
"mau kemana?" tanya Yusuf ketika melihat Yana yang sepertinya sudah hendak pergi.
langkah Yana terhenti sejenak ia melihat ke arah kakaknya lalu ia melanjutkan langkah kakinya.
"kamu mau kemana nak?" tanya Adrian.
"pergi."
"iya kemana nak, ini udah malam, gak baik anak gadis keluyuran malam-malam."nasihat Adrian lembut.
Yana yang mendengar itu hanya menatap jengah ke arah sang ayah, "sok caper banget." gumam Yana pelan.
Adrian bukan tidak mendengar apa yang Yana ucapkan, tapi ia berusaha menghiraukannya. lalu ia tersenyum lembut dan mendekati Yana, "jadi kamu mau kemana? diantar sama kak Yusuf ya nak?"
"gak perlu, aku bisa pergi sendiri"
"udah kakak antar aja ya dek, kamu jangan pergi sendirian apalagi ini sudah malam." ucap Yusuf lembut.
"terserah." dengus Yana.
Adrian yang melihat semua ekspresi putrinya itu hanya bisa menghela napas, dia tidak marah kepada sang anak, karna dia tau kalo itu semua akibat dari perbuatan mereka selama ini.
"Daddy, are you ok? kenapa Daddy nangis?" tanya Yuna melihat Adrian mengusap air matanya.
"eh, Daddy ok princess, don't worry." ucap Adrian dengan senyum terpaksa.
"baiklah dad, Yuna mau ke kamar dulu. Oia dad, mommy tadi manggil Daddy." pamit Yuna berlalu.
Sesampainya di kamar, Yuna langsung menuju balkon dan ia menatap langit malam yang penuh dengan bintang, ia jadi teringat masa kecilnya, ia dan Yana sangat menyukai bintang.
POV Yuna
__ADS_1
Aku tau apa yang terjadi tadi, yang membuat Daddy menangis, tapi aku menganggukkan kepalaku seolah aku percaya bahwa apa yang Daddy ucapkan itu benar.
Aku merasa kalau Yana seperti menjaga jarak dari kami semua. Dan aku juga tau semua itu karna Yuna, iya karnaku, karna aku dari kecil memiliki tubuh yang lemah sehingga membutuhkan perhatian lebih dan mengakibatkan saudariku terabaikan.
......................
Sedangkan di sebuah club malam yang ternama, terlihat 4 orang pria yang memiliki paras yang membuat semua wanita terpesona.
Bryan Khiel, seorang pria keturunan Belgia Jawa, dia pemilik beberapa restoran mewah dan ia juga memiliki perusahaan di bidang keamanan cyber.
Andika Wijaya, seorang pria Casanova yang setiap hari selalu berganti-ganti pasangan, dan dia memiliki motto: tidak akan ada yang bisa menolaknya. Perusahaan miliknya juga tidak kalah dengan perusahaan Wiguna dan Kusuma.
Arkana Baihaqi, putra seorang ustadz yang terkenal tapi lihat lah kelakuannya, dia tidak pernah mau kalau hidupnya terkekang aturan yang menurut nya kuno sekali. ia juga telah berhasil merintis bisnisnya setelah ia keluar dari rumah. ia pemilik supermarket di beberapa daerah.
"wah liat lah siapa yang datang, seorang pengusaha yang selalu sibuk, tapi hari ini dia bisa meluangkan waktunya untuk ketemu dengan kita." ucap Bryan Khiel.
"iya, ada angin apa tuan muda Wiguna mau membuang waktunya untuk kita-kita." ucap Andika Wijaya.
"gue lagi gabut hari ini, makanya butuh refreshing." ucap Diaz datar.
"jangan Lo ganggu macan yang sedang tertidur Baihaqi." ucap Bryan.
"nama gue Arkana, dan panggil gue itu. Lo ngerti gak sih." Arkana paling tidak suka kalau dia di panggil dengan nama Baihaqi, karna baginya nama itu terlalu suci untuk dia yang brengsek.
"lah, salahnya dimana? nama Lo kan Arkana Baihaqi, kalau gue mau manggil Baihaqi ya itu terserah gue lah, mulut juga mulut gue, kok Lo yang sewot sih." omel Bryan.
"mulut emang mulut Lo tapi yang punya nama itu gue dan gue gak suka di panggil seperti itu." ucap Arkana ketus.
"kalian pada bisa diam gak sih, asal ketemu pasti ribut, ada aja yang kalian ributkan." ucap Andika dingin.
Arkana dan Bryan terdiam.
__ADS_1
"Diaz, Lo udah mabuk jangan minum lagi. ntar Lo gimana pulangnya." Andika merebut gelas yang dipegang oleh Diaz.
"gue gak mabuk, gue masih sadar. Lo kali yang mabuk." kilah Diaz.
"terserah, ini lagi bukannya bantuin malah ikutan mabuk."ucap Andika melihat Arkana dan Bryan yang saat ini sedang teler.
"aduh kepalaku pusing," gumam Diaz memegang kepalanya.
"gue duluan ya, kepala gue nyut-nyutan." ucap Diaz berjalan ninggalin ketiga sahabatnya.
"eh emang Lo bisa nyetir sendiri. mending telpon asisten Lo deh, ntar yang ada Lo nabrak orang gimana?" Andika berusaha menahan Diaz yang sedang berjalan sempoyongan.
"gak perlu, gue masih sanggup buat nyetir kok, Lo tenang aja dan gak perlu nelpon Toni."
"Lo yakin? atau gini aja lah gue yang nganterin tapi tunggu dulu, kita urus dulu dua anak ini." ucap Andika menunjuk Arkana dan Bryan yang sudah pingsan karna kebanyakan minum.
"gak usah, gue bisa pulang sendiri." Diaz terus berjalan menuju parkiran.
......................
Sementara dilain tempat, Yana dan Yusuf berjalan memasuki supermarket, Yusuf terus mengikuti sang adik meskipun Yana tidak menanggapi keberadaannya. Setelah semua barang yang ingin di beli ia dapatkan, ia menuju kasir dan hendak membayarnya tetapi ada sebuah tangan yang mendahuluinya.
Yana menatap malas ke arah Yusuf, "tidak perlu sok baik, gue masih sanggup buat membayarnya."
Yusuf tersenyum lembut dan mengelus rambut adiknya, "gak ada yang bilang kamu gak bisa bayar sayang, kakak hanya ingin membayarkan belanjaan adik kesayangan kakak ini."
Yana mendengus mendengar ucapan kakaknya itu, sedangkan Yusuf yang melihat itu hanya tertawa pelan dan geleng kepala. setelah pembayaran telah selesai, Yusuf juga mengangkat barang belanjaan adiknya itu ke mobil mereka. sepanjang perjalanan mereka hanya diam, sesekali Yusuf melirik adiknya. Yana yang menyadari kalau sedari tadi Yusuf mencuri pandang padanya hanya bersikap acuh tak peduli.
"gimana dengan pekerjaan mu dek? apa ada masalah atau baik-baik saja?" ucap Yusuf berusaha mencairkan suasana.
"baik." ucap Yana singkat.
__ADS_1
"kalau ada apa-apa jangan sungkan buat ngomong sama kakak ya dek." Yusuf berharap kalau adiknya ini mau melibatkan dia kalau yana sedang ada masalah, dan ia berjanji akan membantu sang adik, ia bahkan rela melakukan apapun untuk adiknya ini.
"hmm"