
POV Yana
Hari ini adalah hari dimana aku akan bertemu dengan orang yang ingin bertemu denganku. aku sungguh penasaran siapakah dia? karna selama hidupku, aku tidak pernah berhubungan dengan orang lain selain Diana, itupun karna dia selalu mengangguku dan itu membuat ku merasa di teror.
"setelah ini kamu sibuk gak Yan?" tanya Diana seperti biasa selalu menanyakan tentang apa yang akan aku lakukan setelah selesai mengajar.
"sekarang tidak, tapi nanti malam aku mau ketemu sama orang."
Diana kelihatan senang, ah dia pasti berpikir yang tidak-tidak. aku tau karna melihat wajahnya yang sedang menggodaku.
"siapa? Diaz ya? kalian benaran berkencan ya?"
aku mendengus dan kemudian dengan raut wajah datar seperti biasanya, "tidak. kata orang tua ku ada yang ingin bertemu dengan ku, sahabat mereka. jadi mau tidak mau aku harus ikut pertemuan itu."
"mungkin ada udang di balik batu yang mendasari pertemuan itu." ucap Diana.
aku sebenarnya juga berpikir seperti itu, tapi aku gak ingin sahabat orang tua ku menilai buruk tentang keluarga mereka. jadi aku akan tetap datang. kalaupun nanti ada udang di balik batu, aku akan menolak dengan cara yang halus dan itu sudah aku pikirkan.
POV author
"Yan, yah malah melamun dia. hei Yan, kebiasaan banget ni anak." gerutu Diana.
Yana tersentak kemudian menatap tajam Diana, "ada apa?"
"hehehe... gak ada yan, yaudah semoga pertemuannya lancar ya." ucap Diana kikuk dan bergegas pergi sebelum ia membangunkan singa yang sedang tertidur.
Yana mengangkat alis melihat Diana yang meninggalkannya seorang diri, "kenapa tu anak, gak biasanya dia pergi sendiri. biasanya dia pasti merecoki aku dulu dan memaksaku untuk pergi dengannya. tumben banget." batin Yana heran.
__ADS_1
......................
POV Diaz
Hari ini ya.. hari dimana aku bakal bertemu dengan pujaan ku, dan aku juga tau ada maksud tersembunyi dari pertemuan ini. aku tidak akan menolak jika apa yang sedang aku pikirkan itu yang terjadi. Yana.. ya gadis itu. hanya gadis itu yang selalu ada di pikiranku. seandainya bisa aku ingin segera mengikatnya menjadi milikku agar aku bisa selalu bersama dengan nya. baru saat ini aku merasa begitu bahagia setelah rasa itu hilang beberapa tahun yang lalu. mengingat itu terkadang masih membuat sedih dan marah. sedih karena aku kehilangan cinta pertama ku yaitu mommy, dan marah karna aku juga kehilangan figur seorang ayah di proses tumbuh kembangku. aku tau kalau dia terpukul dan sedih karena kepergian mommy yang mendadak tapi ia juga tidak bisa melupakan tanggung jawabnya.
POV author
"Diaz. I Miss you so much. aku begitu merindukanmu, kenapa kamu gak menjemput ku ke bandara sih. ternyata setelah sekian lama tidak bertemu, kamu tetap tidak pernah berubah ya." gerutu seorang gadis yang sedang memeluk Diaz.
"pak maaf, tadi saya sudah melarangnya masuk karna nona ini belum membuat janji terlebih dahulu." ucap Celine menunduk.
gadis itu mencibir Celine, "sekretaris Diaz menyebalkan sekali, beraninya dia menghalangiku untuk menemui Diaz. dia belum tau aja aku siapa. huh.." batin gadis itu.
"sudah tidak apa-apa Celine, kamu boleh kembali ke tempatmu."
"baik pak, saya permisi dulu." ucap Celine.
"ada perlu apa kamu kesini Ayesha?" tanya Diaz dingin.
"cih, males banget liat mukamu yang gak punya ekspresi itu. bisa gak sih itu muka di kondisikan dulu. lagian aku pulang juga bukan untuk kamu." cibir gadis yang bernama Ayesha, sepupu Diaz.
Diaz mendengus..
"Oia gimana kabar Andika, apakah dia masih tetap sama seperti sebelumnya. aku merindukannya." ucap Ayesha sendu.
Sepupunya selalu ceria tapi kini ia terlihat sedih, ia menghela napas, "kabarnya baik dan perlu aku ingatkan, yang membuat dia seperti itu siapa?"
__ADS_1
"apakah kalau aku berniat kembali, dia akan menerimanya? aku tau, kalau aku salah karna lebih memilih karirku di bandingkan hubungan yang telah aku jalani selama ini. bagaimana menurut kak?" ucap Ayesha.
"aku gak tau yesh, coba sajalah. tapi aku mau mengingatkan, jangan terlalu banyak berharap. karna kamu yang sudah membuatnya seperti ini. Oia kamu sendiri yang pulang ke Indonesia atau bareng keluarga mu" ketika Diaz melihat wajah Ayesha yang semakin sedih, mengalihkan pembicaraannya.
"tidak.. aku pulang sama kak Dion. kenapa kak?" ucap Ayesha yang heran melihat ekspresi Diaz yang berubah.
Diaz terdiam, "sepertinya pak tua itu tidak main-main dengan ucapannya ya. cihhh.. jangan pernah berharap kalau aku akan melepaskan Yana untuk keponakanmu itu." batin Diaz.
"kak, are you ok?" tanya Ayesha.
Diaz mendengus, " i'm ok."
"Oia kak, kata uncle nanti malam ada dinner dengan sahabat nya ya dan kakak di ikut sertakan ya. hmmm roman-romannya bakalan ada perjodohan nih." goda Ayesha.
Diaz tersenyum sangat tipis, "terus kamu diajak juga gak sama pak tua itu?"
"pak tua? sampai kapan kakak akan memanggil uncle begitu. apa kakak gak ingin memperbaiki hubungan kalian?" Ayesha tau apa yang dirasakan oleh Diaz. karna ia juga mengalaminya. "aku tau kak, aku tau bagaimana sakitnya ketika kita di acuhkan. ketika kita seakan tak terlihat padahal kita berada di hadapannya. aku selama ini berusaha membuktikan bahwa aku ingin membuat mereka bangga terhadapku tapi tetap saja mereka gak pernah melihatku sedikit pun. dan bodohnya aku, aku melepaskan orang yang benar-benar tulus hanya karena ingin mendapatkan pengakuan kedua orang tuaku. mudah-mudahan saja aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Andika, ya walaupun aku tau itu bakalan susah. tapi aku ingin berusaha selama dia belum bersama yang lain." batin Ayesha.
"kamu melamunin apa sih, dari tadi di panggilin gak nyahut."
Ayesha memaksakan tersenyum, " tidak kak, aku hanya memikirkan apa yang akan terjadi saat dinner nanti."
"kamu belum menjawab pertanyaanku."
"pertanyaan yang mana kak. perasaan kakak gak nanya apa-apa kok." ucap Ayesha bingung.
Diaz memutar bola matanya. "terserah."
__ADS_1
"jangan marah-marah kak, ntar kakak cepat tua, malah kakak di sangka adiknya uncle loh." goda Ayesha kabur.
Diaz geleng kepala melihat tingkat adik sepupunya itu. "kak senang melihatmu yang ceria, kakak juga tau kalau kamu juga mengalami apa yang kakak rasakan. tapi yang kakak sayangkan adalah kenapa kamu mengorbankan orang yang tulus padamu hanya demi orang yang tak pernah melihat mu." batin Diaz.