
Mendengar apa yang di ucapkan oleh Bima membuat Neli semakin meradang.
''Eh, dasar menantu tidak berguna kamu, ya. Suami istri sama saja, sama-sama suka membantah omongan orang tua, makanya hidup kalian melarat!'' ucap Neli lantang dengan berkacak pinggang. Tidak ada puas-puasnya dia menghina keluarga kecil Dinda.
''Astaghfirullah,'' Bima mengelus dada nya. Biar bagaimanapun Neli tetaplah mertuanya, dan dia tidak ingin berdebat lagi, rasanya tidak ada gunanya, cuma buang-buang waktu saja.
''Kalian cari tukang bersih-bersih untuk acara pesta Naira besok, cari sebanyak lima orang, dan kalian yang harus membayar orang-orang tersebut. Tapi, jangan pernah kalian datang ke pesta pernikahan Naira. Malu-maluin saja! Ciuh!'' Neli berkata lagi dengan angkuh. Lalu setelah itu dia melangkahkan kakinya dengan langkah kaki lebar meninggalkan Dinda, Bima dan Bunga yang masih tidak habis pikir kenapa Neli begitu tega sama mereka. Bahkan sempat terbesit di benak Dinda, kalau dirinya bukanlah anak kandung sang mama, karena pada dasarnya tidak akan ada orang tua yang tega berkata dengan begitu kejam kepada anak nya dan tidak akan ada orang tua yang menjadikan anak nya sendiri seperti pembantu.
''Ya Allah. Maafkan Mama aku, Mas.'' Dinda merasa bersalah kepada Bima. Dia berkata dengan netra berkaca-kaca.
''Tidak apa-apa, Dek. Lagian kita 'kan sudah terbiasa diperlakukan seperti ini. Udah, tidak usah menangis.'' Bima menghapus air mata sang istri yang mulai jatuh membasahi pipi.
''Iya, Mas,'' jawab Dinda dengan suara serak.
Setelah itu Dinda pamit pulang ke rumah bersama Bunga. Sedangkan Bima masih tetap di tempat mangkal, karena ketoprak nya masih tersisa sedikit.
***
Keesokan harinya, para tetangga nampak melewati rumah Dinda, mereka memakai pakaian terbaik mereka, mau kemana lagi kalau bukan mau ke pesta pernikahan Naira.
Tadi malam Dinda sudah mencari lima orang wanita yang akan menjadi jasa tukang bersih-bersih di pesta pernikahan Naira, wanita-wanita yang merupakan janda muda yang ada di sekitaran rumah nya.
Dinda juga langsung membayar upah jasa tukang bersih-bersih tadi malam, terpaksa Dinda membuka tabungan yang selama ini mereka kumpulkan untuk membayar.
Tabungan yang lumayan banyak, dan rencananya Bima akan segera menggunakan uang itu untuk membangun ruko satu pintu dan sedikit merenovasi rumah mereka agar lebih nyaman.
__ADS_1
Bima memutuskan libur berjualan ketoprak, karena dirinya akan mengajak anak dan istrinya untuk jalan-jalan. Mereka akan jalan-jalan ke pusat kota yang ada di daerah tempat tinggal mereka. Bima tidak ingin melihat Dinda dan Bunga sedih karena tidak bisa pergi ke pesta pernikahan Naira, makanya dia berinisiatif untuk membawa anak dan istrinya jalan-jalan, agar orang yang dicintainya tidak merasa galau.
Mereka bertiga berangkat ke pusat kota dengan menggunakan motor mereka. Motor yang masih bagus karena jarang di pakai.
''Asyik, akhirnya kita bisa jalan-jalan,'' Bunga berucap dengan nada suara yang riang. Wajahnya tersenyum senang. Rambut nya yang di kuncir dua beterbangan terkena hembusan angin.
''Bunga mau beli apa nanti?'' tanya Bima. Tatapan mata Bima fokus ke depan melihat jalan raya, dan sesekali ia mengecup pucuk kepala Bunga, karena Bunga duduk di bagian depan motor. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan.
''Apa aja deh,'' jawab Bunga lagi. Dinda yang duduk di belakang Bima hanya diam, dia menyimak obrolan kecil antara anak dan suaminya itu. Sudut bibirnya tertarik ke dalam, meskipun di sudut hatinya ada yang nyeri bila mengingat saat ini di rumah orang tuanya sedang ada pesta dan dia tidak boleh hadir di sana, tapi Dinda mencoba untuk menikmati perjalanan nya dengan keluarga kecilnya, ia membuang jauh-jauh ingatannya tentang Mama, Kakak dan Adik nya yang tak pernah menganggap nya ada, karena hal itu hanya membuat dirinya merasa sakit.
Tidak lama setelah itu mereka tiba di depan sebuah gedung bertingkat tiga. Gedung yang menjual apa saja di dalam nya.
Mereka memarkirkan motor di parkiran, setelah itu mereka bertiga berjalan memasuki gedung yang nampak ramai itu dengan saling berdampingan. Bunga berada di gendongan sang Ayah, sedangkan Dinda melingkarkan tangannya pada lengan kekar sang suami. Mereka nampak seperti keluarga kecil yang begitu harmonis. Senyuman bahagia terpancar di wajah ketiga nya.
Bima mengajak Dinda masuk ke toko yang menjual gamis dan jilbab terlebih dahulu, karena Bima ingin Dinda menambah koleksi gamis dan jilbabnya untuk pakaian ganti.
''Semua nya pada bagus-bagus, Mas, aku jadi bingung harus ambil yang mana,'' sahut Dinda. Dinda sedang melihat gamis-gamis yang melekat pada manekin dan gamis-gamis yang menggantung pada hanger.
''Ya udah, ambil semuanya aja,'' goda Bima.
''Ih kamu, kebanyakkan kalau semuanya, Mas. Mubasir,''
''Hehehe ...,'' Bima hanya menyahut ucapan sang istri dengan kekehan kecil.
''Mas,'' panggil Dinda lagi, ia menunjuk gamis bewarna wardah yang nampak indah.
__ADS_1
''Ambil saja, Dek.''
''Tapi harganya,'' Dinda berucap ragu.
''Tidak apa-apa. Kita tidak boleh hemat-hemat amat. Sesekali beli lah sesuatu yang bisa membuat kita senang,''
''Baiklah, Mas.'' Ucap Dinda lagi. Setelah itu ia meminta pelayan toko untuk mengambil gamis itu. Dengan cepat pelayan toko mengambil nya dan memberikan nya pada Dinda. Dinda mencoba gamis itu di ruang ganti, dan saat gamis itu sudah melekat sempurna pada tubuhnya yang ideal, ia tersenyum senang, karena dirinya terlihat begitu anggun memakai gamis itu.
Bima dan Bunga yang melihat pun memuji kecantikan Dinda.
Setelah itu Dinda melepaskan gamis itu lagi, ia akan segera membayar nya pada kasir. Berulangkali Bima meminta agar sang istri membeli beberapa gamis lagi, tapi Dinda menolak dengan halus. Dinda bukanlah tipekal wanita yang suka berfoya-foya, ia akan membeli apa yang dirasanya di butuhkan saja.
''Beli baju untuk Bunga lagi, ya. Beli yang warna pink dan gambar boneka yang besar,'' ucap Bunga saat mereka keluar dari toko gamis.
''Baiklah anak manis,'' sahut Dinda. Dinda sudah menjinjing paper bag. Mereka sudah membayar gamis itu.
Saat mereka akan berjalan ke toko pakaian yang menjual pakaian anak-anak, tiba-tiba saja tidak sengaja tubuh Dinda menabrak tubuh seseorang, hingga orang itu terjungkal karenanya.
Dinda yang merasa begitu bersalah dengan cepat membantu orang itu berdiri.
''Maafkan aku, Bu.'' Ucap Dinda merasa bersalah. Orang yang di tabrak nya adalah wanita sepantaran mama nya, wanita yang memakai pakaian tertutup seperti dirinya.
''Tidak apa-apa, Ibu juga bersalah karena Ibu yang berjalan dengan terburu-buru,'' balas wanita itu, ia masih sibuk membereskan jilbabnya yang tadinya hampir lepas. Setelah selesai membereskan letak jilbabnya, wanita itu lalu menatap Dinda. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda.
''Ya Allah, kamu, kamu ...,'' wanita itu berucap dengan netra berkaca-kaca, ia repleks menyentuh pipi Dinda dengan tangan nya. Dinda merasa heran karena wanita itu menatapnya dengan begitu dalam. Bima pun sama herannya.
__ADS_1
Bersambung.