Diam-diam Akad

Diam-diam Akad
episode 17


__ADS_3

"kak, kenapa kakak ikut dengan ku? bukannya di sana ada kak Yana, kakak gak ingin pdkt sama dia?" tanya Ayesha.


Diaz hanya diam.


"dih sok cuek dia, ntar di ambil orang. nangis." ejek Ayesha.


"bagaimana tadi sama Andika, apa yang terjadi? dia gak kasar kan samamu." Diaz mengalihkan pembicaraannya.


"cih mengalihkan pembicaraan dia." dengus Ayesha, "kakak... kak Andika sangat terluka ketika aku memutuskan untuk meninggalkan dia, dan itu bisa terlihat ketika tadi aku bertemu dengannya." ucap Ayesha sendu.


"terus mau gimana? mau menyerah?"


"menurut kakak gimana?" tanya Ayesha.


"kalau kakak sih terserah kamu dek, hanya saja kakak ingin kamu jangan terlalu berharap, takutnya kamu merasakan sakit karna penolakan Andika."


Ayesha menunduk, " aku ingin berjuang kak. izinkan aku berjuang ya? gimana hasilnya nanti aku gak bakalan kenapa-napa kok. kakak tenang saja. sekarang kakak bagaimana?"


"bagaimana apanya?" tanya Diaz dengan alis mata terangkat.


"gadis yang tadi itu, kakak suka kan padanya?"


Diaz mendengus, " tidak"


Ayesha tersenyum, "kak, kalau kak Diaz suka dengan nya. aku bisa memberikan tips gimana agar kakak bisa mendapatkan dia. gimana kakak tertarik?" Ayesha menaik turunkan alis matanya.


"ck... dari pada kamu mengurusi urusan ku lebih baik kamu urus urusan mu sendiri." ucap Diaz dingin.

__ADS_1


"hehehe.."


sementara di restoran, Dion melihat kepergian sang adik dan sepupu dengan tatapan yang sulit diartikan, "kamu bahkan tidak pernah menyapa ku, kenapa kamu menjaga jarak dari ku, padahal aku juga ingin kamu bisa bermanja padaku." batin Dion.


"ck..." Yana berdiri dan berlalu pergi tanpa mempedulikan keberadaan Dion disana. entah kenapa ia merasa tak nyaman. "aku ini kenapa sih, kok terasa sakit di bagian dadaku. jangan bilang ..... gak, itu gak mungkin. aku gak mungkin suka sama manusia aneh itu. aku tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapapun. jadi itu mustahil. ya itu hanya karna aku kaget melihat perubahan nya yang biasanya mengganggu sekarang tidak lagi. iya pasti karna itu. aku yakin itu." batin Yana.


brakkkkkk....


Yana dan seorang gadis bertabrakan dan terjatuh.


"aduh, Lo kalau jalan liat-liat dong, matanya dipake. jangan hanya dibuat untuk pajangan aja itu mata." omel seorang gadis memakai kostum aneh memegang pantatnya yang terasa sakit akibat jatuh tadi.


Yana juga berdiri dan ingin pergi dari pada meladeni perdebatan dengan orang yang menurutnya aneh.


gadis berkostum aneh itu langsung menahan Yana, "eh.. eh.. eh... mau kemana, tanggung jawab dong Lo. mau main kabur aja. gak pernah di ajarin sopan santun ya sama orang tua nya."


"ck... manusia muka dua." gumam Yana.


"apa kak, kakak ngomong sesuatu?" tanya gadis aneh itu ramah.


Yana yang muak dengan kepura-puraan, berlalu pergi tanpa peduli ekspresi kaget dari gadis aneh itu.


"cih.. mentang-mentang sudah senior di dunia entertainment, sombongnya minta ampun, kalau bukan karna image. gue males banget tegur sapa sama itu orang." omel gadis aneh itu.


......................


Hatciiimmm...

__ADS_1


"Yun, are you ok. kita ke rumah sakit ya?" ucap Dinda panik.


"gak perlu, aku hanya kecapean aja. paling istirahat udah baikan. Oia besok aku ada jadwal atau gak?"


Dinda melihat buku agenda, "gak ada yun. besok kamu libur tapi lusa jadwal kita padat, jadi besok istirahat aja ya. jangan kelayapan kemana-mana." ucap Dinda memberi nasihat sudah seperti ibunya Yuna saja.


"iya Bu. lama-lama kayak ibu-ibu juga ni anak."


Dinda cengengesan, " hehehe. itu karna aku sayang sama kamu. Oia aku anterin aja ya sampe rumah ya? aku takut kamu kenapa-napa kalau nyetir sendiri." ucap Dinda khawatir.


Yuna melihat dengan mata menyelidik, " kamu mau nganterin aku itu modus kan? bilang aja mau ketemu sama kak Yusuf kan?"


Dinda gelagapan.


Yuna tersenyum jahil melihat ekspresi Dinda, "aku setuju kok kalau kamu sama kak Yusuf, mau aku comblangi gak?"


"gak usah, orang aku juga gak suka kok sama kak Yusuf. aku hanya takut, kamu kenapa-napa aja di jalan makanya aku mau nganterin kamu." ucap Dinda kikuk. "aduh berasa sedang di kulit deh melihat tatapan Yuna. Yuna juga dari mana dia tau sih. apa begitu ketara ya makanya Yuna bisa tau. aduh.. bagaimana kalau kak Yusuf juga bakal tau, apa ya tanggapan nya." batin Dinda. (ya memang Dinda sudah lama memendam rasa pada Yusuf).


"oh yaudah kalau gitu, aku kira kamu suka sama kak Yusuf. aku benaran loh setuju kalau kamu yang jadi kakak ipar ku." goda Yuna.


"apaan sih Yun. udah ah aku mau pulang aja. capek banget 2 hari ini. kamu benaran bisa pulang sendiri atau mau di anterin."


"aku pulang sendiri aja, aku tau kamu juga capek makanya gak perlu nganterin segala. aku gak apa-apa kok. tenang saja. aku nyetir nya pelan-pelan kok." ucap Yuna serius.


"baiklah. hati-hati ya. jangan ngebut pokoknya." ucap Dinda serius.


"iya.iya.. bawel banget."

__ADS_1


Yuna dan Dinda berpisah di parkiran. Yuna melihat Dinda telah pergi duluan. "aku istirahat di sini sebentar kali ya, pusing banget. Oia kata mommy dan Daddy kemarin malam mereka dinner dengan sahabat mereka dan aku yakin pasti ada maksud tersembunyi. apalagi mereka membawa Yana pergi. apa jangan-jangan ah gak mungkin. Yana mana mau di jodohkan. tapi siapa ya sahabat Daddy dan mommy itu. aku kok jadi penasaran gini ya." gumam Yuna


__ADS_2