Diam-diam Akad

Diam-diam Akad
episode 18


__ADS_3

tok.. tok..tok...


"permisi pak, di depan ada yang ingin ketemu sama bapak? beliau bilang ada yang ingin di bicarakan." ucap Celine sopan.


kening Diaz berkerut, "perasaan aku gak ada janji ketemu siapapun saat ini, lalu ini siapa yang ingin bertemu dengan ku ya." batin Diaz penasaran.


"bagaimana pak, apa di perbolehkan untuk masuk?" tanya Celine karna tidak melihat tanggapan apapun dari bosnya itu.


Diaz tersentak kemudian dia memasang wajah datar, "baiklah suruh dia masuk."


"baik pak, permisi."


"wow, gue gak nyangka kalo ruangan Lo seperti ini." ucap seorang pria ketika masuk kedalam ruangan Diaz.


Diaz yang melihat orang tersebut langsung memutar bola matanya. Dia merasa heran kenapa manusia yang paling membuatnya muak ini berada di hadapannya. Diaz pun teringat ucapan sekretaris nya tadi bahwa orang ini ingin berbicara sesuatu, dia pun penasaran apa yang ingin di bicarakan oleh orang ini. "katakan!"


orang tersebut berdecak. "ck.. masih sama seperti dulu. tidak pernah bisa basa basi dulu langsung to the point aja. padahal kita udah lama gak ketemu dan saling bicara. Lo gak kangen gitu sama gue."


Diaz menatap tajam kearah orang itu. "jangan buang waktu gue, katanya Lo ada yang di bicarakan sama gue jadi cepat apa yang mau Lo bilang."


"gak ada yang penting sih sebenarnya hanya saja gue kangen sama Lo kak, makanya gue kemari. gak apa-apa kan kalo gue ke tempat sepupu gue yang paling gue sayangi ini."


Diaz menyeringai sinis mendengar ucapan Dion, ya yang datang menemui Diaz adalah Dion sepupu Diaz. "apa yang Lo inginkan, gue tau bukan itu maksud Lo berada di sini dan gue juga tau kalo Lo adalah orang yang selalu mencari muka di depan orang lain, kenapa? Lo gak punya muka ya makanya sering cari muka gitu." sarkas Diaz.

__ADS_1


"wow itu kalimat terpanjang yang pernah gue dengan dari mulut Lo kak, yah.. walaupun sedikit pedas dan tajam sih ucapannya. but it's ok. itu tandanya Lo juga manusia. bukan robot yang kalau di ajak ngomong jawabnya paling satu kata doang."


"ck..."


"baiklah.. baik. jangan marah-marah terus kak. nanti yang ada kakak cepat tua dan gak bakal ada yang mau sama kakak."


Diaz menatap tajam Dion.


"bercanda, aela itu gak bisa banget di ajak bercanda. hidup Lo terlalu kaku kak makanya gue ingin Lo lebih menikmati hidup ini."


Diaz sudah berada di titik kesabaran nya langsung bangkit dari kursinya, "keluar."


Dion tersentak mendengar ucapan dingin Diaz. kemudian menetralkan wajahnya. dia merasa kakinya sedikit kaku, susah untuk di gerakan. "kak, apa kakak membenciku juga? apa aku gak bisa merasa bagaimana rasanya memiliki saudara? bahkan adik kandungku sendiri aja menjaga jarak dengan ku. apa salahku sih sebenarnya. aku hanya ingin kita memiliki hubungan yang selayaknya hubungan saudara, apakah permintaan ku itu terlalu berat ya." batin Dion tersenyum kecut.


tok..tok..tok..


"permisi bos, anda memanggil saya?" ucap Toni.


"mmm... tolong kamu bawa orang ini keluar dari ruangan ini, karna pekerjaan saya terbengkalai karna mendengar ocehannya yang tak berbobot itu." ucap Diaz dingin.


Dion tersentak, sementara Toni melihat kearah Dion. Toni merasa bingung, apakah dia harus mengikuti perintah Diaz untuk mengusir Dion atau.. ah pusing sendiri memikirkan nya. tapi kalau gak di ikutin nanti dia malah kena masalah. Toni menghembuskan nafas kasar. Dion yang melihat Toni seperti kebingungan pun merasa tidak enak, dia pun berinisiatif untuk pergi. "baiklah kak, kayaknya kehadiran ku disini membuat pekerjaan kakak tertunda. maafkan aku ya. kalau begitu aku permisi dulu." ucap Dion berlalu dari ruangan tersebut.


Diaz dan Toni melihat kepergian Dion dengan ekspresi yang berbeda, Diaz dengan wajah dingin dan datarnya sementara Toni dengan wajah yang sulit diartikan.

__ADS_1


"keluarlah,"


"baik bos, permisi."


sementara disisi lain Dion berjalan dengan raut wajah yang sulit diartikan, sesekali ia menghembuskan nafas kasar, diapun berhenti di restoran dekat perusahaan kakak sepupunya itu.


"apa salahku sih, kenapa mereka menjauhiku seolah-olah aku adalah orang yang sangat menjijikkan. aku juga ingin memiliki hubungan persaudaraan seperti yang lainnya." gumam Dion tersenyum miris.


kring...kring..kring...


Dion melihat siapa yang menelpon nya. "iya uncle. ada apa? tumben uncle nelpon Dion siang hari begini?"


....


"Dion lagi di dekat perusahaan kak Diaz uncle, kenapa kian?"


....


"hehehe.. uncle tenang saja. Dion gak bakal menganggu kak Diaz kok. lagian emang Dion berani menganggu kulkas 100 pintu itu."


...


"Dion cuma lagi main-main aja. bosen gak ada kerjaan. uncle sih ntah ngapain lah Dion di suruh ke Indonesia."

__ADS_1


....


"iya uncle. Dion meluncur sekarang juga." Dion menutup panggilan telpon dari Dimas, kemudian bergegas pergi ke tujuan dia berikutnya.


__ADS_2