjodohan. gimana?" ucap Dion memberi solusi karna ia merasa nyawanya semakin memendek ditatap Diaz seperti itu.
Diaz berdiri dan berlalu pergi karna ia merasa tidak di butuhkan lagi disana. "ternyata sakit juga ya, mungkin memang aku tak di izinkan untuk bahagia kali. yaudah lah sekarang fokus kepada diri sendiri." batin Diaz sendu.