
Perusahaan Kusuma adalah perusahaan ke 2 terbesar di negara itu, ditengah kesibukannya, Adrian masih sempat memikirkan apa yang di bicarakan istrinya tadi pagi, ia juga merasa sang putri menjauhi mereka. ia harus memikirkan cara untuk membuat putrinya menjadi orang yang terbuka. selama ini dia tidak pernah melihat adanya ekspresi pada wajah sang anak selain datar. Dia bahkan tidak tau apa yang saat ini di rasakan oleh putrinya itu.
akhirnya dia menelpon seseorang yang selama ini membantunya untuk mencari tahu sesuatu. "saya memiliki tugas untukmu, tolong cari tau segalanya tentang seseorang. nanti akan saya kirimkan fotonya. saya ingin tau segalanya, jangan ada satu pun yang terlewat kan." tukas Adrian kepada seseorang diseberang sana.
"bapak tenang saja, saya akan kerjakan apa yang bapak minta dan saya tidak akan pernah mengecewakan bapak." jawab orang itu.
"bagus, saya tidak salah kalau selama ini menggunakan jasamu." ucap Adrian tegas.
"terima kasih bapak sudah mempercayai saya dan untuk apa yang bapak minta, saya akan memberikan informasinya 2 hari dari sekarang."
"baiklah, saya tunggu kabarnya." ucap Adrian sembari menutup telponnya.
tok... tok...tok....
"masuk"
"Permisi pak, ada yang mencari bapak," ucap Adit, asisten sekaligus tangan kanannya.
"siapa ya dit? saya tidak merasa ada yang membuat janji dengan saya?" tanya Adrian heran karna di jadwal tidak yang membuat janji untuk bertemu dengannya.
"saya tidak tahu pak, tapi kata beliau nanti bapak akan mengenal nya ketika sudah bertemu."
"baiklah, persilahkan saja masuk." ujar Adrian yang penasaran dengan tamu yang ingin bertemu dengannya itu.
" baik pak, saya permisi dulu." ucap Adit sembari berlalu keluar dari ruangan CEO. Adit pun menghampiri tamu mereka dan mengatakan bahwa orang tersebut boleh menemui sang atasan.
orang itu berjalan memasuki ruangan setelah mengetuk pintu, "lama tidak bertemu ya Adrian?" sarkas orang tersebut.
Adrian yang merasa mengenali suara orang yang berbicara, seketika mengangkat wajahnya dan matanya membulat melihat siapa yang saat ini ada di hadapannya.
__ADS_1
"Wiguna, Dimas Arya Wiguna. wah.. wah.. angin apa yang membuat seorang CEO besar datang ke perusahaan kecil ku ini." ucap Adrian berdiri dan mengulurkan tangannya.
Dimas yang melihat tangan terulur di depannya, segera ia jabat dan mereka pun tertawa bersama.
"silahkan duduk, wah ini seperti keberuntungan akan menyambangi perusahaan Kusuma." gurau Adrian.
"sudah lama sekali kita gak bertemu ya."
"iya, itu semua karena ada seorang laki-laki yang melarikan diri dari sini dan tak pernah pulang. bahkan aku berpikir kalau kamu gak tau jalan pulang." Adrian meledek sahabatnya itu.
ya, mereka adalah sahabat ketika mereka menempuh studi di London dulu. karena mereka sama-sama berasal dari negara yang sama, akhirnya mereka pun bersahabat. bahkan hingga saat ini hubungan persahabatan mereka masih terjalin. Pernah beberapa kali Adrian dan istrinya mengunjungi Dimas diluar negeri.
Dimas mendengus mendengar ledekan sang sahabat dan ia tak meresponnya.
"bagaimana perasaanmu saat ini? sudah membaik atau masih terasa sakit" tanya Adrian serius
"perasaanku sudah lebih baik, dan aku sudah menerima takdirku saat ini. tapi saat ini aku bingung dan merasa sedih." ucap Dimas dengan mata berkaca-kaca.
"kamu tau kan kalo aku memiliki seorang anak, dan apakah kamu tau kalo selama ini, aku ninggalin dia seorang diri. aku bingung bagaimana aku menebus apa yang sudah aku lakukan padanya." Dimas merasa telah menjadi seorang ayah yang sang kejam terhadap anaknya.
Adrian langsung terdiam, ternyata permasalahan mereka sama, yaitu tentang anak, bagaimana ia mau memberikan solusi sedangkan ia juga belum menemukan solusi terhadap masalah nya.
"hei ada apa denganmu, kenapa ekspresi mu seperti itu" ucap Dimas yang melihat ekspresi sang sahabat.
Adrian tersentak kemudian ia berusaha mengendalikan diri, lalu tersenyum, "aku gak apa-apa, Oia kamu udah bertemu anakmu?"
Dimas hanya menatap intens Adrian, kemudian mengangguk kepala tanda kalo ia tau Adrian sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan ia tidak bisa memaksa agar Adrian mau bercerita kepada nya, kemudian dia menyeringai lalu beranjak pergi.
Adrian yang melihat itu merasa aneh dengan tindakan Dimas. "aneh banget tuh orang, kirain setelah lama melarikan diri, dia sedikit waras, lah ini malah makin melenceng." gerutu Adrian.
__ADS_1
.....................
"Yun, kamu kenapa? mukamu pucat banget." Dinda mendekati Yuna kemudian dia memegang badan Yuna ketika Yuna hendak terjatuh. "astaga Yun badan kamu panas banget." teriak Dinda panik.
"aku gak apa-apa Din, aku cuma ingin istirahat saja," ujar Yuna pelan.
"tapi.."
"diam lah.. kepalaku jadi semakin sakit mendengar suaramu. jangan lebay, aku hanya butuh istirahat."bentak Yuna langsung memotong perkataan Dinda, karna ia tau kalo di biarkan akan merembet kemana-mana dan ia sedang tidak ingin mendengar omelan.
Dinda terkesiap seketika mendengar suara Yuna yang mengatakan ia lebay padahal ia begitu juga karena ia sayang dan peduli tapi sepertinya kepedulian tidak di anggap. kemudian Dinda melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar dari sana, setelah pintu ruangan itu tutup. Dinda terduduk dan air mata yang ia tahan tadi akhirnya tumpah juga. ia menangis menumpahkan sesak yang dirasakan.
"kak Dinda, kakak kenapa disini? kok gak masuk kedalam, loh.. loh kok nangis.." ucap seorang gadis, Chelsea Andini. ia terkejut melihat manajer Yuna terduduk di depan pintu dan sedang menangis.
Dinda langsung menghapus air matanya, dan berdiri, "Yuna lagi istirahat, jadi aku gak ingin ganggu waktu istirahatnya."
"terus kak Dinda kenapa menangis? apa kak Yuna marahi kakak?" tanya Chelsea penasaran.
"tidak, tidak ada yang marahi aku kok, tadi itu matanya kelilipan, iya kelilipan." ujar Dinda gelagapan.
Chelsea menatap intens Dinda dan itu membuat Dinda salting, kemudian Chelsea mengangguk kepala, "baiklah, Oia gimana kalo kita cari makan yuk kak. aku lapar dan ingin nyari makan di luar. kakak pasti belum makan kan.
"chel, ayo... katanya lapar, dari tadi di tungguin di parkiran. eh malah nyangkut di sini." ucap manajer Chelsea, Syifa Ayuna.
"eh maaf kak, udah buat kakak nunggu, Oia kak, kita nambah satu personil gak apa-apa kan?" tanya Chelsea.
"siapa?" tanya Syifa bingung.
"kak Dinda, gak apa-apa kan? Oia kak Dinda jadi ikut kita kan?
__ADS_1
"kalo aku sih gak masalah, gimana kak Dinda nya aja. kalo mau ikut ya ayo, lebih rame lebih seru." ucap Syifa.
"boleh, kebetulan aku juga lagi lapar." ucap Dinda.