
Yana terdiam di parkiran ketika ia dan Diana tiba di sebuah mall. Tubuhnya serasa kaku seperti gak bisa di gerakkan.
"ayo, mau sampai kapan kita di parkiran terus. kita udah nyampe dari tadi loh." Diana merasa heran karna dari tadi Yana seperti terpaku di tempat.
Yana tersentak kemudian wajahnya kembali datar lalu ia berbalik hendak memasuki mobilnya tapi sebelum itu terjadi ternyata Diana menahan tangannya, "loh kamu mau kemana, kita udah nyampe."
"ganti.."
"ganti?" tanya Diana bingung.
Yana hanya diam dengan wajah datar andalannya.
"apa yang di ganti, please deh yan kalo ngomong itu jangan satu kata aja, aku mana ngerti." ucap Diana greget.
Yana mendengus dan membuka pintu mobil.
"eh.. eh... tunggu dulu sih, sebenarnya kamu mau kemana. kita udah nyampe kok malah balik lagi." Diana menutup kembali pintu mobil Yana.
Yana menatap tajam Diana, Diana merasa sedikit takut melihat tatapan Yana. tapi ia harus tau apa alasan Yana tidak mau masuk ke dalam mall tersebut padahal mereka sudah sampai disana.
Dengan suara dingin Yana bertanya, "kenapa kesini?"
Berkerut kening Diana mendengar pertanyaan Yana, kemudian Diana memutar bola matanya, "kita kesini kan mau liat-liat siapa tau ada barang bagus, trus kenapa nanya lagi."
"kenapa kesini!" Yana mengulangi pertanyaan di sertai penekanan di setiap kata yang diucapkannya
Diana tersentak mendengar pertanyaan Yana. kemudian dengan senyum terpaksa ia berkata "maksudmu apa sih, kalo ngomong itu yang jelas lah yan, aku bukan cenayang yang bisa tau maksud dari perkataan mu."
"maksudku, kenapa harus kesini? emangnya gak ada mall yang lain selain ini?" Yana mendengus melihat kelemotan teman se profesinya itu.
__ADS_1
"memangnya ada apa dengan mall ini? ini kan salah satu mall terbesar dan juga terdekat dari tempat kerja kita. selain itu disini pastinya banyak barang bagus yang di jual." ucap Diana.
Yana terdiam.
"kasih aku alasan yang jelas ada apa dengan mall ini?" tanya Diana penasaran
Yana berbalik melihat bangunan mall, dan tatapannya terfokus pada plang nama mall tersebut. Rahangnya mengeras kemudian ia berusaha untuk mengendalikan emosi nya agar tidak ada yang tau apa yang saat ini ia rasakan. Diana yang bingung pun ikut melihat apa yang sedang di lihat oleh temannya itu. dia merasa tidak ada yang aneh dengan mall itu.
POV lamunan Yana
Mall YK, salah satu mall terbesar di kota A. Dan sekarang aku berada di mall itu, berada di tempat yang tidak pernah ingin aku datangi. kalian pasti bertanya kenapa bukan?
Baiklah akan aku beritahu, ini adalah mall milik keluarga Kusuma, ya seperti yang kalian pikirkan.
Mall ini milik keluargaku. YK adalah sebuah singkatan, entah itu singkatan namaku atau saudariku. Tapi kalau melihat apa yang terjadi selama ini, aku jadi ragu kalau itu singkatan namaku. karena saudariku adalah anak kesayangan kedua orang tuaku.
Dan alasan kenapa aku tidak pernah ingin ke mall ini karna para pegawai yang bekerja di sini akan memanggilku Yuna dan itu sangat menyebalkan bagiku, seakan Yana tidak pernah ada di dunia ini.
"hei yan, Yana... kok malah melamun sih. ini anak, hobi banget sih melamun, Yan.. Yana.." Diana melambaikan tangan di depan muka Yana kemudian menjentikkan jarinya agar menyadarkan Yana dari lamunannya. "lagian kamu ngelamunin apa sih, dari tadi aku panggil gak nyahut loh."
Yana tersentak kemudian menatap datar Diana. "ganti, kalo masih mau ditemani." suara Yana menjadi lebih dingin dari biasanya.
Diana menghembuskan napas, "baiklah.. baik, you win, jadi kemana kita sekarang. kamu aja yang tentukan." Diana berusaha mengalah.
Yana berjalan menuju mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan mall tersebut. sementara Diana setia mengikutinya.
......................
drrttt....drrttt...drrtttt... (suara dering hp)
__ADS_1
"Assalamualaikum umi" jawab seorang laki-laki yang baru saja menginjakkan kakinya di bandara kota A.
"wa'alaikumussalam Zain, kamu ada dimana. umi dan Aisyah sudah nungguin kamu dari tadi." ucap wanita paruh baya diseberang sana. Umi Hamidah, itu adalah nama beliau.
Zain Ibrahim, laki-laki lulusan S2 Al Azhar Kairo. 7 tahun yang lalu ia meninggalkan negaranya untuk melanjutkan studinya dan hari ini adalah hari kepulangannya.
Zain tersenyum lembut mendengar suara yang sangat ia dirindukan dan melanjutkan langkahnya namun dia berhenti ketika ia sudah melihat sang ibu dan menutup telponnya, "Zain sudah di sini umi." Umi Hamidah melihat anaknya sudah berada di depannya dan ia langsung memeluk putra yang sangat dirindukannya.
"sudah lama sekali Zain, akhirnya kamu pulang juga. umi pikir kamu gak tau jalan pulang." umi Hamidah melepaskan pelukannya dan menjewer telinga putranya.
"aduh... aduh, sakit umi. iya maaf umi, Zain tau kalau Zain salah, tapi Zain disana buat belajar umi dan Zain ingin segera menyelesaikan studi Zain makanya Zain gak pulang. umi tau Zain sangat merindukan umi dan Aisyah" bujuk Zain kepada uminya, "tapi umi, Ais kemana umi? tadi kata umi kalau umi kesini dengan Aisyah." ucap Zain ketika melihat sang ibu yang hanya sendirian.
"iya ya Zain, adikmu itu kemana sih. tadi aja di ngomel, katanya 'kak Zain kok lama banget si umi nyampenya' sekarang kakaknya udah di sini, malah dianya yang ntah di mana."
Zian tersenyum mendengar suara omelan ibunya, karna selama di Kairo, ia sangat merindukan suara sang ibu. " yaudah umi duduk dulu, biar Zain nelpon Aisyah." sebelum Zain jadi menelpon sang adik, adiknya sudah ada dihadapan mereka.
"kamu dari mana saja ais?"
"Ais tadi beli minuman umi, Ais haus karna nunggu kakak lama banget." jelas Aisyah kemudian ia memeluk kakaknya, "kakak, ais kangen banget tau."
"kakak juga dek, kangen banget. sekarang kamu sudah besar aja ya, padahal dulu masih bocil loh pas kakak tinggalkan." gurau Zain.
"menurut kakak, apa selamanya Ais tetap kecil gitu. dan lagian ya pas kakak pergi Ais udah SMP dan sekarang Ais udah kuliah." ucap Aisyah dengan wajah cemberut.
Zain tersenyum melihat ekspresi sang adik, "iya.. iya jangan cemberut gitu tuh muka, sampai-sampai bibirnya maju 5 cm kedepan lagi. Oia Ais udah semester berapa sekarang?" mengusap kepala adiknya yang tertutup hijab.
"lagi nyusun skripsi kak, doakan semoga Ais bisa wisuda ya."
"ya sudah kita pulang ke rumah dulu. nanti aja lagi kita sambung ceritanya, kamu pasti capek kan nak?" saran umi Hamidah karena ia tau, sang anak pasti sangat capek.
__ADS_1
"baiklah, ayo kita pulang. Zain juga tau umi pasti capek kan nungguin Zain disini." Zain menggandeng sang ibu dan adiknya meninggalkan bandara tersebut.